
Sunny merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran besar, setelah sebelumnya melakukan perjalanan melalui udara selama dua jam dan di lanjut dengan perjalanan melalui darat selama dua jam juga, hingga akhirnya tiba di hotel mewah yang sudah di pesan oleh sang papa mertua.
Sunny benar-benar merasakan lelah yang sangat amat di tubuhnya hingga tidak sanggup lagi untuk membuka kedua matanya dan akhirnya terlelap tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
Dareen yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi setelah melakukan ritual mandinya merasakan kesegaran pada tubuhnya, berjalan ke arah ranjang hendak merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
Senyum menyeringai muncul di wajahnya saat melihat sang istri tertidur, dirinya langsung naik ke atas ranjang dan memeluk erat pinggang sang istri, Dareen mendekatkan wajahnya ke wajah Sunny, di belai lembut pipi sang istri dengan jemari tangannya kemudian menciumnya, lalu jarinya beralih menyentuh bibir berwarna merah muda milik istrinya itu yang menurutnya sangat menggoda, Dareen mengecupnya sekilas, dirinya ketagihan dengan bibir merah muda milik sang istri dan mengecupnya berkali-kali.
Terdengar suara lenguhan Sunny, yang tadinya Dareen hanya mengecup bibir sang istri sekarang benar-benar menciumnya dan semakin memperdalam ciumannya. Dareen menempelkan ibu jari dan jari telunjuknya ke dagu Sunny bermaksud untuk membuka mulut Sunny agar Dareen benar-benar bisa memperdalam ciumannya dan memainkan lidahnya di sana.
Dareen terus memainkan lidahnya di dalam mulut Sunny dan salah satu tangannya ia mainkan di sekitar perut Sunny lalu menjalar ke arah punggung untuk membuka kaitan bra milik Sunny, dan sekarang tangan Dareen leluasa untuk menjelajah setiap bagian tubuh sang istri.
Setelah puas dengan bibir merah muda milik sang istri, Dareen menurunkan kecupannya ke leher Sunny, saat dirinya akan memberikan tanda pada leher mulus sang istri ia urungkan, karena dirinya masih memikirkan Sunny yang masih berstatus sebagai seorang pelajar.
Dareen masih terus memberikan kecupan-kecupan pada leher Sunny secara merata dan tangannya masih terus bergerilya meraba-raba tubuh Sunny dan tempat favorit Dareen adalah pada bagian dada sang istri, Dareen masih saja bermain-main di sana serta memberikan tanda di sekitar dada Sunny dengan penuh napsu.
Dareen mengurungkan niatnya untuk bergerilya pada bagian bawah tubuh sang istri, karena berfikir dirinya tidak akan kuat menahan godaan itu, jadi Dareen sudah cukup puas bergerilya pada bagian atas tubuh sang istri, akhirnya Dareen pun terlelap sambil memeluk tubuh Sunny, membenamkan wajahnya pada dada Sunny, dan mereka berdua pun melewatkan makan malam.
__ADS_1
...******...
Saat bangun dari tidurnya Sunny sangat terkejut mendapati kaitan branya terlepas dan merasakan nyeri pada bagian bibir dan dadanya serta ada banyak tanda kemerahan di bagian dadanya, belum lagi Dareen yang memeluknya sangat erat dan itu membuatnya sulit bangun dari atas ranjang, jadi terpaksa Sunny berdiam diri di atas ranjang menunggu hingga Dareen terbangun.
Saat Dareen terbangun, Dareen langsung mencium bibir Sunny dan memperdalam ciumannya, spontan Sunny membuka mulutnya dan Dareen pun memainkan lidahnya di sana. Di sela-sela ciumannya, salah satu tangan Dareen kembali bergerilya pada tubuh mulus Sunny, Dareen bermain di bagian dada milik Sunny dan itu menciptakan suara erangan dari mulut Sunny, dirinya menikmati sentuhan dan ciuman yang di lakukan sang suami, dirinya benar-benar terbuai.
Saat Sunny sedang merasakan sentuhan-sentuhan itu, Dareen menghentikan aksinya dan itu membuat Sunny sedikit kecewa, Dareen yang mengetahui hal itu kemudian berkata.
"Nanti malam kita lanjutkan lagi, kita lakukan yang lebih hot, oke sayang," bisik Dareen tepat di telinga Sunny, dan itu sukses membuat Sunny tersipu malu serta menampilkan semburat merah di pipinya.
Kemudian Dareen menggendong Sunny ke dalam kamar mandi, dan mereka pun mandi bersama untuk pertama kalinya selama mereka menikah.
Selesai sarapan, Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny dan Matilda -sang kepala pelayan- menaiki sebuah mobil dan akan menuju desa tempat tinggal Matilda, mereka akan bertamu ke rumah keluarga Nixon, mereka adalah keluarga yang memiliki kelebihan tentang meracik berbagai macam pil.
Dalam perjalanan, Dareen dan Sunny mendengarkan cerita Matilda tentang kehebatan keluarga Nixon dalam meracik berbagai macam pil dan juga dapat membangkitkan orang yang sudah meninggal.
Dareen dan Sunny sangat bersemangat dan antusias mendengarkan cerita Matilda, sedangkan Rudolf dan Rebeca biasa saja karena mereka berdua sudah pernah mendengarkan cerita dari Matilda sebelumnya.
__ADS_1
Sunny sangat bersemangat saat mendengar bahwa keluarga Nixon dapat menghidupkan lagi seseorang yang telah meninggal, dirinya teringat tentang Revina, kekasih kakaknya itu, Sunny berfikir seandainya saja ada tubuh Revina maka kemungkinan besar akan dapat di hidupkan kembali, sedangkan tubuh Revina sudah di kubur selama dua tahun lamanya dan pasti sudah menjadi tulang belulang, Sunny mendesah kecewa.
Tidak berapa lama, mobil yang di tumpangi keluarga Dimitri memasuki sebuah rumah yang bergaya seperti rumah panggung, di bagian kanan dan kiri rumah itu terdapat kursi-kursi yang berjajar sangat rapi di atasnya di tutup menggunakan terpal tenda yang sangat tebal untuk melindungi dari panas dan hujan, menurut Matilda itu adalah tempat untuk menunggu antrian. Tidak berapa lama mereka datang, mulai bermunculan lah beberapa orang untuk mengambil nomer antrian dan duduk di atas kursi sesuai nomer antrian yang telah di dapatnya. Matilda sudah menghubungi keluarga Nixon jauh-jauh hari jadi dirinya tidak perlu mengambil nomer antrian dan langsung masuk ke dalam rumah keluarga Nixon.
Keluarga Nixon membuka praktek pengobatan dan meramal dalam sehari hanya di batasi sebanyak dua puluh orang saja sesuai dengan kursi yang ada di halaman rumahnya, karena Nyonya Nixon tidak sanggup bila menerima lebih dari itu.
Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny dan Matilda berjalan mengikuti seorang pelayan memasuki sebuah ruangan, di dalam ruangan itu sudah ada seorang wanita yang sangat cantik duduk bersila di lantai yang di alasi karpet bulu yang sangat tebal memenuhi ruangan, jadi siapapun yang memasuki ruangan itu di harapkan melepas alas kakinya.
Mereka berlima pun duduk di hadapan wanita cantik itu dan sejenak menatap kagum pada wanita itu, Matilda berkata kepada Rudolf, Rebeca, Dareen dan Sunny bahwa wanita ini adalah Nyonya Nixon dan usianya sudah lima puluh tahun lebih dan Nyonya Nixon ini adalah generasi ke lima yang secara turun temurun mewarisi kemampuan dari nenek moyangnya itu.
Rudolf, Rebeca, Dareen dan Sunny yang mendengar penjelasan Matilda sangat terkejut, karena wanita cantik yang di lihat mereka di hadapannya ini terlihat seperti masih berusia dua puluh tahun, Rebeca tersenyum penuh misteri dan berpikir dirinya akan meminta pil awet muda.
Sunny memperhatikan Nyonya Nixon yang memakai pakaian serba hitam dan mengenakan jubah berwarna merah darah yang berhiaskan garis-garis emas, mengenakan eye liner hitam sedikit tebal dan runcing di ujung matanya serta lipstik merah darah dengan rambut panjang sejajar pinggang yang hitam berkilau di biarkannya terurai yang tetap menampilkan kesan cantik, awet muda dan glamor.
Di sekeliling ruangan itu bernuansa putih bersih, di atas dinding hanya tergantung jam dinding dan foto-foto, sepertinya foto-foto itu merupakan foto dari generasi-generasi terdahulu, dirinya mengetahui hal itu dari keterangan tulisan yang ada di dalam foto itu.
Saat Sunny melihat foto seorang nenek pada generasi ketiga, Sunny langsung membulatkan kedua bola matanya terkejut.
__ADS_1
"Bu-Bukankah itu, Ne-Nenek Ero!?" Sunny menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya ini.
******