Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 36


__ADS_3

"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Sunny kepada Dareen yang sedang duduk bersandar di tepi ranjang.


"Aku ingin minum," jawab Dareen lemah.


Sunny langsung menuangkan darah hewan yang ada di dalam botol kaca ke dalam gelas kaca dan memberikannya kepada Dareen, Dareen langsung meminumnya hingga habis.


"Apakah masih ada stok di dalam kulkas?" tanya Dareen yang menanyakan stok darah.


"Kau tenang saja, masih ada dua botol yang utuh, untung saja saat itu kau menyimpannya," ucap Sunny tersenyum menenangkan Dareen.


Dareen hanya membalas dengan senyuman dan anggukan saja, lalu tangannya menepuk bagian yang kosong di sebelahnya, memberi isyarat kepada Sunny agar dirinya duduk di sebelahnya. Sunny pun langsung bergegas naik ke atas ranjang dan menyandarkan kepalanya pada dada Dareen.


Dareen mengusap lembut rambut Sunny dan mengecup kepala bagian atasnya.


"Maafkan aku bila aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu," ucap Dareen dengan wajah datar dan memandang lurus ke depan.

__ADS_1


Sunny hanya diam mendengar ucapan Dareen, dirinya melingkarkan kedua tangannya pada perut sang suami dan mengeratkan pegangannya, dirinya takut terjadi apa-apa pada sang suami.


Lama tidak ada jawaban dari sang istri, Dareen memandang ke arah Sunny di lihatnya kedua mata Sunny sudah terpejam, itu menandakan sang istri sudah tertidur.


Dareen membaringkan Sunny di sampingnya kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher. Lalu Dareen beranjak dari atas ranjang, berjalan perlahan menuju balkon kamar hotel.


Hari sudah malam dan bulan bersinar terang, lampu-lampu dari gedung perkantoran yang menjulang tinggi masih terlihat menyala menandakan bahwa masih ada aktifitas di dalamnya.


Dareen dengan tubuh lemah dan sedikit gemeteran mencoba berdiri tegak sambil kedua tangannya menggenggam erat pagar pembatas balkon.


Dareen tersenyum kecut membayangkan bagaimana nasibnya besok dan apakah Sunny akan berhasil menghilangkan kutukan yang ada pada dirinya ini? Atau dirinya akan selamanya seperti ini?


Dirinya hanya bisa pasrah menerima ini semua. Seandainya dulu dirinya tidak bersikap semena-mena kepada orang lain, maka kutukan ini tidak akan ada pada dirinya.


Saat Dareen akan berbalik untuk masuk ke dalam kamarnya lagi, tiba-tiba sebuah cahaya putih melesat menuju samping dirinya, dan seketika itu juga berubah menjadi seorang nenek dengan pakaian compang campingnya.

__ADS_1


Ingatan Dareen puluhan tahun yang lalu muncul di kepalanya, nenek yang ada di hadapannya saat ini adalah nenek yang telah memberinya kutukan ini, dirinya tak tau harus senang atau sedih melihat nenek yang ada di hadapannya ini.


Kalau boleh jujur, dirinya ingin sekali mencekik nenek yang ada di hadapannya ini hingga tak bernafas lagi, gara-gara dia dirinya menjadi tidak bebas menikmati hidupnya, Dareen mendesah kesal.


"Terima kasih," ucap nenek pengemis yang ternyata adalah Nenek Ero.


Dareen mengernyitkan keningnya heran, kenapa nenek di hadapannya ini mengucapkan terima kasih, memangnya apa yang telah dirinya lakukan untuknya?


"Terima kasih? Terima kasih untuk apa?" Dareen benar-benar tidak mengerti hal ini.


"Aku akan bercerita sedikit padamu," ucap Nenek Ero sambil tersenyum.


Dareen hanya menganggukkan kepalanya perlahan dan duduk di atas kursi yang ada di balkon kamarnya itu.


Sebenarnya Dareen penasaran kenapa Nenek Ero yang tiba-tiba menemuinya dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Ada misteri apa di balik ini semua?

__ADS_1


...******...


__ADS_2