
"Kakak merindukan Kak Revina?" tanya Sunny sambil menyelimuti punggung Bastian dengan selimut rumah sakit.
Bastian yang saat ini berada di balkon rumah sakit, sedang asyik memandangi langit malam penuh bintang, menatap sekilas ke arah Sunny dengan wajah sedihnya mencoba untuk tersenyum, dan kembali memandang ke arah langit malam.
Setelah di lakukan berbagai macam pemeriksaan dan pengecekan oleh dokter mengenai kondisi tubuh Bastian, Bastian dinyatakan sehat, otak serta organ dalam bagian tubuhnya juga sehat.
Dokter sebenarnya cukup terkejut dengan kondisi tubuh Bastian, karena jarang sekali pasien yang mengalami koma bertahun-tahun tetapi masih memiliki memory dan organ dalam masih berfungsi dengan baik. Atau mungkin karena koma selama dua tahun, jadi tidak begitu mempengaruhi fungsi otak dan organ dalam tubuhnya, entahlah mungkin ini mukjizat dari Tuhan.
Tetapi infus masih menempel di tubuhnya, untuk memberikan cairan ke dalam tubuhnya.
Sunny mengikuti arah pandangan mata Bastian dan tersenyum, "Pasti di salah satu bintang itu ada Kak Revina, dan Kak Revina juga sedang melihat kakak," Sunny mencoba menghibur Bastian.
Bastian hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan adiknya itu sambil terus menatap ke arah bintang-bintang yang bertebaran di langit malam.
"Kakak harus sembuh, kakak harus kuat, kakak jangan seperti ini, aku ingin Kak Bastian yang dulu ceria dan selalu menjahili aku, bukan Kak Bastian yang seperti ini," ucap Sunny dan tanpa terasa meneteskan air mata.
Bastian yang mendengar ucapan Sunny langsung menolehkan kepalanya melihat ke arah adiknya yang sedang menghapus air matanya sambil tertunduk.
Bastian menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi Sunny, mendongakkan wajahnya untuk menatap dirinya.
"Maafkan aku, aku hanya belum bisa melupakan cinta pertamaku... aku berharap Revina adalah cinta pertama dan terakhirku... tetapi kenyataannya..."
Bastian tidak menyelesaikan ucapannya lalu melepas kedua tangannya dari pipi adiknya itu.
"Iya, aku tahu apa yang kakak rasakan saat ini... mungkin... aku juga akan seperti kakak bila kehilangan suamiku," ucap Sunny sambil menundukkan kepalanya.
Bastian mengusap lembut belakang kepala Sunny, "Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi padamu, kau harus memberitahuku bila suamimu berbuat hal-hal yang membuatmu menangis, aku akan memukulnya dengan gagang sapu... hehehe..."
Bastian tertawa mencoba menghibur adik kesayangannya itu. Sunny yang mendengar perkataan kakaknya itu pun ikut tertawa bersama.
******
Di dalam sebuah kamar yang bernuansa gelap dengan cahaya lampu yang temaram, Revan duduk menyendiri di meja belajarnya sambil memegang sebuah foto sang kakak yang sedang tersenyum, terlihat raut kesedihan yang mendalam akibat kehilangan sang kakak tersayangnya.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana kak? Aku harus menerima atau menolak tawaran iblis itu?"
Revan bertanya pada sebuah foto yang di pegangnya seolah-olah sedang berbicara kepada sang kakak, yang tentu saja tidak akan mendapatkan sebuah jawaban.
Revan hanya bisa menghela nafas pasrah, dirinya bingung harus minta pendapat kepada siapa saat situasi seperti sekarang ini.
******
"Kakak, istirahatlah, aku akan menemanimu di sini," ucap Sunny seraya menutup tubuh Bastian dengan selimut hingga sebatas leher.
"Baiklah, tapi sebelum aku tidur, ceritakan kepadaku, bagaimana kau bisa menikah dengan putra Tuan Rudolf? Dan hal menarik apa saja yang aku lewatkan selama ini?" Bastian meminta penjelasan kepada Sunny.
Sunny terdiam beberapa saat, memikirkan darimana dirinya harus memulai bercerita.
"Hmmm... itu... awalnya ayah yang menjodohkanku dengan Dareen, dan... bla...bla...bla..."
Sunny terus bercerita mulai dari perjodohannya, keuangan keluarga yang mulai menipis untuk biaya rumah sakit dan sekolah, pabrik yang harus di jual, saat Sunny di sekolah bersama teman-temannya dan banyak lagi. Bastian mendengarkannya dengan berbagai macam ekspresi dan sesekali menanggapinya.
Dan sekarang rasanya beban yang mengganjal di hati kedua kakak beradik itu mulai terlepas satu persatu. Mereka berdua berharap, kedepannya akan baik-baik saja dan tidak ada hal-hal yang bisa memisahkan orang-orang yang mereka sayangi lagi.
Saat Sunny sedang asyik bercerita, ternyata yang di ajak bercerita malah tertidur, ya Bastian tertidur pulas, seolah-olah Sunny sedang menceritakan dongeng sebelum tidur.
Sunny merapikan selimut yang menutupi tubuh Bastian kemudian berlalu pergi menuju sofa.
Sunny menyalakan televisi yang ada di kamar rawat inap itu sembari menunggu Dareen pulang berburu.
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...!!!
Suara getar ponsel Sunny di atas meja, Sunny melihat siapa si pemanggil di layar ponselnya, 'Papa Rudolf'.
Begitu mengetahui nama si penelpon, Sunny langsung mengangkatnya.
"Malam papa," sapa Sunny.
__ADS_1
"Malam, apa Dareen ada bersamamu?" tanya Rudolf dari seberang telepon.
"Tidak pa, Dareen sedang berburu,"
"Bila Dareen sudah pulang, katakan padanya, besok kau dan Dareen pulang ke mansion utama, lalu kemari menyusul papa dan mama, untuk urusan sekolahmu dan perjalanan kalian berdua, Hendrik sudah papa perintahkan untuk mengurus dan menyiapkan semuanya," jelas Rudolf.
Kening Sunny berkerut, "Memangnya ada apa pa? Apa terjadi sesuatu?"
"Besok saja di sini papa dan mama akan menjelaskannya kepada kalian berdua, dan salam untuk kakakmu Bastian, papa tutup ya teleponnya, agar kau bisa istirahat,"
Saat Sunny akan menjawab ucapan papa mertuanya itu seketika itu juga Rudolf menutup teleponnya, Sunny mengetahuinya sekarang, bila papa mertuanya itu telepon, harus di dengarkan baik-baik saat berbicara karena sangat cepat dan langsung pada intinya.
Sunny menghela nafas perlahan, sebenarnya ada apa, kenapa seperti terburu-buru sekali.
Lama menunggu Dareen yang tak kunjung datang padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, akhirnya Sunny tertidur di sofa dan di depan televisi yang masih menyala.
******
Keesokan paginya, Frans dan Chintya sudah datang ke rumah sakit untuk menggantikan tugas Sunny dan Dareen menjaga Bastian.
Sunny menjelaskan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya harus pulang ke mansion utama dan menyusul mertuanya ke luar negeri.
Frans dan Chintya awalnya bingung kenapa mendadak sekali, namun Dareen berbohong dengan berkata bahwa akan mengenalkannya dengan dunia bisnis padanya dan Sunny, sebagai pengganti kedua orang tua Dareen ke depannya. Frans dan Chintya pun menganggukkan kepala tanda mengerti.
Dareen dan Sunny pamit kepada Frans, Chintya dan Bastian untuk pulang menyusul Rudolf dan Rebeca.
Sesampainya di mansion utama, Dareen dan Sunny langsung membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu bergegas menuju ke bagian atas rumahnya untuk menaiki pesawat jet pribadi. Benar kata Rudolf, semua keperluan untuk keberangkatannya telah siap, jadi sepasang suami istri itu pun tinggal melangkahkan kakinya menuju pesawat.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa papa menyuruh kita menyusulnya?" tanya Dareen penasaran kepada Sunny saat sudah berada di dalam pesawat.
"Entahlah, kita akan mengetahuinya setelah sampai," jawab Sunny sambil mengendikkan bahunya.
******
__ADS_1