
Segala persiapan sudah disediakan oleh kedua belah pihak keluarga. Bu Renita juga mencari informasi tentang adat istiadat pernikahan orang suku Bugis Makassar. Mulai berbagai macam seserahan pernikahan, makanan berupa kue-kue dan yang lainnya seperti yang diharapkan dan petunjuk dari teman sosialitanya yang kebetulan orang dari suku Makassar asli.
Bayu dan Galang ikut ke dalam rombongan calon pengantin untuk melihat langsung apa yang terjadi di dalam sana. Keduanya berniat untuk berkata jujur kepada Sania sebelum acara lamaran dilanjutkan karena, Galang mendesak terus Bayu untuk berkata jujur.
Seorang bapak-bapak yang diutus oleh kedua orang tua keduanya"Assalamualaikum saya sebagai perwakilan dari papa dan mamanya Bayu Hamis Nataniel dan Galang Aryanta Martadinata yaitu Pak Alvin Martadinata dengan istrinya Bu Veronika Wijaya serta papanya Bayu pak Dani Nataniel dan istrinya ibu Patricia Oktavia mewakilkan kepadaku untuk menggantikannya melamar putri Ibu Salms Nurhalimah karena beliau sama sekali tidak mengerti dengan bahasa Bugis sehingga mewakilkan kepadaku semoga saja orang yang kebetulan hadir di tempat ini mengerti akan hal tersebut," tuturnya pak Zainuddin Abdul Madjid selaku ketua RT setempat yang didapuk sebagai perantara pembicara lamaran.
"Tapi, sebelum acara dimulai ada baiknya Nak Bayu bertemu langsung dengan calon istrinya karena ada hal penting yang harus mereka bicarakan, kalau seperti itu silahkan bertemu dengan Nak Sania sebelum acara dilanjutkan," ujarnya Pak Damar pamannya Sania dan Selia yang sudah mengetahui hal tersebut karena ditelpon langsung oleh Galang.
"Makasih banyak atas waktunya sebentar," ucap Bayu yang segera berjalan ke arah dalam kamar tidurnya Sania yang sudah disulap dan didesain ala pengantin lamaran.
Sania menatap intens ke arah pria yang sebentar lagi akan mempersuntingnya itu dalam keadaan yang tidak suci lagi. Sasha menunggu keduanya tepat di depan pintu masuk kamar tersebut.
__ADS_1
"Katanya Abang ada yang dibicarakan denganku, tapi sebaiknya saya saja yang lebih duluan berbicara langsung agar kedepannya tidak ada lagi yang harus ditutupi dan semoga saja bang Bayu tidak keberatan dengan apa yang akan aku katakan," tuturnya Sania.
Tapi, Bayu segera mencegah Sania untuk berbicara karena ia yang seharusnya disini berbicara apa adanya itu. Bayu berharap supaya hubungan keduanya semakin dekat dan tidak ada lagi kesalahpahaman kedepannya.
Bayu menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup keras sebelum membuka mulutnya untuk bersuara.
Bayu langsung berlutut di hadapan Sania, Sania berdiri untuk mencegah apa yang dilakukan oleh Bayu.
"Stop! Sania jangan larang atau mencegah saya berlutut karena saya memang pantas bersikap seperti ini, Sania saya adalah pria malam itu yang mabuk dan merenggut mahkotamu malam itu beberapa bulan lalu, saya tidak akan menuntut kamu untuk menerima lamaranku, walaupun kamu memukuli saya dengan perbuatanku dulu walau kalau boleh jujur saya dulu melakukan hal itu karena mabuk berat dan sama sekali tidak berniat untuk melakukan hal itu tapi,..." Ucapannya Bayu terpotong karena Sania langsung memeluk tubuhnya Bayu dengan erat.
"Alhamdulillah ternyata Abang adalah pria malam itu, aku lega mendengar dan mengetahuinya Abang lah pria itu padahal selama ini aku menyangka jika pria itu adalah om-om atau kakek-kakek yang punya anak, cucu, istri tapi setelah aku mendengar kejujuran Abang aku sedikit lega walau aku belum bisa memaafkan abang,tapi demi Ibuku aku akan menerima lamarannya Abang dengan tulus dan ikhlas semoga kedepannya tidak ada lagi rahasia besar yang harus kita sembunyikan," ungkap Sania yang masih memeluk tubuh calon suaminya itu dengan menitikkan air matanya yang menetes membasahi pipinya sebagai pertanda jika hatinya antara lega dan sedih serta kecewa.
__ADS_1
Bayu tidak menduga jika gadis sembilan belas tahun itu sanggup membuka hatinya untuk memaafkan dirinya dan siap menjadi pendamping hidupnya itu.
"Maaf… maaf… saya sudah punya banyak salah, makasih banyak sudah menerimaku sebagai calon imam kamu untuk selamanya," air matanya Bayu pun ikut menetes membasahi pipinya.
Semua orang yang hadir di tempat itu cukup bahagia dan sekaligus terharu dengan apa yang kedua calon pengantin itu perbuat.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah kembali duduk seperti semula. Dari wajah beberapa orang berseri-seri bahagia, karena masalah pelit dan rumit sudah teratasi dengan baik.
"Jadi bagaimana dengan Bu Halimah apakah lamaran dari nak Galang dan Bayu diterima oleh ibu dan kedua putrinya?" tanyanya Bu Hafizah istri dari ustadz Maulana Malik selaku salah satu tokoh agama di daerah setempat.
Bu Halimah menatap semua orang secara bergantian," insya Allah kedua putriku siap untuk menikah dengan Nak Bayu dan Galang," jawabnya Bu Halima.
__ADS_1
"Syukur alhamdulillah makasih banyak karena sudah diterima niat kami," ucapnya Bu Renita dengan senyuman sumringah penuh kebahagiaan karena akhirnya kedua anaknya akan mengakhiri masa lajangnya dengan perempuan baik-baik saja sholehah.