
Saat ini di ruang makan ada Tuan dan Nyonya Dimitri, ada kedua orang tua Sunny yang sedang bercengkrama sambil menikmati sarapan mereka. Sunny sendiri baru tiba di ruang makan dan langsung mendudukkan dirinya di sebelah ibunya, Chintya.
"Kau tidak bersama suamimu?" tanya Chintya saat tidak melihat Dareen bersama Sunny.
Sunny seketika memandang ke arah Rudolf dan Rebeca secara bergantian bermaksud untuk membantunya memberi jawaban kepada Chintya.
Rebeca mengerti akan tatapan mata Sunny.
"Dareen, tidak terbiasa sarapan," ucap Rebeca tersenyum. Dan hanya di balas dengan oh oleh Chintya.
Sebenarnya Sunny tidak tau ada dimana suaminya saat ini, karena selepas mandi sudah tidak lagi melihat Dareen di dalam kamar.
"Apa kau tidur nyenyak semalam, sayang?" tanya Rebeca kepada Sunny, seraya menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
"Iya ma, sangat nyenyak," Sunny pun menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Rebeca hanya menanggapinya dengan anggukan dan senyuman kemudian melanjutkan makannya.
Sebenarnya Sunny sendiri sangat heran, entah mengapa semalam tidurnya sangat nyenyak dan penuh kehangatan. Apa karena efek semalam Sunny menangis atau karena pelukan hangat sang suami, Dareen.
Saat Sunny membuka matanya tadi pagi, Sunny mendapati dirinya tertidur di atas dada bidang Dareen dan Dareen memeluknya sangat erat. Sunny bingung dengan sikap Dareen, padahal sebelum tidur sikapnya sangat dingin dan mengerikan dengan bola mata merahnya.
Sunny tanpa sadar bergidik ngeri membayangkan kejadian semalam.
Tuan Rudolf menyudahi sarapannya dan memandang bergantian ke arah kedua orang tua Sunny, "Frans, Chintya, maaf, kami tidak bisa membantu perihal kepindahan Sunny dan Dareen menempati rumah baru. Karena kami akan berangkat hari ini juga untuk perjalanan bisnis kami,"
"Tidak masalah Rudolf, kami mengerti," jawab Frans cepat, karena Frans mengetahui kesibukan besannya ini.
Sunny dan kedua orang tuanya mengantar kepergian Rudolf dan Rebeca, mereka tidak perlu pergi ke bandara karena di bagian paling atas atap dak beton mensionnya sudah di lengkapi parkiran yang sangat luas untuk pesawat jet pribadinya dan bisa menampung hingga lima pesawat, sungguh luar biasa, secara keluarga Dimitri adalah Raja Rentenir yang kekayaannya bisa untuk membeli apapun yang mereka inginnkan, begitulah pandangan orang-orang yang mengenal keluarga Dimitri.
"Bersiap-siaplah kita akan segera berangkat," ucap Chintya kepada Sunny kemudian berjalan menuju kamarnya.
Sunny dan Dareen akan pindah ke rumah baru, mereka akan menempatinya selama enam bulan kedepan sampai Sunny selesai kelas dua, dan di lanjutkan dengan homeschooling hingga lulus sekolah. Kemudian Dareen dan Sunny akan kembali lagi menempati mansion keluarga Dimitri.
Semua sudah di persiapkan oleh Rudolf, karena berpikir jarak antara mansionnya ke sekolah sekitar empat hingga lima jam, jadi lebih baik Dareen dan Sunny menempati rumah yang jaraknya dekat dengan sekolahnya. Ya dapat di tempuh dengan berjalan kaki selama tiga puluh menit atau berkendara mobil maupun motor selama lima hingga sepuluh menit itu pun tergantung kecepatan kendaraannya. Tentu saja rumah yang di tempati tidak sembarangan, tetap dengan kemewahannya.
"Ya ampun, sayang, ini sangat mewah!" seru dan takjub Chintya memandang rumah mewah dua lantai di hadapannya, karena kediaman keluarga Gregorius tidak semewah rumah yang akan di tempati Sunny nantinya.
__ADS_1
"Mari, Ayah, Ibu," ajak Dareen seraya menggenggam tangan Sunny.
Sunny terkejut dengan sikap Dareen yang tiba-tiba menggenggam tangannya. Sunny hanya menurut saja saat Dareen melangkah masuk dan Sunny mengikuti langkahnya sambil pandangan matanya tak lepas dari tangan yang di genggam oleh Dareen.
Entah mengapa Sunny sangat nyaman di genggam Dareen dengan tangan kekar dan halusnya itu. Ya tangannya sangat halus melebihi kehalusan tangan seorang wanita, padahal menurut mertuanya, setiap malam hari Dareen selalu pergi berburu. Tapi mengapa tangan seorang pemburu sangat halus?
Sunny melangkahkan kedua kakinya mengikuti irama langkah kaki Dareen, Sunny tidak menghiraukan suara-suara di sekitarnya, Sunny hanya fokus pada genggaman tangan Dareen.
"Sudah sampai,"
"Apa? Sampai mana?" bingung Sunny dan langsung tersadar dari lamunannya, menatap kedua bola mata Dareen.
Dareen tersenyum seraya melepas genggaman tangannya dan langsung membuka pintu kamar. Ada rasa kecewa saat Dareen melepas genggaman tangannya. Sunny ingin seterusnya dalam genggaman tangan Dareen.
"Masuk, bersihkan dirimu dan beristirahat lah, aku akan keluar sebentar," ucap Dareen lembut setelah membuka lebar pintu kamar dan berlalu pergi.
Sunny memandangi punggung suaminya itu, ada kerumitan di dalam pikirannya saat ini.
*****
"Sunny!" seru Lidya berlari menghampiri Sunny.
Tetapi entah kenapa semenjak kejadian pelemparan bola basket oleh kakak kelasnya Revan, hubungan Sunny dan Lidya menjadi akrab, atau mungkin Lidya merasa bersalah atas insiden pelemparan bola basket itu, atau Lidya memang tulus ingin berteman dengan Sunny, entahlah, biarkan waktu yang menjawabnya.
"Kau kemana saja saat liburan kemarin?" tanya Lidya saat berada di hadapan Sunny.
"Hanya di rumah saja, kalau kau?" jawab Sunny berbohong, padahal dirinya saat itu sedang merayakan pesta pernikahan dan pindahan menempati rumah baru.
Sunny bersekolah di hari senin sampai jumat, sedangkan sabtu dan minggu hari libur.
"Aku menghabiskan waktu bersama kedua orang tuaku dan... bla bla bla...." Lidya asyik bercerita, sedangkan Sunny mendengarkan sambil sesekali tersenyum dan bertanya menanggapi cerita Lidya.
KRING... KRING... KRING
Suara bel istirahat berbunyi, dan seketika itu para siswa berhamburan ke kantin untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.
"Sunny! Kita ke kantin," ajak Revan yang sedang berdiri di depan kelas.
__ADS_1
Teman sekelas Sunny yang masih ada beberapa di dalam kelas memandang Sunny dan Revan bergantian, bertanya-tanya ada hubungan apa di antara keduanya.
Sunny yang di pandangi oleh teman-temannya hanya tertawa kikuk.
'Sepertinya akan ada gosip yang menyebar,' batin Sunny.
Tiba di kantin, Sunny, Lidya dan Revan menuju meja kantin bagian pojok, di sana sudah ada Nino dan Aldo, mereka berdua sahabat sekaligus teman sekelas Revan.
Sesampainya di meja kantin, Lidya langsung berjalan cepat dan duduk berhadapan dengan Nino. Sunny tau bahwa Lidya sangat menyukai Nino, Sunny hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Meja kantin berbentuk persegi panjang dengan enam kursi yang saling berhadapan. Sunny duduk berhadapan dengan Revan, sedangkan Aldo duduk di sebelah Nino.
"Ga nyangka bisa duduk berhadapan dengan Kak Nino," lirih Lidya yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Sunny yang mendengarnya hanya tersenyum menanggapinya.
Sunny sebenarnya tidak bisa duduk dengan tenang karena Revan sedari tadi terus memandanginya dengan tatapan penuh cinta. Apa? Cinta? Tidak boleh, karena sekarang status Sunny adalah seorang istri, istri dari Dareen Dimitri.
Sebisa mungkin Sunny harus menghindari Revan, ya harus, karena ia tidak mau dianggap sebagai istri yang suka selingkuh.
Sunny dengan cepat menghabiskan makanan yang sudah di pesannya kemudian pamit kepada ketiga kakak kelasnya dan menarik tangan Lidya paksa untuk kembali ke kelas, tentu saja Lidya sedikit protes atas tindakan Sunny yang sepihak itu, padahal Lidya masih ingin berlama-lama di hadapan Nino.
"Tunggu! Nanti kita pulang bareng?!" seru Revan berharap Sunny mau menerima ajakannya.
Seruan itu mengundang banyak mata para cewek yang berada di sekitar mereka. Sunny merasa tidak nyaman dengan tatapan mata kebencian dari para cewek itu.
Dengan cepat Sunny menjawab, "Maaf, aku di jemput kak,"
"Oleh ayahmu?" tanya Revan penuh selidik, karena takutnya Sunny di jemput oleh pria lain.
Sunny hanya menggangguk untuk mengiyakan pertanyaan Revan. Padahal Sunny berbohong, yang akan menjemput Sunny ya tentu saja sang suami yang selalu bersedia mengantar dan menjemputnya saat sekolah.
Sunny melihat sekilas tatapan para cewek itu yang sudah tidak lagi menatapnya dengan tatapan kebencian. Sunny dapat bernafas dengan lega, tetapi sepertinya hanya untuk sesaat.
Sunny sibuk memikirkan Revan saat berjalan di koridor menuju kelasnya dan mengabaikan celotehan Lidya mengenai Nino. Sunny bingung atas sikap Revan terhadapnya beberapa hari ini, apa yang terjadi padanya, apa terjadi sesuatu pada kepalanya? Sepertinya tidak, kalau pun terjadi sesuatu pada kepala, seharusnya dirinya karena dirinya yang terkena lemparan bola basket. Sunny mendesah perlahan.
Selama jam pelajaran, Sunny tidak fokus mendengarkan guru yang sedang menjelaskan pelajaran dan masih memikirkan tentang Revan yang terus saja menemuinya.
__ADS_1
Bel tanda pulang berbunyi, Sunny dengan malas memasukkan alat tulis dan buku pelajaran ke dalam tasnya. Lidya merangkul lengan Sunny dengan riang gembira, karena berpikir berkat Sunny dirinya bisa duduk berhadapan dengan Nino, cowok yang ditaksirnya sejak lama. Sedangkan Sunny berjalan dengan tidak semangat.