
Sunny menuruni anak tangga secara perlahan menuju ruang makan. Sesampainya di sana hanya ada Tuan Rudolf dan Nyonya Rebeca.
"Sini, sayang," Nyonya Rebeca menepuk kursi kosong di sampingnya. Sunny langsung menghampiri dan duduk di sebelah Nyonya Rebeca.
"Makanlah, kau pasti lapar," ucap Nyonya Rebeca tersenyum.
"Apa hanya kita bertiga saja ma?" tanya Sunny penasaran, karena di mansion sebesar ini mana mungkin kan tidak ada keluarga lain.
"Iya, sayang, memang setiap hari seperti ini, maka dari itu, kami sangat senang sekali saat kau masuk ke keluarga kami," jelas Nyonya Rebeca.
"Lalu... itu...."
"Kau akan mengetahuinya besok." sahut Tuan Rudolf cepat, karena mengerti akan pertanyaan Sunny, tentang putranya.
Sunny menganggukkan kepalanya mengerti lalu membalikkan piring yang berada di hadapannya, mengambil spaghetti dan langsung menyantapnya dengan lahap. Karena memang sedari pulang sekolah belum mengisi perutnya dengan makanan, hanya air mineral saja, itu pun hanya satu gelas saat di kediaman orang tuanya.
Selesai makan malam, Sunny diantar Nyonya Rebeca menuju kamarnya.
"Ini kamarmu, masuklah," ucap Nyonya Rebeca seraya membuka pintu kamar.
Sunny terpana dibuatnya, kamarnya benar-benar luas, ukurannya dua kali ukuran kamar tidur Sunny saat di kediaman kedua orang tuanya.
"Mama harap kau menyukainya, sayang. Mama yang memilihkan kamar ini untukmu,"
"Suka, suka sekali ma, terima kasih ma," ucap Sunny senang dan spontan memeluk Nyonya Rebeca.
Nyonya Rebeca terperanjat dan membalas pelukan Sunny, karena dirinya sudah lama tidak merasakan pelukan hangat seorang anak.
"Ganti pakaianmu dan tidurlah, kau harus istirahat, besok acara penting untukmu. Selamat tidur, sayang," ucap Nyonya Rebeca sembari melepas pelukan, mengecup lembut kening Sunny, dan berlalu pergi.
Sepeninggal Nyonya Rebeca, Sunny merebahkan diri di atas ranjang singlenya. Pikirannya menerawang menatap langit-langit kamarnya.
Sunny mengingat kejadian-kejadian yang sudah menimpanya selama beberapa hari ini. Sunny menghela nafas lelah.
"Apa yang akan aku hadapi kedepannya, apapun itu, aku harus kuat," lirih Sunny yang sudah sangat mengantuk dan seketika itu pula tertidur pulas tanpa berganti pakaian.
Dari balik jendela balkon kamar, muncul seorang pria berjubah hitam memasuki kamar Sunny, pria itu perlahan berjalan mendekati Sunny, merebahkan tubuhnya menghadap Sunny sehingga mereka saling berhadapan. Jari jemarinya membelai lembut pipi Sunny dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sunny. 'Strawberry' pikir pria berjubah hitam itu.
Pria berjubah hitam itu mengeratkan pelukannya kepada Sunny, Sunny yang masih memejamkan kedua matanya hanya melenguh dan ikut mengeratkan pelukannya sambil membenamkan wajahnya ke dada bidang pria berjubah hitam itu. Sepertinya Sunny sangat nyaman berada di dekapan pria berjubah itu.
__ADS_1
"Sudah lama aku menantikanmu," ucap pria berjubah hitam itu seraya tersenyum dan mengecup lembut pucuk kepala Sunny.
*****
Pria berjubah hitam berjalan mendekati Tuan Rudolf di ruang kerjanya yang sedang sibuk memeriksa beberapa laporan keuangan.
"Kau sudah menemuinya, nak?" tanya Tuan Rudolf yang hanya melirik sepintas, tangannya tetap sibuk membolak balik tumpukan kertas-kertas di hadapannya.
"Aku baru dari sana, pa" jawab pria berjubah hitam sembari duduk di hadapan Tuan Rudolf.
"Benar dia, yang kau cari selama ini, Dareen?" tanya Tuan Rudolf memastikan dan memandang lekat pria berjubah hitam yang adalah Dareen, putranya.
Dareen menganggukkan kepalanya. "Setelah penantian selama 10 tahun, akhirnya," Dareen menghela nafas sembari tersenyum.
Tuan Rudolf mengangguk mengerti kemudian melanjutkan aktifitasnya.
"Aku pergi," ucap Dareen seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi Tuan Rudolf.
"Jaga energimu untuk besok!" seru Tuan Rudolf saat dilihatnya Dareen sudah menutup pintu ruang kerjanya.
Tidak ada jawaban. Tuan Rudolf menghela nafas panjang.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, para tamu undangan dari kaum elit sudah banyak yang berdatangan, ada yang datang menggunakan pesawat pribadi yang di parkirkan di atap dak beton mansionnya yang sangat luas, kapasitas bisa untuk lima pesawat pribadi, ataupun mobil pribadi yang di parkirkan pada halaman samping yang menuju lantai basement mansionnya, bisa menampung hingga seratus mobil.
Sedangkan mansion Tuan Rudolf Dimitri sendiri memiliki hingga empat lantai, acaranya berlangsung di lantai tiga dan empat.
Memang ini keinginan Nyonya Rebeca untuk menjadikannya sebagai tempat acara pernikahan, karena sudah bertahun-tahun terasa kosong dan hampa suasa di mansion. Nyonya Rebeca ingin menghidupkan kembali suasana mansion yang sepi.
Nyonya Rebeca berjalan mendekati sebuah lemari yang memang khusus untuk menaruh barang-barang berharga.
Membuka lemari berlapis emasnya kemudian mengambil salah satu kotak berukuran kecil dan membukanya.
"Sudah saatnya cincin ini berpindah tangan," gumam Nyonya Rebeca tersenyum dan menutup kotak itu kembali seraya melangkah meninggalkan ruangan itu.
Nyonya Rebeca berjalan mendekati Sunny dan kedua orang tuanya di dalam sebuah ruangan khusus. Memberikan isyarat tangan kepada dua orang penata rias pengantin untuk meninggalkan mereka berempat.
Penata rias itu menundukkan kepalanya tanda mengerti dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Terimalah ini, sayang, ini cincin turun-temurun keluarga Dimitri, dan sekarang jatuh ke tanganmu," jelas Nyonya Rebeca seraya membuka kotak cincin. Sunny dan kedua orang tuanya terpana sejenak melihat cincin yang di kelilingi batu permata putih dan bertahtakan berlian ungu di tengahnya.
"Cantik sekali, ma!" seru Sunny antusias, tanpa sadar Sunny memakai cincin itu di jari tengah kirinya. Di pandangi berkali-kali sambil tersenyum.
"Terima kasih, Nyonya, atas perhatiannya kepada anak hamba," ucap Chintya -Ibu Sunny- membungkukkan badannya, di ikuti Frans -Ayah Sunny-.
Nyonya Rebeca memegang kedua bahu Chintya. "Jangan seperti ini Chintya, kita adalah keluarga, sekarang. Panggil saja namaku. Kau juga Frans," Nyonya Rebeca menatap Chintya dan Frans bergantian.
"Ma... ke--kenapa cincin ini tidak bisa di lepas...." panik Sunny sambil terus berusaha melepas cincin yang melingkar di jari tangannya.
"Memang seperti itu, sayang, hanya suamimu yang bisa melepaskannya," jelas Nyonya Rebeca sambil mengusap lembut punggung Sunny untuk menenangkannya.
Cklek....
Suara pintu terbuka, menampakkan salah satu pelayan laki-laki.
"Maaf, Nyonya, acara akan segera di mulai,"
Sunny dan kedua orang tuanya serta Nyonya Rebeca bersiap-siap menuju ke tempat acara.
Sunny takjub dengan dekorasi mewah pesta pernikahannya, tak terbayangkan oleh Sunny sebelumnya bahwa dia akan menikah dengan acara pernikahan yang wow, fantastis.
Sunny tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, matanya berkaca-kaca sambil berusaha menahan tangis bahagianya, seandainya Bastian -sang kakak- dapat hadir, Sunny akan sangat bahagia.
Sunny dan sang ayah terus berjalan perlahan mendekati seorang pemuda mengenakan setelan jas berwarna emas yang berwarna senada dengan gaun pengantinnya.
Banyak para tamu undangan yang berdecak kagum melihat kecantikan Sunny. Sunny hanya di rias dengan make up yang tipis karena di sesuaikan dengan usianya yang masih tujuh belas tahun.
Ada juga beberapa orang yang membicarakan perihal putra Tuan Rudolf yang tidak pernah muncul di hadapan publik. Tuan Rudolf menyebar berita bahwa putra semata wayangnya itu sedang melanjutkan kuliah sekaligus mengurus bisnisnya di luar negri, dan di saat kemunculannya ini banyak yang tidak menyangka ternyata putra Tuan Rudolf sangan tampan, jadi orang-orang berfikir sangat cocok dengan sang pengantin wanita.
Ayah Sunny melepas genggaman tangannya dan berlalu pergi menuju kursi kosong di sebelah Chintya.
Sunny menatap lekat pria di hadapannya.
"Mata itu... tapi tidak mungkin," gumam Sunny.
Sunny berpikir apakah pria ini, adalah pria berjubah hitam yang datang ke balkon kamarnya waktu itu atau bukan. Tetapi yang datang saat itu memiliki iris mata berwarna merah, sedangkan pria di hadapannya saat ini memiliki iris mata berwarna grey. Sunny bingung di buatnya dan masih memiliki tanda tanya besar.
*****
__ADS_1