Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 11


__ADS_3

Dareen berlari menghampiri Sunny, "Kau tidak apa-apa?" tanya Dareen pada Sunny yang sudah naik ke tepian dan duduk di atas batu yang sebelumnya di duduki Dareen.


Beruntunglah Sunny dapat menghindar, sebenarnya Sunny tidak tau bila akan ada orang yang mencelakainya, tetapi tiba-tiba saja kalung yang di pakai Sunny terangkat dan menariknya kuat hingga ke tepian air terjun, hingga Sunny berhasil selamat dari batu besar yang akan menghilangkan nyawanya itu.


'Terima kasih,' batin Sunny gemetaran sambil memengangi erat kalung yang di pakainya itu.


Sunny masih gemetaran di dalam pelukan Dareen, pikiran Sunny tiba-tiba kosong. Dareen menatap ke atas tebing dan langsung melesat menuju pria bertopeng emas itu.


"Siapa kau! Kenapa kau mencelakai istriku!" geram Dareen dan memunculkan kedua bola mata merahnya, gigi taring dan cakarannya yang tajam.


"Nyawa harus di balas dengan nyawa," ucap pria bertopeng emas dengan dingin.


"Apa maksudmu?!"


"Kau tidak usah ikut campur, ini urusanku dengan dia!" bentak pria bertopeng mengepalkan kedua tangannya.


"Dia adalah istriku, jadi ini menjadi urusanku juga!" Dareen tak kalah berseru.


"Baiklah kalau itu keinginanmu, kita lihat siapa yang menang... HAHAHA...." tawa menggelegar dari pria bertopeng emas dan melesat pergi menghilang dari hadapan Dareen.


*****


"Kau mengenal pria bertopeng itu?" tanya Dareen sambil mengusap lembut rambut Sunny di pelukannya.


Sunny dan Dareen masih berada di rumah pohon dan keduanya sedang berbaring di ranjang. Sunny sudah sedikit tenang sekarang.


Sunny menggelengkan kepalanya, "Tidak, siapa dia? Aku baru melihatnya," memandang kedua bola mata grey Dareen.


Dareen hendak mengatakan perihal percakapannya dengan pria bertopeng itu, tetapi di urungkanya.


"Tidak apa, sebaiknya kau tidur," Dareen membetulkan letak bantal kepala Sunny, mengecup keningnya sekilas dan merangkulnya erat.


"Jangan takut, aku akan selalu berada di sisimu,"


*****

__ADS_1


Dareen membuka lemari pendingin makanan, tinggal tersisa satu botol cairan berwarna merah, Dareen meminumnya setengah botol dan berniat akan pergi berburu, tetapi perasaan hatinya sungguh tidak enak meninggalkan Sunny sendirian, Dareen bingung, ditengah kebingungannya akhirnya Dareen memutuskan akan berburu di sekitaran rumah pohonnya.


Beberapa menit berlalu, Dareen heran tidak ada hewan satu pun yang nampak di hadapannya, tidak seperti biasanya pikir Dareen.


Akhirnya Dareen memutuskan untuk melangkah lebih jauh ke tengah hutan, sebelum melesat, Dareen memandangi lama rumah pohonnya.


'Tunggu aku, aku akan segera kembali,' dan kemudian Dareen melesat jauh ke tengah hutan.


*****


TAP... TAP... TAP


Suara langkah kaki perlahan memasuki rumah pohon, langkahnya berhenti tepat di depan ranjang yang di tiduri Sunny, senyum menyeringai menghiasi wajahnya. Perlahan membuka selimut yang menutupi tubuh Sunny, membelai pipi Sunny perlahan dengan tangan yang terbungkus sarung tangan hitam.


Menggendong tubuh Sunny ala bridal style dan berkata, "Kau ada di genggaman tanganku sekarang... HAHAHA...." tawa menggelegar memenuhi rumah pohon itu.


Sebelum melesat pergi, pria bertopeng itu meninggalkan sebuah catatan di atas ranjang.


*****


Dareen bergesas melesat menuju ke rumah pohon, sesampainya di rumah pohon itu, Dareen melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ranjang, Dareen terkejut tidak ada Sunny di atas ranjang itu, hanya ada selembar kertas bertuliskan.


'Jika kau ingin menyelamatkan istri dan kakak iparmu, datanglah ke goa petir'


Goa petir adalah goa yang berada sangat jauh di tengah hutan, bila memasukinya akan tampak di bagian langit-langit dan lantai goa ada bebatuan alam berbentuk zig zag yang sangat lancip menyerupai kilat. Bila kulit kita tergores sedikit saja pada bebatuan alam yang lancip itu, maka akan menimbulkan sensasi panas dan terbakar menjalar ke seluruh tubuh, seolah-olah seperti kita benar-benar tersambar petir.


Setelah membaca isi dari kertas tersebut Dareen termenung sejenak, kata-kata 'kakak ipar' memenuhi pikirannya. Bukankah Bastian sedang koma di rumah sakit, apa dia juga membawanya.


Dareen tersadar dari pikirannya, langsung meremas kertas yang sudah di bacanya dan langsung melesat pergi menuju goa petir.


******


Sunny membuka kedua matanya secara perlahan, mengedarkan pandangannya ke segala arah, pencahayaan hanya menggunakan obor, dilihatnya sekeling hanya ada bebatuan berwarna gelap berbentuk zig zag dengan ujung yang lancip di bagian langit-langit menghadap ke bawah sedang yang berada di lantai bagian ujungnya menghadap ke atas.


'Apa ini di goa?' tanya Sunny dalam hati.

__ADS_1


Sunny berusaha mencari keberadaan sang suami, Dareen, tetapi nihil, hanya ada dirinya di sana.


Sunny mendapati dirinya tertidur di atas bebatuan berwarna putih tanpa di alasi apapun, dengan masih mengenakan pakaian lengkap dan langsung memegang kalung yang ternyata masih melingkar di lehernya.


Sunny turun secara perlahan dari atas bebatuan yang di tidurinya, kemudian berjalan mengikuti ke arah cahaya yang di lihatnya sambil pandangan matanya tetap waspada terhadap keadaan sekitarnya.


"Kak Bastian," lirih Sunny dan spontan membelalakkan kedua matanya terkejut, tak percaya dengan apa yang di lihat di hadapannya.


Dengan cepat Sunny berlari ke arah Bastian yang tertidur di dalam peti kaca, pakaian yang di gunakan Bastian adalah pakaian yang sama saat terjadinya kecelakaan dua tahun yang lalu.


"Kak, bangun kak, kenapa kakak bisa ada di sini? Bangun kak, aku Sunny kak,"


Sunny mengetuk-ngetuk peti kaca di hadapannya, berusaha membangunkan Bastian, karena tidak ada respon dari Bastian, Sunny menangis sejadi-jadinya hingga sesegukan.


Ada kerinduan yang mendalam terhadap sang kakak, hari-harinya di lalui terasa hampa, karena Sunny terbiasa curhat dan bercerita kepada sang kakak tentang segala hal yang di alaminya.


Sunny terus menerus menangis dan tanpa sadar ada seseorang yang sudah berada di hadapannya saat ini.


"Kau sudah bangun rupanya," suara pria di hadapannya sontak membuat Sunny menatap ke arahnya.


Ada sedikit rasa takut di dirinya saat melihat pria bertopeng emas itu.


"Si-Siapa ka-kau?" Sunny tergagap dan perlahan berjalan mundur.


"Kita bahkan saling mengenal," ucapan datar pria bertopeng membuat Sunny terkejut.


"Saling mengenal?" Sunny mengernyitkan keningnya mencoba mencari tau siapa sosok pria di balik topeng emas itu.


Senyum penuh kebencian terpancar dari pria bertopeng emas itu, Sunny bergidik ngeri menatapnya. Pria bertopeng itu selangkah demi selangkah perlahan menghampiri Sunny, Sunny pun mundur selangkah demi selangkah menghindar menjauh dari pria bertopeng itu.


Pria bertopeng itu menghentikan langkahnya. Perlahan membuka topeng emasnya di hadapan Sunny. Sunny terus menatap pria bertopeng itu dengan penasaran, siapakah sosok di balik topeng emas itu.


Sunny terkejut, benar-benar sangat terkejut setelah mengetahui siapa sosok di balik topeng emas itu. Sunny menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang di lihatnya itu.


"K-Kak Re-Revan,"

__ADS_1


__ADS_2