Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 46


__ADS_3

Revan perlahan membuka kedua matanya lalu berdiri dari duduk silanya dan melihat sang iblis sudah berada dihadapannya. "Apakah dia yang akan ditumbalkan?" tanya iblis dengan suara menggelegar sambil menunjuk ke arah Bastian dengan tongkat di tangannya. "Bukan dia, tetapi aku," ucap Revan datar.


Iblis yang mendengar ucapan Revan langsung tertawa terbahak-bahak dan menggelegar terdengar menggema di hutan. Hingga makhluk-makhluk yang berada di sekitar rumah kayu itu berhamburan pergi menjauh. "Apa aku tidak salah dengar?" tanya sang iblis untuk meyakinkan ucapan pemuda dihadapannya ini.


"Tidak, kau tidak salah dengar, aku akan menggantikan kakakku," ucap Revan penuh keyakinan dan tidak ada keraguan sedikitpun di hatinya. "Baiklah kalau memang itu keputusanmu," ucap sang iblis. "Apa tidak masalah, bila aku yang menggantikannya?" tanya Revan. "Tidak masalah," ucap iblis sambil tersenyum menyeringai.


"Kau sudah mengganti peti kayu itu dengan peti kaca?" tanya iblis kepada Revan. "Ya, sudah, kau bisa melihatnya sendiri kan," ucap Revan. Sang iblis hanya tersenyum sambil memandang ke arah peti kaca yang berisikan jasad Revina tanpa jiwa.

__ADS_1


"Lalu, siapa dia?" tanya sang iblis penasaran melihat ke arah Bastian. "Dia kekasih kakakku, saat aku mati, dia yang akan membawa kakakku keluar dari sini," jelas Revan. "Hmmm ...." iblis menganggukkan kepalanya mengerti.


"Buka atap ruangan ini, kita akan mulai melakukan ritual, tapi sebelum itu, apa kau sudah yakin dengan keputusan yang kau ambil?" tanya iblis sekali lagi untuk memastikannya. Revan menatap sang iblis lalu menganggukkan kepalanya penuh keyakinan. Bastian menghampiri Revan lalu menariknya agar menjauh dari sang iblis yang menurutnya sangat mengerikan.


"Revan, sebenarnya apa maksud semua ini? Kenapa kau ...." Bastian tidak mampu meneruskan kata-katanya dan memandang Revan sambil matanya berkaca-kaca. Bastian sedari tadi mendengarkan semua percakapan antara Revan dan iblis, dirinya tak menyangka bahwa Revan akan menukar jiwanya dengan sang kakak. "Kenapa kau lakukan semua ini? Jika Revina hidup, lalu aku harus berkata apa pada Revina?" gusar Bastian, dirinya benar-benar bingung saat ini.


Perasaan Bastian tak menentu saat ini, antara marah, bingung dan kesal dengan keputusan sepihak Revan. Dirinya tak habis pikir dengan tindakan Revan yang sampai sejauh ini demi menghidupkan kembali Revina. Bastian marah dan meninju dinding kayu yang ada di belakang Revan.

__ADS_1


Bastian menatap marah kearah Revan sambil mengeluarkan air matanya. Perasaannya kacau saat ini, bagaimana bisa pemuda dihadapannya ini bertindak gegabah seperti ini. "Aku baik-baik saja," ucap Revan tanpa ekspresi dan berlalu pergi dari hadapan Bastian yang sedang menangis.


Revan menekan tombol merah yang ada di dekat pintu masuk, tak berapa lama bagian atas langit-langit ruangan itu terbuka lebar. Nampak di atas langit terlihat jelas bulan purnama yang sedikit lagi akan tertutup sempurna oleh bayangan merah. "Bersiaplah," ucap sang iblis sambil menatap ke arah Revan, Revan hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Tangis Bastian sudah berhenti, lalu dirinya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, Bastian melakukan itu berkali-kali untuk menenangkan diri. Bastian menghampiri Revan lalu memohon pada Revan untuk tidak melakukan hal ini. Bastian berkata bahwa dirinya sudah mengikhlaskan kepergian Revina, dan membiarkan Revina beristirahat dengan tenang, sedangkan masa depan Revan masih panjang dan tidak seharusnya Revan mengorbankan diri sendiri.


...******...

__ADS_1


__ADS_2