
"Waahh habis tak tersisa sedikit pun, apa Bapak ini sehaus itu yah hingga mampu menghabiskan air mineral dalam sekali kedipan mata saja?" Bayu membatin.
Pak Rusman berterima kasih karena tadi pagi sebelum berangkat ke kebun teh, ia melupakan bekal air minum yang dipersiapkan sebelumnya oleh Istrinya di rumah.
"Makasih aku sudah dapat petunjuk, semoga Aku segera bisa bertemu dengan perempuan itu," lirihnya Bayu yang kembali bersemangat empat lima karena sudah mengantongi bukti dan beberapa petunjuk yang mengarah ke perempuan malam itu.
Bayu setelah berpamitan ia kembali melanjutkan kembali perjalanannya setelah beberapa saat terhenti, karena beristirahat dan berbincang dengan bapak pemilik gazebo yang diduduki tadi.
"Semoga Aku mendapatkan petunjuk dari sana dan segera bertemu dengan perempuan itu, tapi gimana kalau perempuan itu dan keluarganya melaporkanmu ke polisi," batinnya Bayu yang berharap hal itu tidak terjadi.
Langkah kakinya menuntunnya hingga berdiri di depan rumah gubuk yang dijadikan tempat peristirahatan oleh beberapa petani kebun teh.
"Benar ini adalah rumah gubuk it," cicitnya Bayu sembari memperhatikan dengan secara seksama bentuk gubuk kecil itu.
Bayu kembali mengingat kejadian beberapa minggu lalu. Seperti sebuah rekaman kaset yang diputar di dalam kepalanya. Ia terpaku dan terdiam, sambil terus memandangi rumah itu.
Dalam dirinya Bayu yang awalnya sangat optimis untuk mengetahui siapa sosok perempuan itu, Tapi, sekarang muncul keraguan yang datang menghinggapi pikiran dan hatinya.
"Ya Allah… tolonglah hambaMu ini jangan biarkan keluarga perempuan itu melaporkan aku kepihak yang berwajib," Bayu membatin.
Bayu takut jika dirinya harus mendekam di dalam penjara gara-gara perbuatannya. Ia sejujurnya diliputi rasa cemas dan ketakutan yang berlebihan.
Mungkin perempuan itu akan melaporkan perbuatannya setelah mereka mengetahui bahwa dia lah yang melakukan kejahatan itu. Hingga seseorang muncul tiba-tiba di hadapannya Bayu yang membuat lamunannya buyar seketika itu.
"Siapa itu?" Ucapnya yang tersentak kaget seketika.
"Maaf nak, ada yang bisa ibu bantu?" tanya Ibu Sumi saat dirinya sudah berada di hadapan Bayu yang mematung dengan pandangan kosong tak bergeming sedikitpun.
"Maaf Bu kalau kedatanganku mengganggu pekerjaan ibu," tuturnya Bayu setelah kembali kepada dunia nyata.
__ADS_1
"Kamu sama sekali tidak mengganggu pekerjaan ibu, Ibu sengaja memang mau beristirahat kebetulan sudah waktunya shalat dzuhur," jawab Ibu Sunarti.
"Sebenarnya kedatanganku kesini ada yang penting ingin Aku tanyakan kepada Ibu, tapi kalau ibu tidak merasa terganggu atau pun keberatan," ungkap Bayu dengan penuh harap.
"Kalau gitu, kita ke sana saja nak, kita duduk sambil berbincang-bincang tidak enak berbicara sambil berdiri, ibu sudah tidak mampu melakukannya," timpal Ibu Sunarti yang tersenyum simpul.
"Iya Bu!" ucap singkat Bayu sambil tersenyum penuh keramahan.
Mereka pun berjalan ke arah kursi panjang lebar yang terbuat dari bambu yang cukup kuat hingga bisa menampung beberapa orang di atasnya.
"Saya perhatikan dari penampilannya kamu pasti bukan orang asli Makassar, Kalau ibu menebak sepertinya dari kota Jakartaku Nak," tutur ibu Sunarti.
"Iya, Ibu benar sekali, Saya bukan asli orang sini," jelas Bayu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan tertawa cengengesan.
"Pasti datang kesini karena ada yang ingin kamu cari tahu," tebak Ibu Sumi yang melepaskan topi petaninya yang sedari tadi terpasang dengan rapi di atas kepalanya untuk melindungi dari paparan sinar matahari langsung.
"Kalau Ibu bisa tahu apa yang ingin kita ketahui nak? semoga bisa ibu bantu nak!" Pungkas Ibu Sunarti lagi.
"Beberapa minggu lalu Saya datang ke sini bersama sepupu saya, tapi entah kenapa dompet saya terjatuh di Sekitar sini dan saya sudah berulang kali mencarinya tapi tidak ketemu juga," tuturnya Bayu Nathaniel Sanjaya yang sedikit membumbui ceritanya.
Ibu Sunarti pun kembali mengingat kejadian waktu itu saat dirinya melihat ada anak remaja korban pee me eer ko saa aan.
"Iya ibu dapat dompet coklat tapi saya tidak sempat membuka isinya apa saja, tapi Ibu masukkan ke dalam tas perempuan yang kebetulan berada di dekat dompet itu," jawabnya Bu Sunarti yang berhasil mengingat kejadian itu.
"Jadi dompet saya ikut di tas selempang perempuan itu Bu? terus itu perempuan sekarang ada di mana bu? karena saya ingin mengambil dompet saya?" Tanyanya yang mulai semakin penasaran.
...****************...
Mohon Maaf alur Kau Hanya Milikku itu alurnya maju mundur cantik.. Sesekali akan ada kilas balik atau flashback dari cerita para tokohnya..
__ADS_1
Jangan Lupa untuk mampir juga ke novel Aku yg lainnya dengan judul di bawah ini yang ceritanya juga bagus dibanding dengan Kau Hanya Milikku dijamin seru juga loh..
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetiaan Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Pesona Perawan
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..
Tetap Setia Dukung Kau Hanya Milikku dengan cara: like setiap babnya, komentar, gift seikhlasnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan juga yah..
__ADS_1