
2 tahun lalu di jembatan taman bermain
Revina merasakan jembatan yang di pijaknya sedikit bergoyang dan terdengar langkah kaki berjalan perlahan mendekatinya, dengan cepat Revina berbalik dan tersenyum lebar.
Tetapi senyuman itu tak bertahan lama, perlahan memudar saat di dapatinya ternyata yang datang bukan seseorang yang sedang di nanti-nantikannya.
Kenapa Alvian yang datang, bukankah hanya dirinya dan Bastian yang janjian bertemu di tempat ini, lalu kenapa ada Alvian dan dimana Bastian, pikir Revina sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Bastian.
Alvian tahu, Revina sedang mencari-cari Bastian, tetapi dirinya hanya diam saja berpura-pura tidak tahu sambil memendam amarahnya.
"Hai, Al, sedang apa kau di sini?" tanya Revina sedikit kecewa dan berusaha tersenyum.
"Ingin menemuimu," balas Alvian singkat.
"Ingin menemuiku? Bukankah seharusnya yang datang-,"
"Bastian,"
Ucapan Revina terpotong dengan ucapan Alvian. Revina terkejut mendengarnya, darimana Alvian tahu tentang pertemuan dirinya dan Bastian.
"Kau pasti terkejut, aku membaca chat yang dia kirimkan padamu," Alvian menjelaskan.
Revina pun diam, tak ingin berbicara apapun pada Alvian. Dirinya sungguh kesal kenapa juga chat milik orang lain di baca, sungguh tidak sopan, pikir Revina.
Memang awalnya Bastian yang mengiriminya chat, Bastian mengajaknya pergi ke taman bermain, dan tentu saja Revina menerima ajakan Bastian, karena Revina sudah menyukai Bastian semenjak pertama kali Bertemu.
Alvian marah sangat marah sebenarnya pada Revina, kenapa dia selalu menolak ajakannya untuk jalan bersama, sedangkan bersama Bastian dengan mudahnya Revina menerimanya tanpa ada penolakan sedikitpun. Tanpa sadar kedua tangannya terkepal kuat.
Alvian sangat menyukai Revina sejak pertama kali masuk ke sekolah menengah atas, Alvian terus saja berusaha mendekati Revina, tetapi selalu tidak di respon oleh Revina.
Tetapi saat Bastian datang sebagai siswa pindahan, Alvian melihat kedekatan Bastian dan Revina, hingga akhirnya Alvian mendekati Bastian hanya untuk berpura-pura menjadi temannya.
Dan saat tanpa sengaja, Alvian meminjam ponsel Bastian untuk berfoto karena ponsel miliknya kehabisan baterai lalu muncul chat balasan dari Revina, Alvian membacanya dan mulai bertambah kebenciannya terhadap Bastian.
"Kenapa kau lebih memilih Bastian daripada aku?" tanya Alvian langsung tanpa basa basi kepada Revina.
"Aku hanya menganggapmu teman, tidak lebih, Al," Revina menatap kedua mata Alvian dalam, mengungkapkan perasaannya.
"Tapi aku sangat menyukaimu, sangat mencintaimu, rasa cintaku ini sangat besar," Alvian menggenggam kedua tangan Revina.
Revina melepas paksa genggaman tangan Alvian, dan melangkah mundur perlahan.
"Maaf, Al, aku tidak bisa mengganggapmu lebih dari teman, karena aku menyukai orang lain,"
"Bastian kan, benar kan! Kenapa harus Bastian! Kenapa bukan aku!" seru Alvian tak terima atas pernyataan Revina.
__ADS_1
"Cinta tak bisa di paksakan, Al, aku tidak bisa menganggapmu lebih dari teman, maafkan aku, Alvian,"
Alvian marah dan mengepalkan kedua tangannya, "Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka Bastian juga tidak bisa memilikimu," senyum menyeringai terpatri di wajah Alvian, membuat Revina terkejut dan bergidik ngeri.
"A-Apa maksudmu?"
"Kau harus mati, Revina!" seru Alvian seperti orang kesetanan dan langsung mendorong Revina dari atas jembatan.
Revina tercebur ke dalam sungai di bawah jembatan itu dan kepalanya terantuk batu sungai hingga mengakibatkan Revina meninggal di tempat serta terbawa arus sungai yang cukup deras.
Suasana di tempat kejadian saat itu cukup sepi, sehingga tidak ada orang yang melihat kejadian itu.
Alvian tersadar, menyadari tindakan bodohnya yang mengakibatkan gadis yang sangat di cintainya itu kehilangan nyawanya. Alvian meneteskan air mata, menyesali tindakan bodohnya itu.
******
Revan terdiam sambil meneteskan air mata mendengar penjelasan Revina, kemudian berjalan mendekati Revina dan memeluk kakak tersayangnya dengan erat.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu, kak," Revan semakin mengeratkan pelukannya pada sang kakak.
Kakak beradik itupun larut dalam kesedihan yang mendalam.
Bastian juga ikut menangis, saat akan memeluk kedua kakak beradik itu, tiba-tiba saja Revan mendorongnya dengan cukup keras.
Bastian ingin protes, tetapi di tahannya, takut merusak suasana kedua kakak beradik itu.
******
"Sayang, kenapa Dareen dan Sunny belum juga pulang? Perasaanku tidak tenang, apakah terjadi sesuatu pada mereka berdua?" gelisah Chintya yang sedari tadi menunggu anak dan menantunya itu.
"Kau tenanglah, tidak usah khawatir, kita percayakan saja Sunny kepada Dareen, Dareen kan suaminya, aku yakin mereka berdua akan baik-baik saja," Frans mengusap lembut punggung sang istri untuk menenangkannya.
Frans dan Chintya sebenarnya akan pulang malam ini ke kediaman mereka, Frans dan Chintya sibuk berkemas, tapi sebelum itu, mereka berdua akan mengajak anak dan menantunya itu untuk mengunjungi Bastian, tetapi entah kenapa mereka berdua belum juga kembali ke mansion.
Sedari sore, perasaan Chintya sangat tidak enak dan tidak tenang, selalu kepikiran Sunny dan Dareen, apakah terjadi sesuatu terhadap anak dan menantunya itu.
Entahlah, Chintya hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga anak dan menantunya itu baik-baik saja.
Karena malam sudah sangat larut, akhirnya Frans dan Chintya berganti pakaian dan merebahkan diri di atas ranjang, mencoba memejamkan mata dan berharap keesokan harinya terbangun dengan perasaan baik-baik saja.
******
"Sunny, aku minta maaf, aku sungguh-sungguh tulus meminta maaf padamu," Revan menggenggam kedua tangan Sunny erat dan menatap lekat matanya.
"Iya, kak, aku sudah memaafkan kakak," ucap Sunny yang balik menatap Revan sambil mengeluarkan senyum manisnya.
__ADS_1
Tindakan Revan membuat Dareen marah, karena Revan terang-terangan sudah berani menyentuh sang istri di hadapannya.
Dengan kekuatan yang Dareen miliki, dalam sekejap saja dapat membuat Revan tersungkur jatuh terduduk di dasar goa. Dan secepat kilat Dareen langsung berdiri membelakangi Sunny dan menatap marah pada Revan yang sedang mengaduh sakit karena bokongnya menyentuh dasar goa.
******
Sementara itu di pojok dinding goa dekat peti kaca, Revina menghampiri Bastian lalu melingkarkan tangannya pada lengan Bastian.
"Bas, sepertinya akan ada peperangan, sebaiknya kita pergi, yuk," ajak Revina pada Bastian, karena dirinya tidak mau ikut campur masalah ketiga orang itu.
Bastian menyetujuinya, "Kita akan pergi kemana?"
"Kemana saja, asalkan bersamamu," ucap Revina malu-malu. Bastian gemas melihat tingkah Revina.
Bastian langsung menghilang bersama Revina, Bastian juga senang hanya berduaan saja bersamanya, karena sejak tadi, Revan selalu menghalangi kedekatannya dengan Revina, dan itu membuatnya kesal.
Bastian akan membawa Revina ke suatu tempat yang pastinya akan membawa keromantisan mereka berdua.
******
Dareen yang sangat-sangat marah kepada Revan akan memberi pukulan lagi ke arahnya, tetapi di halangi Sunny, Dareen pun menuruti perkataan istrinya itu.
"Kau apa-apaan sih! Kenapa memukulku! Aku sedang meminta maaf pada Sunny!" seru Revan seraya memukul-mukul pakaiannya untuk membersihkan kotoran yang menempel.
"Minta maaf sih minta maaf, tapi tidak harus berpegangan tangan kan!" seru Dareen tak mau kalah.
"Kau ini kekanak-kanakan, padahal usiamu lebih tua dariku," Revan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi tak apa, di sekolah, aku bisa puas memegang tangan istrimu itu... HAHAHA..." tawa Revan menggelegar di dalam goa dan kemudian melesat pergi secepat kilat.
"Tidak akan ku biarkan hal itu terjadi!" seru Dareen penuh amarah.
Dareen berbalik menatap Sunny, "Mulai saat ini, kau harus homeschooling, aku tidak mau kau berdekatan dengannya," tegas Dareen.
"Apa? kenapa begitu? Sekolah tinggal enam bulan lagi, lalu di lanjutkan dengan homeschooling, begitu kan perjanjiannya," protes Sunny, karena pasti akan sangat membosankan belajar sendirian, pikirnya.
"Tidak ada bantahan, aku akan mengatur semuanya," Dareen tidak suka di bantah.
"Dan satu hal lagi, jangan memberikan senyum manismu itu kepada pria lain, hanya aku yang berhak mendapatkan senyuman itu, mengerti,"
Sunny hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, kenapa Dareen jadi seperti ini, posesif sekali, pikir Sunny.
Dareen memeluk Sunny, "Kau hanya milikku, hanya milikku Sunny, aku tidak ingin orang lain mengambilmu dariku," Dareen melonggarkan pelukannya lalu mengecup kening Sunny sekilas dan kembali memeluknya sangat erat.
Sunny membalas pelukan Dareen, tanpa sengaja air mata Sunny mengalir di pipinya, Sunny tak menyangka bahwa Dareen sangat menyukainya. Sunny berharap Dareen akan terus seperti ini dan tidak melirik wanita lain.
__ADS_1
******