
"Kau belum tidur?"
Sunny yang sedang melamun di balkon kamarnya terkejut mendengar suara dari sang suami yang baru saja pulang berburu. Dareen yang melihat Sunny hampir terjatuh dari atas kursinya tertawa terbahak-bahak.
"Puas!" seru Sunny kesal sambil membetulkan letak duduknya dan membulatkan kedua bola matanya ke arah Dareen.
Dareen tak peduli dan terus saja berjalan masuk ke dalam kamarnya, menurunkan tas punggungnya dari atas pundaknya, membuka resleting tas kemudian mengambil botol berisi darah serigala hasil buruannya dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin yang ada di dalam kamarnya.
Dareen melihat jam dinding yang terpasang di atas tembok kamarnya, jam itu menunjukkan pukul sepuluh malam, kemudian berjalan ke arah balkon dan duduk di sebelah Sunny yang masih cemberut.
"Mau berkeliling?" Dareen mencoba membujuk Sunny agar tidak cemberut lagi.
Lagipula Dareen belum merasakan ngantuk dan juga kedua orang tuanya sepertinya pulang telat. Jadi tidak ada salahnya berkeliling kota bersama istri tersayang.
Sunny menatap Dareen penuh tanda tanya besar, kemana dirinya akan mengajaknya malam-malam begini.
Lama tak ada jawaban, Dareen berdiri dan menarik salah satu tangan Sunny, tetapi Sunny langsung menepisnya dan berlari masuk ke dalam kamar, Dareen terkejut dengan tindakan Sunny yang tiba-tiba itu, berdiri mematung sambil terus menatap ke dalam kamar.
Tak berapa lama kemudian Sunny muncul di hadapan Dareen dengan memakai topi kupluk rajut yang di pakai sampai menutup telinga, sarung tangan, masker wajah yang menutup dari hidung hingga ke dagu, sepatu kets, jaket dan celana musim dingin.
Dareen yang menyaksikan penampilan Sunny hanya bisa terheran-heran dibuatnya. Bagaimana tidak heran karena hanya menyisakan kedua matanya saja yang terlihat.
"Memangnya kau akan pergi kemana? Kenapa penampilanmu seperti itu? Kita hanya akan berkeliling kota," Dareen tak habis pikir dengan penampilan Sunny.
"Sudahlah ayo pergi, aku sudah siap, bahkan sangat siap," ajak Sunny bersemangat sambil menarik tangan sang suami.
Dareen pun hanya pasrah dan menggendong tubuh Sunny ala bridal style, kemudian langsung melesat pergi melayang di tengah malam dengan udara dingin.
Ternyata keputusan Sunny untuk memakai pakaian lengkap ala musim dingin adalah keputusan yang tepat, saat ini dirinya sedang melayang-layang di udara dan terkena angin malam, Sunny tidak merasakan kedinginan sedikit pun.
Tidak seperti beberapa waktu yang lalu saat dirinya tiba-tiba di ajak Dareen melayang tanpa ada persiapan dan alhasil membuat Sunny kedinginan di terpa angin malam.
Sunny sangat senang sekali dan sesekali berceloteh tentang apa yang di lihatnya. Dareen pun berusaha menyenangkan Sunny.
Sesekali Dareen mendaratkan kedua kakinya di atap gedung perkantoran yang sangat tinggi kemudian mereka berdua berteriak sesuka hati.
Seperti saat ini, suara teriakan Sunny terdengar sangat keras.
__ADS_1
"AAA... BBB... CCC...!!!"
"Kenapa teriakanmu seperti sedang belajar membaca?" Dareen bingung dengan tingkah sang istri.
Sunny tak mempedulikan Dareen, yang terpenting dirinya sangat senang bisa melampiaskan beban di hatinya dengan berteriak.
"AAA...B--!!"
"Siapa yang berteriak-teriak di sana! Apa kau tidak mempunyai jam! Sudah larut malam!!!" seruan suara yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu atap gedung.
Dareen yang mendengar itu langsung menggendong Sunny dan melesat pergi, meninggalkan tiga orang yang berlari keluar hendak menangkap mereka.
Dareen dan Sunny tertawa bahagia setelah berhasil kabur dari kejaran tiga orang security gedung yang sedang berpatroli di atap gedung yang tadi mereka berdua singgahi.
Setelah berhasil melesat pergi dari atap gedung, keduanya saat ini berada di taman kota. Dareen sedang terbang rendah karena akan melihat air mancur kota yang di kelilingi lampu taman warna warni yang berkedip-kedip setiap warna secara bergantian.
Karena suasana taman kota saat ini sepi dan hanya ada dua atau tiga orang saja yang ada di taman, jadi Dareen berani untuk terbang rendah dan juga mencari tempat yang sedikit gelap jauh dari pantauan orang lain.
"Kenapa kau mengambil makanan orang itu?" tanya Dareen yang melihat Sunny mengambil salah satu makanan dan minuman seorang pria yang sedang duduk sendiri di atas bangku taman.
"Kau ini, besok akan ku belikan satu truk, kau akan puas memakannya," ucap Dareen serius dan langsung melesat pergi dari taman kota.
******
"Aku yakin sekali, tadi aku membeli dua hamburger dan dua minuman cokelat panas, tapi kenapa hanya ada satu?" gumam seorang pria pada dirinya sendiri.
Memasukkan salah satu tangannya dan mengambil selembar struk pembelian makanan tadi.
"Benar, tertulis dua hamburger dan dua minuman cokelat panas," pria itu masih serius menatap struk pembelian makanan.
Sedetik kemudian pria itu membelalakkan kedua bola matanya.
"Atau... jangan-jangan..."
Pria itu bergidik ngeri dan langsung membawa pergi makanannya sambil berlari, karena berfikir mungkin saja makanan dan minumannya yang hilang itu karena di makan hantu penunggu taman kota yang kelaparan.
******
__ADS_1
Dareen dan Sunny sudah tiba di atas bukit, Sunny asyik menikmati hamburger dan cokelat panasnya, sedangkan Dareen hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Dari atas bukit, semua bangunan-bangunan nampak terlihat kecil, hanya terlihat lampu-lampu yang menerangi bangunan-bangunan, ada lampu yang masih menyala dan ada juga yang sudah di matikan.
Sunny memakan dan meminum habis makanannya kemudian melempar bungkus kosong makanan dan minuman itu ke bawah bukit.
"Hei! Buanglah sampah pada tempatnya!" seru Dareen yang melihat Sunny membuang sampah bekas makanan sembarangan.
Sunny mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling, "Tidak ada tempat sampah," Sunny dengan polosnya tersenyum memandang Dareen.
Dareen yang melihat itu hanya menghela nafas, tak habis pikir dengan kelakuan sang istri, sudah mengambil makanan milik orang lain dan membuang sampah sembarangan. Sungguh tak pantas untuk di tiru.
Dareen mendekap Sunny erat sambil bersandar di salah satu pohon besar, mereka berdua berbincang segala hal dan sesekali tertawa bersama.
Dareen memejamkan kedua matanya, sedangkan Sunny menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Dareen, mendengarkan degup jantung Dareen yang teratur.
Sunny teringat ucapan Ero di gazebo beberapa jam yang lalu.
"Setelah kutukan itu hilang, ada kemungkinan suamimu akan berubah, jadi nikmatilah saat-saat romantis bersama suamimu itu,"
"Apa maksud perkataannya itu?" gumam Sunny sangat lirih, berharap sang suami tidak mendengarnya.
Entah mengapa Sunny merasa kalau perkataan Ero akan menjadi kenyataan, Dareen akan berubah dan bersikap lain terhadapnya. Tapi Sunny berharap itu hanya perasaannya saja dan tidak menjadi nyata.
Sunny takut bila hal itu terjadi, Sunny tidak mau kehilangan Dareen yang sangat di cintainya ini, ya Sunny mulai mencintai suaminya, semoga Dareen juga merasakan hal yang sama terhadap Sunny.
Sunny mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami, Dareen yang merasakan pelukan erat Sunny seketika itu juga membuka kedua matanya.
"Kau kenapa?" tanya Dareen khawatir pada sang istri.
"Aku hanya takut, kau akan pergi dariku," jawab Sunny lirih dan ucapannya itu masih dapat di dengar oleh sang suami.
"Hei, lihat aku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," Dareen menatap lekat ke arah kedua bola mata Sunny.
Sunny yang di tatap Dareen hanya menganggukkan kepalanya pelan, Dareen tersenyum dan mengecup sekilas bibir merah muda Sunny, mendekap sang istri erat untuk meyakinkannya bahwa dirinya akan selalu berada di samping sang istri selamanya.
******
__ADS_1