
Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny, Levia dan Matilda telah sampai di hutan lumut merah. Mereka terkejut karena di sekeliling hutan itu di pagari pagar besi yang sangat tinggi, tingginya melebihi tinggi manusia pada umumnya. Mereka pun bingung bagaimana cara untuk memasuki hutan itu karena bagian depan pintu pagar di pasangi gembok.
Di lihat dari luar pagar hutan itu terlihat sangat luas di tumbuhi banyak pepohonan yang semuanya sama besar. Pada bagian atas pohon, daunnya tidak berbentuk seperti daun pada umumnya tetapi seperti brokoli, sepertinya sangat cocok bila di sebut 'Pohon Brokoli' pikir Sunny, dan di setiap bagian bawah pohon di tumbuhi jamur yang berwarna merah pada bagian atasnya sedangkan bagian badan jamur berwarna putih. Hutan itu tidak beralaskan tanah ataupun rumput yang berwarna hijau tetapi beralaskan lumut yang berwarna merah darah.
Bulan purnama yang semula berwarna putih sudah tertutup sebagian dengan bayangan berwarna merah. Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny, Levia dan Matilda sebenarnya ingin bergegas masuk ke dalam hutan lumut merah tetapi tidak mengetahui dimana letak kunci untuk membuka gembok yang menempel pada pintu pagar yang terbuat dari besi itu. Mereka pun sibuk dengan pikiran masing-masing, memikirkan alternatif lain untuk masuk ke dalam hutan lumut merah itu.
__ADS_1
"Sayang, bukankah kau bisa terbang?" tanya Rebeca pada Dareen yang sedang berdiri sambil bersandar pada salah satu pagar besi. "Keadaan fisikku saat ini sangat lemah, aku tidak bisa melakukan apa-apa mah," Dareen menampilkan wajah pucatnya tetapi tetap memunculkan ketampanannya. Rebeca pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ini sangat aneh, aku dan Sunny berkali-kali mencoba menggunakan kekuatan kami tetapi tetap saja tidak bisa, seolah-olah kekuatan kami hilang begitu saja," bingung Levia karena dirinya baru pertama kali mengalami hal seperti ini. Selama Levia hidup ratusan tahun tidak pernah sekalipun kekuatan yang dimilikinya menghilang, yang ada malah makin bertambah kekuatan yang dimilikinya tetapi saat ini dirinya sangat tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Rudolf, Rebeca, Dareen dan Matilda hanya bisa mendesah kecewa dan mereka pun berharap akan munculnya suatu keajaiban.
"Kalian sudah tiba," ucap Nenek Ero yang tiba-tiba muncul di depan pintu gerbang bagian dalam hutan lumut merah. Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny, Levia dan Matilda yang sedang termenung terlonjak kaget mendengar suara yang muncul secara tiba-tiba. Mereka secara bersamaan langsung melihat ke arah sumber suara dan langsung terkejut, mereka bingung kenapa Nenek Ero bisa berada di dalam hutan lumut merah? Bagaimana cara Nenek Ero masuk ke dalam hutan?
__ADS_1
Seketika itupun juga gembok langsung terbuka, Sunny menarik kembali liontin kalungnya lalu mendorong pintu pagar itu dan pintu pun langsung terbuka. Nenek Ero yang berada di dalam langsung memundurkan langkahnya agar tidak terkena pintu pagar besi. Saat Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny, Levia dan Matilda akan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam hutan, tiba-tiba Nenek Ero berseru.
"Tunggu! Hanya Dareen, Levia dan Sunny saja yang bisa masuk ke dalam hutan lumut merah, karena mereka bertiga yang berkepentingan di sini. Yang lain mohon tunggu di luar hutan atau kalian akan menjadi seperti mereka." Nenek Ero menjelaskan kepada keenam orang yang ada di hadapannya, lalu menunjuk ke arah patung batu berbentuk manusia yang di tutupi lumut berwarna merah. Sontak saja Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny, Levia dan Matilda terkejut bukan main melihat begitu banyaknya patung manusia yang tertutup oleh lumut berwarna merah. Patung manusia itu ada yang sedang berdiri, duduk, jongkok, tidur, bahkan ada yang sedang melakukan hubungan suami istri dan ada berbagai macam bentuk patung lainnya.
"Ta--Tapi bagaimana mungkin, sudah lama kami berdiri di luar hutan dan tidak nampak patung itu tetapi kenapa sekarang..." Rebeca tidak mampu menyelesaikan kata-katanya dan menatap patung manusia itu tidak percaya dengan apa yang di lihat di hadapannya saat ini. Rebeca berfikir, yang mengelilingi hutan lumut merah adalah pagar besi bolong yang di buat berselang seling, seharusnya dirinya dapat melihat patung manusia itu yang berada di dalam hutan, dan anehnya dirinya tidak bisa melihatnya dari luar pagar. "Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rebeca bingung sambil menatap ke arah Nenek Ero. Nenek Ero yang di tatap oleh Rebeca hanya tersenyum penuh misteri.
__ADS_1
...******...