
"Bas, kau akan membawaku kemana?" tanya Revina penasaran.
Saat ini posisi tubuh Bastian berada di belakang tubuh Revina, kedua mata Revina di tutup oleh Bastian dengan kedua telapak tangannya, sambil berjalan perlahan menuju suatu tempat yang sudah di rencanakan oleh Bastian.
"Rahasia," bisik Bastian tepat di telinga Revina.
Revina mengerucutkan bibirnya, Bastian yang melihatnya merasa gemas, ingin sekali melahap bibir berwarna merah muda itu.
"Sudah sampai!" seru Bastian senang dan mengangkat kedua tangannya di udara.
Revina perlahan membuka kedua matanya dan sedetik kemudian langsung membulatkan kedua matanya dengan mulut yang terbuka lebar, terlihat pemandangan alam yang sangat indah. Pancaran cahaya matahari yang baru muncul dan kabut tipis yang masih menggantung, membuatnya serasa duduk di atas awan. Benar-benar sungguh indah. Dirinya bisa melihat penampakan matahari terbit dari atas bukit.
*Ilustrasi gambar dari google
Waktu itu, setelah menyatakan cinta, sebenarnya Bastian berencana akan mengajak Revina ke tempat ini, tentunya akan banyak persiapan, dari bawah bukit untuk menuju ke atas bukit saja di perlukan waktu sekitar tiga puluh menit, belum lagi melewati jalanan yang terjal dan tebing yang curam.
Tetapi saat ini dirinya sudah menjadi arwah, jadi dapat melesat dengan cepat tanpa harus bersusah payah mendaki, sungguh menyenangkan, pikir Bastian.
Keduanya terhanyut dalam keindahan alam yang tergambar di hadapan mereka, duduk di atas bebatuan sambil menautkan kedua tangan mereka, mereka sama sekali tidak ingin kebersamaan ini berakhir.
Revina merasakan sebelah tangannya seperti mati rasa, saat di lihatnya, terlihat telapak tangannya mulai transparan, Revina sedikit terkejut.
'Apa yang terjadi? Apa ini saatnya aku harus pergi?' Revina berkata dalam hati.
"Revina Foster, apakah kau bersedia menerima Bastian Gregorius sebagai kekasihmu?"
Lamunan Revina seketika itu juga buyar, mendengar pertanyaan dari Bastian. Revina spontan mengalihkan pandangan matanya kepada Bastian, menatap lekat ke arah bola mata dark brown milik Bastian.
Mata Revina berkaca-kaca mendengarnya, "A-Aku bersedia, sangat bersedia," air matanya seketika itu juga tak bisa di bendung lagi, mengalir membasahi kedua pipinya.
Revina menangis bahagia, sangat bahagia, akhirnya setelah sekian lama penantiannya tidak sia-sia, Bastian menyatakan cintanya pada Revina, Revina hanya bisa menangis bahagia, tidak sanggup untuk berkata-kata lagi.
Ya, selama ini Revina tidak bisa pergi dengan tenang, karena pembunuhnya belum mendapatkan pembalasan yang setimpal, dan juga Revina ingin mendengar pernyataan cinta dari Bastian.
Bastian menghapus air mata Revina yang terus membasahi pipinya tanpa henti.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, mulai saat ini, aku akan selalu bersamamu," Bastian langsung memeluk Revina, mencoba memberikan ketenangan agar tidak menangis lagi.
"Tapi... aku... harus... pergi..." ucap Revina di sela-sela tangisannya.
Kening Bastian berkerut, melepas pelukannya dari Revina, "Apa maksudmu?" bingung Bastian dan menatap lekat kedua bola mata honey milik Revina.
*Ilustrasi gambar dari google
Belum terjawab akibat kebingungannya, Bastian di kejutkan saat melihat tangan Revina yang mulai terlihat transparan.
"Ada apa dengan tanganmu ini?" tangan Revina mulai menghilang perlahan di genggaman tangannya, hanya terlihat transparan dan Bastian tidak dapat meraihnya lagi.
"Aku harus pergi, Bas," Revina sudah berhenti menangis, dan mulai berkata dengan tenang.
"Tidak," lirih Bastian.
"Sudah waktunya aku pergi, tidak ada lagi yang menghalangi kepergianku, aku sekarang bisa pergi dengan tenang," Revina tersenyum manis.
"Tidak, kau tidak boleh pergi, kita baru saja bertemu, kalau kau pergi, aku akan ikut denganmu dan ki---,"
"Tapi aku tidak mau kehilanganmu, kita baru saja bertemu, ini tidak adil bagi kita,"
"Ini memang takdir yang harus kita jalani, kita harus menerimanya, lupakan aku, Bas, dan carilah wanita penggantiku," Revina mencoba menahan air matanya agar tidak mengalir lagi membasahi pipinya.
"Aku hanya mencintaimu! Tidak ada wanita lain yang aku cintai selain kamu!" seru Bastian frustasi sambil mengacak rambutnya.
Revina hanya terdiam, setelah penantiannya yang cukup lama, akhirnya hari ini Revina bisa pergi dengan tenang, tidak ada lagi beban yang mengganjal di hatinya, semua terasa ringan bagi Revina.
Tetapi melihat Bastian yang terpuruk seperti ini, Revina tidak tega meninggalkannya, tetapi mau bagaimana lagi, sudah saatnya dirinya pergi.
Perlahan namun pasti, tubuh Revina mulai menghilang sedikit demi sedikit, Bastian menangkup kedua pipi Revina kemudian memajukan bibirnya untuk bersentuhan dengan bibir Revina.
Ciuman Bastian makin lama semakin dalam dan seiring itu pula, seluruh tubuh Revina benar-benar menghilang dari pandangan mata Bastian.
"REVINAAA...!!!" seru Bastian sambil menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
******
"Kalian sudah kembali?" tanya Chintya senang dan langsung memeluk putri kesayangannya itu dari belakang yang sedang duduk menikmati sarapannya.
Marcus memberitahukan Frans dan Chintya yang sedang berada di taman, bahwa Dareen dan Sunny sudah kembali ke dalam mansion dan sekarang sedang berada di ruang makan. Mendengar hal itu langsung saja kedua orang tua Sunny menghampiri keduanya di ruang makan.
"Sudah, ayah, ibu" jawab Sunny sembari meletakkan sendok dan garpu di atas piring kosong, kemudian menegak air putih dalam gelas kaca hingga habis, Sunny sudah selesai menyantap sarapannya.
"Syukurlah, kalian berdua tidak apa-apa," Chintya melepas pelukannya dan mengusap lembut kepala Sunny.
"Memangnya ada apa? Kami baik-baik saja, kami sedang berbulan madu... hehehe..." jawab Sunny asal.
Dareen yang mendengar ucapan Sunny, seketika itu juga langsung menatap tajam ke arah Sunny dan terbatuk-batuk, sepertinya tersedak ludahnya sendiri.
Sunny yang di tatap seperti itu, malah menatap tajam balik kedua bola mata grey Dareen, tapi Dareen tidak merasakan tatapan tajam dari Sunny, malah Dareen merasa seperti tatapan seseorang yang sedang mengejeknya.
Tiba-tiba suara ponsel Ayah Sunny, Frans berdering, Frans lalu menjauh dari hadapan ketiga orang itu untuk mengangkat teleponnya dan berbicara dengan seseorang di seberang telepon.
"Hari ini kami akan pulang ke kediaman kami, kami sudah lama meninggalkan kediaman dan para pekerja, tapi sebelum itu mari kita temui kakakmu," ajak Chintya bersemangat, karena memang sudah lama Chintya belum menemui putra kesayangannya itu.
"Ibu dan ayah lebih baik di sini saja, bukankah sudah ada pegawai papa yang membereskan kediaman dan pabrik," ucap Dareen yang sepertinya tidak rela bila kedua orang tua Sunny pergi, karena Dareen sudah mulai akrab dengan mertuanya itu.
"Kami me--,"
"Cepat kita ke rumah sakit, Bastian sudah sadar!"
Ucapan Chintya terpotong akibat seruan sang suami. Chintya dan Sunny yang mendengar itu langsung bergegas pergi ke kamar mengambil tas, sedangkan Dareen dan Frans menyiapkan mobil.
Sunny masuk ke dalam kamar, mengambil cardigan dan tas selempang hitamnya, sebelum keluar kamar, Sunny mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, dan matanya tertuju ke arah meja riasnya.
Di sana terlihat sebuah tabung plastik bening kira-kira berdiameter dua centimeter, memiliki tinggi kira-kira lima centimeter, bertutup biru dan di dalamnya terdapat pil berwarna putih yang berbentuk oval. Tanpa sadar Sunny menghampirinya dan memasukkan tabung bening itu kedalam tas selempangnya, Sunny berpikir pasti akan di perlukan nantinya.
Setelah semuanya siap, mereka akhirnya langsung pergi menuju ke rumah sakit. Mereka menaiki mobil dengan di sertai supir pribadi.
Frans duduk di depan bersama supir, sedangkan Chintya, Sunny dan Dareen duduk di belakang.
'Jika kakak kembali, lalu bagaimana dengan Revina?' batin Sunny.
__ADS_1
Sunny mengetahui jika kakaknya sangat menyukai, bahkan mencintai Revina. Jika Bastian kembali ke raganya, maka mereka akan berpisah untuk selama-lamanya.
******