Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 25


__ADS_3

Sunny melangkahkan kedua kakinya memasuki sebuah kamar, di lihatnya tubuh Levia yang di selimuti perisai, Sunny melangkah mendekati tubuh itu dan berbaring di sampingnya.


"Maafkan aku Levia, sekarang aku baru mengerti dan merasakan apa yang kau rasakan, kesepian, tidak ada keluarga dan teman,"


Sunny menghela napas panjang dan pikirannya menerawang mengingat percakapan antara dirinya dan Levia.


"Aku akan mengutarakannya saat kau kembali," ucap Sunny sambil tersenyum dan tak lama kemudian dirinya sudah terbuai ke alam mimpi.


Keesokan paginya Sunny bangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa segar dan akan memulai hari ini dengan bersemangat juga.


"Pagi, Levia, semoga tidur panjangmu ini masih menyenangkan... hehehe..." Sunny tidak bisa menahan tawanya dan melihat ke arah tubuh Levia yang masih memejamkan kedua matanya.


Sunny merasa heran, sudah hampir tiga bulan tubuh Levia ada di dalam perisai tetapi tetap terlihat segar dan tidak berkurang satu apapun, perisai yang menutupi seluruh tubuhnya benar-benar melindungi dari apapun, bahkan sepertinya dapat terlindung dari hewan buas sekalipun.


Saat Sunny beberapa hari yang lalu dengan sengaja untuk menyentuh perisai tersebut, Sunny langsung terpental dan terlempar beberapa meter, Sunny merasakan sekujur tubuhnya bagai tersengat listrik dan terbakar di bagian dada. Tidak ada luka fisik tetapi luka di bagian dalam itulah yang Sunny rasakan.


Untuk memulihkan kondisi tubuhnya seperti sedia kala, Sunny hanya perlu bermeditasi mengikuti anjuran dari Levia, dan benar saja selama sehari semalam Sunny bermeditasi, luka dalam yang dirasakannya langsung sembuh total dan merasakan tubuhnya jauh lebih baik dan segar. Sunny benar-benar takjub akan hal itu.


"Sepertinya enak bila sarapan buah apel kebaikan,"


Sunny bergumam dan langsung memutuskan keluar dari rumah, berjalan menuju ke arah pohon apel. Sesampainya di sana, di lihatnya kosong tidak ada satu pun buah apel di atas pohon, Sunny mendesah kecewa, padahal dirinya menuju kemari untuk menikmati buah apel merah yang sangat manis dan legit itu.


Rasa buah apelnya sangat berbeda dengan yang ada di dunianya, buah apel yang ada di dunia liontin ini sungguh manis dan legit menurut Sunny, untuk itu Sunny ingin sekali memakan buah apel itu lagi, tapi sayang tidak ada yang berbuah satu pun.


"Oh, iya ya, bagaimana mungkin pohon apel ini berbuah, sedangkan aku saja berada di sini," Sunny menepuk keningnya sambil tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sunny ingat ucapan Levia, bila pohon apel itu akan berbuah, maka dirinya harus melakukan perbuatan baik dahulu.


Saat Sunny akan berbalik dan kembali ke dalam rumah, tiba-tiba dirinya merasakan hembusan angin yang sangat kencang, Sunny kemudian berjongkok dan berpegangan erat pada kakinya takut dirinya akan terbawa hembusan angin kencang itu.


Setelah Sunny merasa bahwa hembusan angin itu sudah tidak di rasakannya lagi, Sunny pun melepas pegangan pada kakinya dan perlahan berdiri. Alangkah terkejutnya Sunny saat melihat ke arah pohon apel kebaikan, pohon apel itu berbuah sangat banyak hampir memenuhi keseluruhan pohon.


"Apa yang sebenarnya terjadi," gumam Sunny lirih sambil kedua matanya tak berkedip sedetikpun melihat ke arah pohon apel kebaikan itu.


******


Sunny dengan jiwa Levia, melangkahkan kedua kakinya ke dalam sebuah kamar tidur. Sunny memutuskan tidur bersama sang ibu untuk melepas kerinduannya. Setelah tadi Sunny sudah merasa puas melepas kerinduan bersama sang ayah dan sang kakak.


"Ibu, aku minta maaf karena belum bisa membuat bangga Ayah, Ibu dan juga Kakak. Tetapi ijinkan aku untuk tetap menjadi putrimu di kehidupan selanjutnya," Sunny mengucapkan permohonan di hadapan Rebeca dan itu membuat Rebeca bingung hingga membuat keningnya berkerut.


"Sayang, walaupun kau sebagai istri dari putraku, Dareen tetapi aku menganggapmu sebagai putri di keluarga kami," Rebeca langsung memeluk Sunny.


"Sudahlah sayang, ini sudah sangat larut, ayo kita tidur, sudahlah jangan menangis lagi," ucap Rebeca lembut sambil menghapus air mata yang menetes di pipi Sunny.


Sementara Sunny tidur bersama Rebeca, Rudolf tidur bersama Dareen, Dareen awalnya terkejut melihat sang papa yang masuk ke dalam kamarnya sambil membawa bantal dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Dareen, setelah Dareen mendengarkan cerita dari sang papa, Dareen cemberut dan tidak habis pikir dengan tingkah Sunny, mengapa istrinya bertindak seperti itu.


Dareen sempat protes karena banyak kamar di mansionnya kenapa papanya itu tidak memilih kamar tidur yang lain kenapa harus menuruti Sunny untuk tidur di kamarnya. Rudolf beralasan, malas menunggu pelayan untuk merapikan kamar tamu dan saat ini dirinya sudah sangat lelah dan mengantuk.


Saat Dareen akan mengajukan protesnya lagi, dirinya melihat sang papa sudah tertidur lelap dan akhirnya Dareen mengurungkan niatnya itu dan tidur membelakangi sang papa dengan masih menyimpan tanda tanya besar di kepalanya tentang sikap Sunny seharian ini.


Dareen berpikir besok pagi dirinya akan menanyai sang istri tentang sikapnya ini.

__ADS_1


******


"Segarnya!" seru Sunny setelah selai mandi di air terjun, selesai berpakaian dirinya langsung bergegas menuju ke pohon apel, dilihatnya pohon apel itu berbuah sangat banyak.


Sunny ingat betul bahwa buah apel yang ada di bagian sisi kanan pohon sudah diambil lima buah tetapi kenapa tumbuh kembali. Sunny berpikir nanti akan bertanya kepada Levia saat dia kembali.


Saat Sunny sedang menikmati sarapannya memakan buah apel kebaikan itu, dirinya tidak sengaja melihat sosok Levia yang sedang berjalan ke arahnya.


"Apakah Levia sudah kembali?" tanyanya bermonolog pada dirinya sendiri.


Semakin lama sosok Levia semakin jelas ada di hadapannya dan duduk di hadapan Sunny lalu mengambil satu buah apel yang ada di keranjang buah dan memakannya sambil tersenyum riang menatap Sunny.


"Bahagia sekali," ucap Sunny yang melihat senyum Levia dan terus saja mengunyah buah apel.


"Terima kasih karena telah membuatku bahagia, dan kau bisa kembali sekarang," ucap Levia sambil terus memakan buah apelnya.


"Kau mengusirku?!" seru Sunny tidak terima.


"Memangnya kau tidak ingin kembali kepada keluargamu?" tanya Levia bingung.


"Aku masih ingin mengobrol denganmu, masih banyak yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Sunny santai.


"Aku pikir... hehehe... Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Levia sambil menatap serius ke arah Sunny.


Levia berpikir bahwa Sunny tidak mau kembali ke kekuarganya lagi, jadi biar jiwa Levia saja yang menggantikan jiwa Sunny di dunianya, tapi ternyata Sunny masih ingin mengobrol dengannya, Levia tidak keberatan dan dirinya sangat senang karena moment ini mengingatkan dirinya bersama sang sahabat yang sangat di rindukannya itu.

__ADS_1


******


__ADS_2