Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 30


__ADS_3

Sunny sedang sibuk menulis resep blackforest cake di selembar kertas yang ia dapatkan dari Levia.


"Apa kau yakin dapat membuatnya, Sunny?" tanya Levia penasaran sambil mencuci piring kotor bekas sarapan tadi.


"Ya, aku sering membuat cake bersama ibuku, dan resep ini adalah resep turun temurun dari nenekku, dan kami selalu menggunakan resep ini saat membuatnya, kau tenang saja, ini sangat enak, kau pasti akan ketagihan saat memakannya," ucap Sunny penuh percaya diri sambil tersenyum lebar.


Sebenarnya Matilda yang akan mencucikan piring kotor bekas sarapan itu karena Matilda adalah seorang kepala pelayan pada keluarga Dimitri, tetapi Levia menolaknya dan meminta Matilda untuk bersenang-senang di luar.


Matilda pun menurut, Rebeca mengajak Rudolf, Matilda dan Dareen untuk keluar rumah, dirinya ingin berkeliling karena kemarin belum sempat berkeliling dan menikmati keindahan alam yang lama tidak dirasakannya, Rebeca selama ini hanya di dalam mansion, kalaupun keluar dari mansion hanya untuk pergi ke salon, berbelanja atau menemani Rudolf keluar kota atau pun keluar negeri.


Rebeca sangat jarang bahkan hampir tidak pernah pergi ke tempat-tempat dengan keindahan alam. Selama ini dirinya hanya melihat mansion dan gedung-gedung mewah saja.


Rebeca sangat menikmati keindahan alam yang terbentang luas di hadapannya, menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Rebeca sudah lama tidak menikmati keindahan alam seperti ini, dirinya berlari-lari ke sana kemari sambil tertawa bahagia.


Rudolf dan Dareen yang menyaksikkan tingkah Rebeca hanya bisa tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala, mereka berfikir Rebeca seperti orang yang baru saja bebas akibat terkurung di dalam ruangan yang sangat gelap.


Matilda pun merasakan kebahagian dan selalu mengikuti Rebeca kemanapun berjalan. Rebeca dan Matilda berbaring di atas rerumputan sambil menatap ke atas langit biru yang terbentang luas. Mereka tertawa bahagia menikmatinya.


"Kau menikmatinya, Matilda?" tanya Rebeca dengan senyum lebarnya yang masih terpatri di wajahnya sambil kedua matanya menatap ke atas langit biru.


"Iya, Nyonya saya menikmatinya, sudah lama saya tidak merasakan hal seperti ini, terima kasih Nyonya," Matilda tersenyum tulus menatap Rebeca.


"Jangan berterima kasih kepadaku, berterima kasihlah kepada Levia, karena dia yang membawa kita kemari," ucap Rebeca yang kedua matanya masih melihat ke atas langit biru.


"Nyonya benar," ucap Matilda.

__ADS_1


"Matilda, aku tidak menyangka bahwa Levia adalah putriku di kehidupanku sebelumnya, pantas saja setiap aku mengandung calon adik untuk Dareen, selalu saja aku mengalami keguguran, ternyata ini penyebabnya," Rebeca menyimpulkan sendiri kejadian yang di alaminya.


"Sepertinya begitu, Nyonya," ucap Matilda dan berfikir bahwa ucapan Rebeca ada benarnya.


"Matilda, apa menurutmu tidak apa jika wanita seusia diriku ini hamil?" tanya Rebeca lalu bangun dari tidurnya dan duduk bersila sambil melihat ke arah Matilda serius.


Matilda yang melihat Rebeca duduk, dirinya pun duduk bersila di hadapan Rebeca.


"Nyonya berencana untuk hamil lagi?" tanya Matilda sedikit terkejut, karena beberapa hari yang lalu Rebeca bersikeras untuk tidak hamil atas keinginan Rudolf, dan meminta pil kemandulan padanya agar Rebeca tidak hamil, Matilda bingung di buatnya.


Rebeca hanya menganggukkan kepalanya semangat dan tersenyum bahagia.


"Apa karena, Nona Levia, jadi Nyonya memutuskan untuk mempunyai anak lagi?" tanya Matilda penasaran.


"Hmmm... bisa di bilang seperti itu, aku tidak menyangka bahwa putriku akan secantik itu," Rebeca tersenyum sambil pikirannya menerawang membayangkan wajah cantik Levia.


Rebeca benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Apakah di masa lalu dirinya dan Rudolf telah berbuat kesalahan sehingga kedua anaknya yang harus menderita.


Rebeca dan Rudolf memang memiliki banyak harta yang tidak akan habis tujuh turunan, tetapi di dalam kemewahan yang di milikinya tidak ada kebahagiaan atau kegembiraan, yang ada hanya kehampaan.


"Matilda, aku akan hamil lagi dan aku yakin, Levia kecil akan lahir dengan selamat," ucap Rebeca yakin sambil menghapus air matanya yang mengalir membasahi kedua pipinya.


"Ya, Nyonya," ucap Matilda tersenyum lembut.


Rebeca berfikir saat Levia telah terbebas dari kutukan pedang itu, maka Levia akan dapat bereinkarnasi, jadi Rebeca sangat yakin bila nanti dirinya hamil maka bayi mungil yang akan lahir adalah Levia, Rebeca juga memutuskan bila nanti Levia terlahir kembali melalui rahimnya maka nama Levia akan tetap di jadikan namanya, 'Levia Dimitri'.

__ADS_1


Rebeca tidak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaannya memikirkan hal itu. Setelah bulan purnama merah berakhir, Rebeca sangat yakin bahwa itu akan membawa perubahan pada keluarganya, yaitu kebahagiaan.


...******...


"Sudah kau tulis semuanya dengan benar?" tanya Levia kepada Sunny sambil melihat kertas yang ada di tangannya bertuliskan resep blackforest cake dan membacanya.


"Ya, aku sangat yakin sudah menulis alat dan bahan yang di butuhkan dengan benar," ucap Sunny yakin dan membaca kembali kertas yang bertuliskan resep blackforest cake yang berada di tangan Levia.


Setelah mendengar ucapan Sunny, Levia meletakkan kertas yang bertuliskan resep blackforest cake di atas meja makan yang kosong, lalu Levia mengajarkan Sunny cara untuk menampilkan alat dan bahan yang di butuhkan untuk membuat blackforest cake.


Levia meminta Sunny untuk meletakkan salah satu telapak tangannya di atas kertas yang di letakkannya di atas meja itu, lalu Levia juga meminta Sunny untuk memejamkan kedua matanya dan pikirannya harus fokus pada kertas yang di sentuhnya itu, kemudian Levia membisikkan sebuah mantra pada telinga Sunny dan Sunny pun ikut mengucapkan mantra itu.


Tak berapa lama, meja makan di hadapan Sunny dan Levia pun bergetar, Sunny terkejut tetapi Levia tetap meminta Sunny untuk memejamkan kedua matanya dan fokus pada kertas yang di sentuhnya itu.


Beberapa saat kemudian meja makan itu pun berhenti bergetar dan Levia mengijinkan Sunny untuk membuka kedua matanya.


Sunny benar-benar sangat terkejut dan tubuhnya terlonjak kaget melihat meja makan yang tadinya kosong kini penuh dengan alat dan bahan untuk membuat cake.


"Bagaimana mungkin ini---" Sunny tak bisa menyelesaikan kata-katanya dan mengalihkan pandangannya kepada Levia yang berdiri di sampingnya.


"Levia gitu loh, apa sih yang tidak bisa Levia lakukan," Levia membanggakan dirinya sendiri.


"Ck... sombong sekali kau," Sunny menepuk perlahan bahu Levia dan keduanya pun tertawa bersama.


"Ayo! Kita mulai!" seru Sunny semangat karena akan membuatkan cake untuk sang suami tersayang.

__ADS_1


Levia menganggukkan kepalanya semangat, "Ayo!" lalu mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke udara.


...******...


__ADS_2