
"Bagaimana masakanku, enak tidak?" tanya Levia kepada Sunny.
Sunny yang mulutnya penuh dengan makanan hanyak mengacungkan kedua jempolnya untuk menjawab. Levia tersenyum bahagia melihatnya.
"Cepat habiskan makananmu, aku akan mengajakmu ke atas bukit," ucap Levia seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk mencuci piring kotor bekas makannya.
Sunny hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dirinya masih asyik menyantap makanan yang di hidangkan oleh Levia.
Setelah tadi mereka berdua selesai menangis, keduanya merasa sangat lapar dan memutuskan untuk memasak. Sebenarnya yang memasak adalah Levia sedangkan Sunny hanya membantu mengiris bahan-bahan dan hal-hal kecil lainnya.
******
Levia mengajak Sunny ke atas bukit, Levia hanya ingin bersenang-senang dan melepas rindu pada sahabat lamanya itu melalui Sunny.
Wajah Putri Aurora dan Sunny sangat mirip, yang membedakannya hanya pada penampilan fisiknya saja.
Putri Aurora yang selalu memakai pakaian ala putri kerajaan dan selalu merias tipis wajahnya.
Sedangkan Sunny yang berpakaian biasa seperti pakaian pada zaman ini dan hampir tidak terlihat memakai riasan di wajahnya, benar-benar alami.
Levia melihat sebuah apel merah yang ada di genggaman tangan Sunny, meminta buah apel itu, lalu merapalkan sebuah mantra dan memberikan buah apel itu kembali kepada Sunny.
Sunny memperhatikan apa yang Levia lakukan, menerima buah apel itu kembali kemudian memandang ke arah Levia lalu berpaling pada buah apel yang ada di genggaman tangannya.
Levia yang mengerti kebingungan Sunny, kemudian berkata, "Makanlah, maka semua kekuatan yang ada pada diriku juga akan ada pada dirimu,"
Sunny sedikit ragu untuk memakannya, apa benar bisa begitu, apakah benar semudah itu, kalau begitu tidak perlu repot-repot untuk belajar ilmu bela diri dan sebagainya, hanya dengan memakan sebuah apel saja maka dirinya langsung bisa memiliki kekuatan.
Karena penasaran akhirnya Sunny memakan habis buah apel yang tadi terjatuh sendiri dari atas pohonnya.
Tak berapa lama Sunny merasakan sakit dan sesak yang sangat luar biasa pada bagian dadanya, kemudian merasakan panas di sekujur tubuhnya, Sunny tak kuat lagi untuk menahan rasa sesak disertai panas pada tubuhnya itu dan akhirnya terkulai lemas jatuh di pangkuan Levia.
Levia hanya tersenyum lembut melihat Sunny yang sudah tidak berdaya di pangkuannya, lalu dengan kekuatannya mereka berdua menghilang.
******
Dua hari kemudian
__ADS_1
Sunny membuka kedua matanya, di dapatinya saat ini dirinya tidur di atas ranjang yang cukup untuk di tempati dua orang, mengedarkan pandangannya ke sekeliling dilihatnya semua dekorasi ruangan dan perabotan bernuansa ungu, Sunny menolehkan kepalanya ke samping kiri di dapatinya Levia sedang tersenyum.
"Kau sudah sadar? Kau sudah dua hari tidak sadarkan diri," ucap Levia senang saat melihat Sunny tersadar dari pingsannya.
"Apa?! Dua hari?!" Sunny sungguh terkejut tak percaya bahwa dirinya sudah tertidur selama itu.
Sunny berusaha duduk dan bersandar pada pinggir ranjang dan Levia membantunya.
"Tenanglah, itu proses penyerapan semua kekuatan yang aku berikan padamu, tak ada waktu lagi untuk mengajarimu dari awal, lagipula buah apel yang kau makan itu berasal dari pohon apel kebaikan, setiap kau melakukan satu kebaikan maka akan menghasilkan satu buah apel kebaikan, dan itu juga berdampak kepada diriku, kekuatanku akan semakin kuat, maka hanya dalam waktu dua hari semua kekuatanku akan sangat mudah masuk ke dalam tubuhmu," Levia menjelaskannya kepada Sunny.
"Pohon apel kebaikan?" Sunny mengerutkan keningnya dan mengingat saat awal dirinya tersadar sedang duduk di bawah pohon apel. Ternyata pohon apel itu adalah pohon apel kebaikan.
"Kau sudah membantu seseorang yang bernama Jerry, ya walaupun awalnya kau mencuri makanannya tetapi kau menebus kesalahanmu dengan mengganti makanan itu dan sekaligus memperbaiki rumahnya,"
"Darimana kau tahu tentang itu?" tanya Sunny terkejut tak percaya.
"Ingat! Aku berada di dalam liontin kalungmu, jadi aku bisa mengetahui semua tentangmu," ucap Levia.
"Ya, aku tahu," ucap Sunny acuh tak acuh, lalu membolak balikkan kedua telapak tangannya, kemudian bangun dari ranjang dan memutar-mutar tubuhnya seperti gangsing.
Sunny berjalan mendekati Levia dan langsung memeluknya, Levia terkejut dengan gerakan Sunny yang tiba-tiba, Levia awalnya sedikit ragu saat akan membalas pelukan Sunny tetapi sedetik kemudian Levia membalas pelukan Sunny dengan sangat erat, seolah-olah sedang melepas rindu pada sahabatnya Aurora yang sudah sangat lama dirindukannya.
"Kau mengingatkanku pada Putri Aurora," ucap Levia setelah melepas pelukan Sunny, Levia sangat merindukan sahabatnya itu tetapi kerinduannya terobati dengan kehadiran Sunny.
"Benarkah? Apakah wajahku benar-benar sangat mirip dengan sahabatmu itu?" Sunny bertanya penasaran. Levia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kau tau Sunny, kedua orang tua suamimu itu adalah kedua orang tuaku ratusan tahun yang lalu, dan suamimu itu adalah kakakku,"
"Benarkah?" Sunny tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.
"Lalu, ayahmu itu adalah ayah dari Putri Aurora, sekaligus raja dari kerajaan yang berhubungan baik dengan kerajaan yang di pimpin oleh ayahku," Levia melanjutkan ucapannya.
"Jadi... papa mertuaku dan ayahku adalah raja dari kerajaan yang kau ceritakan itu?" tanya Sunny kepada Levia untuk meyakinkannya.
"Ya, semua saling berhubungan, bukan?" Levia memandang Sunny yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Sudahlah, ayo kita coba kekuatan barumu itu," ajak Levia supaya Sunny tidak sibuk dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
******
Saat ini mereka berdua berada di air terjun, sebelum mulai mempraktekkan kekuatannya, Sunny harus bermeditasi terlebih dahulu di bawah air terjun untuk menenangkan pikirannya, supaya kekuatan yang di keluarkan tidak salah sasaran.
Setelah bermeditasi pikiran Sunny menjadi tenang dan siap untuk mencoba kekuatan barunya itu, Levia dengan sabar membantu Sunny mempraktekkannya.
Sunny tak percaya melihatnya, ternyata sangat banyak sekali kekuatan yang Levia miliki.
Mulai dari dapat mendengar suara hingga jarak dua puluh meter, dapat berlari dengan cepat, gerakan tangan yang cepat, hanya dengan menjentikkan jarinya bisa mengeluarkan api, bisa mendorong dari jarak jauh, dan masih banyak lagi kekuatan lainnya.
Levia berkata kepada Sunny, bahwa dirinya mendapatkan semua kekuatan itu dari belajar selama ratusan tahun yang lalu, dirinya mempelajari itu semua dari berbagai macam ilmu beladiri dan dari guru yang berbeda-beda.
"Lalu, kenapa kau memberikan semua kekuatanmu itu padaku?" tanya Sunny penasaran kepada Levia sambil merebahkan dirinya di atas ranjang setelah seharian mempraktekkan kekuatannya karena kelelahan.
"Tidak lama lagi aku akan pergi, jadi tidak ada salahnya kan aku memberimu kenang-kenangan... hehehe..." kekeh Levia yang juga merebahkan diri di samping Sunny.
Levia berpikir, sebentar lagi dirinya akan pergi, dan dirinya tidak punya suatu benda atau barang berharga apapun untuk di berikan kepada Sunny sebagai kenang-kenangan, jadi lebih baik memberikan semua kekuatan yang dimilikinya, lagipula saat dirinya pergi dan bereinkarnasi maka semua kekuatan yang dimilikinya saat ini akan musnah.
"Kenang-kenangan?" Sunny memalingkan wajahnya menghadap Levia. Levia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Ya, Sunny mengetahui pikiran Levia, pasti tentang pedang itu dan kepergiannya.
"Hmmm... Sunny... aku ada satu permintaan, aku harap kau mengabulkannya," Levia bangkit dari tidurnya dan duduk bersila menghadap Sunny. Sunny pun melakukan hal yang sama.
"Apa itu?" tanya Sunny penasaran.
"Aku ingin, sehari saja bersama kakak dan kedua orang tuaku, aku mohon," mohon Levia sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Kau serius?" tanya Sunny terkejut. Levia menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Tapi, bagaimana caranya?" tanya Sunny penasaran.
"Itu sangat mudah," ucap Levia bersemangat.
Levia sangat senang akhirnya bisa kumpul bersama dengan keluarganya lagi, ya walaupun hanya satu hari, tapi itu cukup dan tidak akan dirinya sia-siakan kesempatan ini.
******
__ADS_1