
Nenek Ero mendudukkan dirinya di atas kursi yang berada di seberang Dareen, menatap ke depan pikirannya menerawang ke masa lalu.
"Ratusan tahun yang lalu, aku membuka praktek pengobatan, namaku terkenal hampir di pelosok desa, pasienku pun banyak yang berdatangan dari luar desa yang aku tinggali, mereka tahu tentang aku dari mulut ke mulut," Nenek Ero menghentikan ceritanya dan menghela nafas berat.
Sedangkan Dareen hanya duduk terdiam mendengarkan cerita Nenek Ero.
"Waktu itu ada pasien yang memintaku untuk menggugurkan kandungan putri mereka, kedua orang tua gadis itu malu karena anak gadisnya hamil di luar nikah dan pria yang menghamili putrinya pergi entah kemana, mereka berani membayarku hingga lima kali lipat dari tarif biasanya apabila aku menyanggupi permintaan mereka," kedua mata Nenek Ero berkaca-kaca mengingat kejadian itu.
"Lalu kau menyanggupi permintaan kedua orang tua gadis itu?" tanya Dareen penasaran.
"Ya, aku menyanggupinya, saat itu usia kandungan gadis itu sudah dua bulan dan saat aku keluarkan janin itu masih hidup, dan aku langsung membunuhnya, aku menyesal, aku benar-benar menyesali hal itu... hiks... hiks..." air mata Nenek Ero tak bisa di bendung lagi.
Dareen benar-benar tersentak kaget mendengar ucapan Nenek Ero. Dirinya tak menyangka bahwa seorang nenek renta sangat tega melakukan hal keji seperti itu, terbuat dari apa sebenarnya hati dari seorang nenek yang tengah duduk di hadapannya ini.
__ADS_1
Sunny mendengar suara tangisan dari kejauhan, dan seketika itu juga pikirannya langsung bekerja, mengira suara tangisan itu berasal dari suaminya. Sunny langsung membuka kedua matanya menengokkan kepalanya ke samping tetapi yang di lihatnya hanya bantal dan guling.
Sunny berusaha bangun dari tidurnya dan menyandarkan sebagian tubuhnya ke tepi ranjang, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan namun tidak di lihatnya sang suami.
Suara tangisan itu masih terdengar di kedua telinga Sunny, dengan cepat dirinya langsung turun dari atas ranjang dan berjalan perlahan mendekati asal suara tangisan itu.
Ternyata suara tangisan itu berasal dari balkon kamar hotel, Sunny menyibak tirai putih yang menjadi pembatas, alangkah terkejutnya ia saat melihat Nenek Ero sedang menangis terisak di hadapan Dareen. Sunny dapat melihat jelas wajah Nenek Ero karena pencahayaan di balkon cukup terang.
"Ti-Tidak, A-Aku tidak membuatnya menangis," bantah Dareen tergagap sambil menggelengkan kepalanya.
Dareen sebenarnya merasa kesal pada Sunny karena asal menuduh tanpa bukti, padahal Sunny baru saja datang tetapi telah menuduhnya telah menyakiti Nenek Ero, dengan tubuh lemahnya seperti ini bagaimana mungkin dirinya dapat menyakiti seseorang, ada juga malah dirinya yang di sakiti karena tak sanggup melawan.
"Lalu kenapa Nenek Ero menangis?" tanya Sunny kembali.
__ADS_1
Untuk menghindari kesalahpahaman antara dirinya dan sang istri, akhirnya Dareen menceritakan apa yang di katakan Nenek Ero sebelumnya, Sunny pun sangat terkejut setelah mendengarkan cerita Dareen dengan sangat serius.
Setelah Dareen selesai bercerita, Sunny pun meminta maaf pada Dareen karena telah menuduh bahwa Dareen lah penyebab Nenek Ero menangis.
Sunny berjalan mendekat ke arah Nenek Ero lalu mengusap lembut punggung sang nenek untuk memberikan ketenangan sambil menyodorkan sekotak tisu untuk menyeka air matanya yang membasahi kedua pipi sang nenek.
Nenek Ero menarik beberapa lembar tisu dari dalam kotaknya, dan secara perlahan menyeka air matanya lalu memandang ke arah Sunny dan menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum, dirinya sudah merasa tenang. Sunny pun berbalik dan duduk di samping Dareen.
"Maaf, aku masih terbayang-bayang janin yang telah aku bunuh itu, aku sangat menyesal melakukannya,"
Saat itu Nenek Ero seperti tidak sadar saat melakukannya, entah apa yang merasuki dirinya hingga tega melakukan itu. Saat ini hanya penyesalan yang di dapatnya.
...******...
__ADS_1