
Selia terus berjalan dan melangkah kakinya ke arah pintu ruangan tersebut tanpa harus mengetuk terlebih dahulu saking seriusnya dengan lamunannya itu.
Tapi tangannya belum memutar kenop pintu itu, Pintu tersebut terbuka lebar dari arah dalam ruangan tersebut. Dia langsung terdiam dan berdiri mematung menatap kosong wajah orang yang ada di depannya.
Untung jalan yang dilaluiny hanya lurus saja dan tidak perlu naik tangga atau pun naik lift lama. Kalau tidak kemungkinan besarnya Seliaa akan terjatuh atau pun menabrak sesuatu.
Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku daripada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna daripada menjelaskannya.
Selia berjalan seperti orang linglung saja tanpa peduli dengan suasana dan apa saja di sekitarnya. Ia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu dikarenakan dirinya yang sudah melamun dari depan kantor Presdir barunya itu.
Bahkan banyak diantara mereka yang kedapatan bergosip harus meninggalkan Perusahaan dengan tidak terhormat. Sehingga satu pun diantara mereka yang tidak mau mencoba untuk berani bergosip lagi.
Selia langsung saja masuk ke dalam ruangan presdirnya yang kebetulan pintunya tidak terkunci. Ia terus mencoba sekuat tenaga tetapi, pintu itu terus tidak ingin terbuka padahal tadi tidak terkunci..
"Kok pintunya gak mau terbuka sih, padahal tadi bisa ada apa sih dengan kuncinya?"gumamnya Selia yang heran dengan pintunya.
Selia tanpa banyak pikir terus berusaha untuk membuka pintu itu hingga usahanya berhasil dan sukses.
"Kok pintunya macet, apa pintunya sudah rusak, tapi itu tidak mungkin pintu semahal dan sebagus ini kok bisa cepat rusak, Aku harus segera menelpon petugas untuk segera mengecek pintu ini," gerutunya Selia yang mulai jengah dengan pintu itu.
Karena mereka saling tarik-menarik pintu tersebut dan tidak ada yang mau mengalah sehingga pintunya tidak berhasil terbuka.
Hingga akhirnya Selia pun mengalah dan tidak memegang gagang pintu itu lagi dan akan berdiri di depan pintu tersebut untuk menunggu jika tiba-tiba terbuka dari dalam.
Sasha sekretaris Pak Galang berjalan ke arah Selia sembari berucap, "Ada apa Selia, kok gak jadi masuk?" tanya Sasa Sang sekertaris Presiden Direkturnya.
"Anu anu kak, ini pintunya gak mau kebuka padahal tadi awal Aku pegang masih bisa terputar dan sekarang udah gak bisa!" Jawabnya dengan sedikit terbata yang keheranan di depan pintu.m sekaligus terkejut karena Sasha datang tiba-tiba.
__ADS_1
"Mungkin pintunya macet atau rusak, tapi mustahil terjadi sih Sel, pintu dengan kualitas bagus dan mahal gitu kok secepat itu juga rusak padahal pintu itu masih sangat baru loh," ujarnya Sasa yang ikut kebingungan dengan pintunya.
Sedangkan Galang Alaric Meyer juga sudah kembali ke kursi kebesarannya untuk duduk karena sudah jengkel dengan pintu ruangannya yang tidak bisa terbuka.
"Halo pak John, tolong segera ke ruanganku sekarang juga tidak pakai lama!" Perintahnya Galang dan langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa basa-basi.
"Ok Pak!" Jawab Pak John singkat kepala keamanan sekaligus teknisi di Perusahaan tersebut.
Pak John dan dua orang anak buahnya segera berjalan ke arah ruangan Presdir. Faika yang melihat kedatangan rombongan keamanan langsung berpindah tempat dari depan pintu.
Pak John melihat Selia yang masih memutar kenop pintu, "Maaf Mbak, Kami mendapatkan informasi dari Bapak Galang katanya pintu ini macet," tutur Pak Johan.
"Sepertinya gitu Pak karena tadi aku juga berusaha untuk buka tapi tidak berhasil padahal awalnya mau berputar," jawabnya Selia dengan raut wajahnya yang kebingungan tapi, tetap cantik.
Sedangkan Sasa kembali ke kursinya dan hanya jadi pendengar setia saja tanpa ikut menimpali pembicaraan mereka dan tetap serius menatap layar komputernya.
"Kalau gitu kami akan mencoba untuk memperbaikinya," terangp Pak John yang membuka perlengkapan peralatannya.
Tanpa ada kejadian atau apa lah itu sesuai dengan perkataan dari atasannya dan juga dari mulut Selia sendiri. Pak Johan tersenyum ke arahnya Sleia yang nampak kebingungan dengan pintu tersebut.
Sedangkan Galang selaku pemilik perusahaan tidak bereaksi atau pun berkomentar sedikit pun, malahan tidak terusik dengan keributan dan keramaian yang terjadi di depan pintu ruangannya. Selia hanya tersenyum cengengesan karena ternyata dugaannya salah.
"Kalau gitu makasih banyak yah Pak atas bantuannya!" ucapnya Selia dengan tetap menampilkan senyuman ramahnya.
"Sama-sama Mbak Selia ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami jadi Mbak tidak perlu sungkan," timpal Pak John.
Selia hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Pak Johan. Pak Johan dan rombongannya sudah berlalu dari hadapannya. Dia pun berjalan ke arah dalam ruangan Galang dengan hati yang tidak tenang dan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
......................
Jangan Lupa untuk mampir juga ke novel Aku yg lainnya dengan judul di bawah ini yang ceritanya juga bagus dibanding dengan Kau Hanya Milikku dijamin seru juga loh..
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetiaan Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Pesona Perawan
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
__ADS_1
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..
Tetap Setia Dukung Kau Hanya Milikku dengan cara: like setiap babnya, komentar, gift seikhlasnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan juga yah..