Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 32


__ADS_3

Tak terasa sudah satu minggu lamanya keberadaan Rebeca, Rudolf, Dareen, Sunny dan Matilda di dunia liontin, mereka sangat menikmati kebersamaan mereka semua saat ini, rasanya kebersamaan ini tidak ingin cepat berlalu.


Rudolf sempat bertanya kepada Levia apakah televisi, ponsel dan laptop bisa di pergunakan di dunia liontin ini. Levia tidak bisa menjawabnya karena belum pernah membawa ketiga benda itu ke dalam dunia liontin.


Kalau mixer untuk membuat kue seperti beberapa hari yang lalu di pergunakan oleh Sunny itu bisa karena hanya membutuhkan listrik saja, di dunia liontin sudah ada listrik itu pun berasal dari kekuatan yang Levia miliki, sedangkan untuk televisi, ponsel dan laptop membutuhkan jaringan yang sangat luas untuk berkomunikasi, jadi Levia belum mencobanya.


Rebeca lebih senang bila tanpa televisi, ponsel dan laptop karena ingin menikmati hidup dan sejenak melupakan hal-hal yang selalu menyita waktu dan pikirannya itu. Jadi dirinya benar-benar bisa merasakan kebersamaan bersama keluarga serta saling bercerita tentang perasaan masing-masing.


...******...


Siang sudah berganti malam, langitpun nampak gelap dengan bertabur bintang, di dunia liontin sama sekali tidak ada binatang satu pun, jadi saat malam hari suasa di luar rumah benar-benar hening.


Sunny sedang duduk bersandar sambil menaikkan kedua kakinya keatas salah satu kursi rotan yang ada di teras rumah. Kedua mata cokelatnya memandang ke atas langit yang bertabur bintang sambil pikirannya menerawang.


Kreeek...!!!


Suara pintu yang terbuat dari kayu terbuka, menampilkan seorang gadis cantik dengan dress dan aksesoris ungunya, menghampiri Sunny kemudian duduk di atas kursi rotan yang tepat berada di sebelah Sunny.


"Kau belum tidur?" tanya Levia sambil membawa toples kaca berisi kue kering buatan dirinya dan Sunny tadi pagi.


Levia meminta Sunny untuk mengajarinya membuat aneka macam kue-kue, dan itu sukses membuat Rebeca bersemangat untuk membuka toko kue dan Sunny lah yang akan mengelolanya nanti, setelah Rebeca mencicipi kue kering buatan Sunny.


Pertanyaan Levia sukses membuyarkan lamunan Sunny, Sunny memalingkan pandangannya ke arah Levia dan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Levia kemudian membuka tutup toples yang ada di pangkuannya, mengambil kue kering yang berada di dalamnya dan memakannya.


Sunny menghela napas pendek dan menganggukkan kepalanya lesu.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Levia penasaran sambil mengernyitkan keningnya.


Karena Sunny yang di lihatnya ini sangat berbanding terbalik dengan yang tadi siang bersamanya ceria di dapur sambil mengajarinya membuat kue kering. Sedangkan Sunny yang ada di hadapannya saat ini terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat. Ada apa dengan Sunny?


"Kau ingat perkataan Nyonya Nixon tempo hari? dia bilang bahwa Nenek Ero yang membuat kita saling bertemu satu sama lain, aku merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Nenek Ero, aku ingin bertemu dengannya dan menanyakan secara langsung mengenai hal ini," ucap Sunny sambil menatap ke arah Levia yang mulutnya penuh dengan kue kering.


Levia yang di tatap oleh Sunny lalu balas menatapnya, tetapi mulutnya hanya diam tak mengeluarkan suara apapun, hanya mengatup rapat dengan gerakan mengunyah.


"Ck... kau ini dari tadi hanya mengunyah saja, apa perutmu itu belum kenyang juga?"


Sunny sebenarnya sangat heran pada Levia, semenjak kue kering buatannya matang, Levia terus saja memakan kue itu tanpa henti, untung saja dirinya membuat tiga kali resep kue kering yang merupakan resep turun temurun dari sang nenek, jadi dirinya tidak perlu khawatir akan kehabisan stok.


Tetapi sepertinya tidak akan bertahan lama stok kue kering itu bila cara makan Levia seperti ini, Sunny menepuk keningnya sedikit kesal, karena pasti dirinya akan di minta sang mama mertua untuk membuat kue lainnya lagi.


Sunny bingung dirinya harus menangis atau bangga.


Bangga karena bisa memamerkan keahliannya dalam membuat aneka macam kue-kue.


Sepertinya keahlian yang di miliki Sunny menurun dari sang nenek karena setiap membuat kue, Sunny selalu memakai resep dari sang nenek dan selalu berhasil menghasilkan kue yang enak, tentu saja memakai bahan-bahan kue yang berkualitas tinggi.


"Kue buatanmu sangat enak, aku belum pernah memakan kue seenak ini," ucap Levia sambil menampilkan senyum lima jarinya kepada Sunny.


Jelas saja Levia belum pernah memakan kue-kue dari masa modern ini, karena dirinya hanya membuat makanan yang berasal dari masa ratusan tahun yang lalu saat dirinya masih bersama keluarganya.


Tiba-tiba pikiran Sunny melayang memikirkan Levia, sebentar lagi Levia akan pergi dan dirinya tidak akan lagi melihat Levia, kalaupun Levia bereinkarnasi entah kapan hal itu akan terjadi, apakah Levia akan tetap menjadi anak papa dan mama mertuanya atau akan menjadi anak orang lain, dirinya tak tahu, tetapi Sunny berfikir, mama mertuanya sudah berumur apakah mungkin akan mengandung lagi?


Sunny memandang ke arah Levia yang sedang memakan kue kering sambil terus tersenyum bahagia, Sunny pasti akan sangat merindukan wajah di hadapannya ini. Sunny berpikir akan membuatkan kue-kue yang enak sebelum Levia pergi, dirinya akan membuat kenangan terindah bersama Levia.

__ADS_1


Sunny pun mengambil kue kering dari dalam toples dan memakannya, saat sudah masuk ke dalam mulut Sunny langsung mengunnyahnya, terasa enak dan sedikit lumer dengan aroma susu, butter dan vanilla menyatu di dalam mulutnya, pantas saja Levia tidak berhenti memakannya.


Sunny baru benar-benar merasakan rasa kue kering buatannya ini, karena dirinya terlalu sibuk mencetak dan memanggang kue kering itu. Walaupun di bantu Levia, Rebeca dan Matilda tetap saja Sunny harus memeriksa dan membetulkan pekerjaan mereka, Sunny merasa seperti telah menjadi seorang chef yang sedang mengajarkan kursus pembuatan kue kering.


Malam sudah semakin larut akhirnya Sunny dan Levia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan tidur untuk melepas rasa kantuk dan lelah.


...******...


Sunny membuka pintu kamar yang di tempatinya bersama Dareen. Kamar yang ada di rumah Levia ada empat, masing-masing kamar di tempati oleh Rudolf dan Rebeca, Sunny dan Dareen, Levia dan terakhir Matilda. Levia dan Matilda tidak tidur dalam satu kamar tetapi tidur di kamar terpisah.


Sunny merasa sangat lelah sekali hari ini dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Dareen yang sudah memejamkan kedua matanya.


Sunny tidur membelakangi Dareen, tak berapa lama sebuah tangan kekar memeluk pinggang rampingnya, Sunny terperanjat kaget dan langsung berbalik sehingga kini tubuh Dareen dan Sunny saling berhadapan.


"Kau mengagetkanku, aku kira kau sudah tidur," kesal Sunny sambil memajukan bibir merah mudanya.


"Aku ingin melanjutkan yang kemarin tertunda," ucapan Dareen ini sukses membuat kedua pipi Sunny merona merah dan tersipu malu.


Tanpa banyak kata lagi, Dareen langsung menindih tubuh Sunny dan mencecap lembut bibir merah muda sang istri, Sunny mencengkram rambut Dareen dengan salah satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain melingkar di punggung Dareen.


Sunny seperti lupa akan rasa lelah yang di rasakannya tadi lalu membalas dan menikmati setiap ciuman dan sentuhan yang di berikan oleh sang suami, dirinya merasa terbuai dan seakan terbang melayang.


Dan malam ini merupakan malam yang sangat menggairahkan bagi sepasang suami istri yang sedang bercumbu mesra di atas ranjang.


Sinar matahari menyorot masuk dari celah jendela kamar, Sunny membuka perlahan kedua matanya, di dapatinya dirinya berada dalam pelukan sang suami, saat Sunny berniat menyingkirkan tangan Dareen yang melingkar di pinggangnya agar dirinya dapat turun dari ranjang, tiba-tiba Dareen mengeratkan pelukannya.


"Biarkan tetap seperti ini, aku masih ingin memeluk dan mencium aroma tubuhmu," ucap Dareen masih memejamkan kedua matanya. Sunny pun menurut dan tak berapa lama kembali tertidur karena sebenarnya Sunny masih mengantuk.

__ADS_1


...******...


__ADS_2