
Rebeca yang mendengar suara lolongan serigala langsung bergidik ngeri dan mengeratkan pelukannya pada sang suami. "Seharusnya Sunny membawa kita ke dunia liontin, dan menunggu mereka di sana, aku sangat takut berada di sini." Rebeca semakin mengeratkan pelukannya pada Rudolf. "Sudahlah tenangkan dirimu, asalkan kita menuruti semua perkataan Nenek Ero, semua akan baik-baik saja," ucap Rudolf meyakinkan sang istri yang masih merasa ketakutan.
Sebelum Nenek Ero melangkah masuk, Nenek Ero memberikan pesan kepada Rudolf agar selalu duduk diam di bangku kayu panjang yang sudah di siapkan dan di beri portal olehnya. Jangan terpengaruh oleh makhluk-makhluk yang berkeliaran di sekitar hutan lumut merah, karena pada saat bulan purnama merah terjadi akan banyak makhluk-makhluk menyeramkan dan roh-roh jahat yang mengitari hutan lumut merah. Hutan lumut merah adalah pusat dari kekuatan roh jahat.
Rudolf sebenarnya takut tetapi demi sang istri, Rudolf berusaha menahan rasa takutnya. Dirinya tak bisa membayangkan akan seseram apa makhluk yang ada di hadapannya nanti. "Matilda, kau ingat pesan yang di berikan oleh Nenek Ero? Kau harus tetap duduk di bangku ini, apapun yang terjadi," ucap Rudolf dengan tegas. "Baik, Tuan, akan saya ingat dengan baik," ucap Matilda yang sebenarnya ada rasa takut juga di dalam hatinya.
Suara lolongan serigala terdengar beberapa kali. 'Apakah Dareen kembali berubah menjadi monster itu lagi?' tanya Rudolf dalam hati. Rudolf masih mengingat jelas dirinya pernah mendengar suara lolongan itu saat Dareen pertama kali berubah menjadi makhluk kutukan itu.
__ADS_1
Rudolf mengingat saat Dareen berubah menjadi monster serigala itu. Dengan bola mata besar yang berwarna merah menyala, gigi taring panjangnya yang terlihat keluar dari moncong mulutnya. Tubuh tinggi besar dengan bulu-bulu panjang berwarna hitam pekat yang terlihat sangat kuat dan bertenaga. Juga kuku-kuku panjangnya yang ada di kedua tangan dan kakinya. Rudolf bergidik ngeri saat mengingat putra semata wayangnya itu berubah menjadi monster serigala. Dirinya berharap semuanya akan berjalan lancar dan sesuai rencana.
...******...
Di dalam hutan, lebih tepatnya di dalam rumah kayu. Revan dan Bastian berdiri di depan peti kaca yang di dalamnya terbaring seorang gadis cantik yaitu Revina. Bastian menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Revan saat ini sedang duduk bersila setelah memerintahkan Bastian untuk berdiri di sebelah peti kaca yang lain. Dirinya akan memanggil sang iblis karena sebentar lagi bulan purnama merah akan tertutup sempurna. Revan merapalkan sebuah mantra dan seketika itu juga muncul kepulan asap berwarna hitam.
__ADS_1
Perlahan kepulan asap hitam itu berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Sosok menyeramkan itu muncul dengan memakai jubah dan berwajah hitam, warna merah pada kedua mata dan kedua tanduk di kepalanya, serta membawa tongkat memanjang yang berbentuk ular dan pada bagian ujung tongkat terdapat batu permata berwarna merah darah, jangan lupakan juga ekornya yang menjuntai hingga ke lantai dengan ujungnya yang lancip menyerupai anak panah.
Bastian yang melihat penampakan makhluk yang sangat mengerikan itu hanya bisa membelalakkan kedua bola matanya dan membuka lebar mulutnya. Bastian mengeratkan pegangan tangannya pada peti kaca, dirinya takut kalau makhluk menyeramkan itu akan mengambil Revina. Sebisa mungkin Bastian akan melindungi Revina agar makhluk menyeramkan dihadapannya ini tidak mengambil Revina.
Bastian tidak ingin kehilangan Revina lagi. Sekarang dirinya akan benar-benar menjaga jasad Revina. Dan tak akan membiarkan orang lain untuk menyakiti Revina lagi serta memisahkan dirinya dengan Revina. Bastian berpikir dirinya adalah seorang laki-laki jadi harus bisa melindungi wanita yang sangat dicintai dan dirindukannya itu. 'Kali ini aku tidak akan kehilanganmu lagi, Revina,' ucap Bastian dalam hati sambil terus mengeratkan pegangan tangannya pada peti kaca.
...******...
__ADS_1