
Levia yang sedang duduk-duduk santai di teras rumahnya sambil memakan kue kering buatan Sunny sangat terkejut, ketika tiba-tiba saja Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny dan Matilda muncul di hadapannya.
Saat Sunny akan kembali ke dunia nyata, Levia meminta Sunny membuatkan berbagai macam kue kering, dengan alasan untuk di jadikan cemilan karena berbagai macam kue-kue buatan Sunny sangat enak dan itu membuat Levia ketagihan.
Untuk itu Levia menyiapkan banyak toples dan setiap dua buah toples akan berisi satu macam jenis kue kering, bila ada dua puluh toples berarti ada sepuluh macam jenis kue kering bukan. Dan itu membuat Sunny tak habis pikir pada Levia, apa mungkin Levia dapat menghabiskan kue kering itu sendiri?
"Levia, cepat bawa pedang itu dan kita harus bergegas pergi ke hutan lumut merah," ucap Rebeca saat dirinya berada tepat di hadapan Levia.
"Apakah bulan purnama merah telah muncul?" tanya Levia dan langsung berdiri dari duduk santainya.
Rebeca hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Levia itu.
"Baiklah, tunggu sebentar," ucap Levia dan langsung bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil pedang berkepala naga itu.
Sepeninggal Levia, Rebeca melihat toples kaca yang ada di atas meja berisi kue kering yang tinggal setengah toples, lalu mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Apa dia tidak bosan memakan kue kering ini setiap hari?" tanya Rebeca pada dirinya sendiri lalu mengambil toples itu, membuka tutupnya dan memakan kue kering itu.
"Hemmm... enak, ternyata setelah di inapkan beberapa hari menjadi tambah enak, pantas saja Levia sangat menyukainya," gumam Rebeca dan terus memakan kue kering itu.
Rudolf yang melihat sang istri memakan kue kering mendekatinya dan langsung membuka mulutnya bermaksud ingin juga memakan kue kering itu. Rebeca yang melihat itu langsung menyuapkan satu buah kue kering ke dalam mulut sang suami, seketika itu juga Rudolf membelalakkan kedua matanya, ternyata benar gumaman sang istri, kue kering ini setelah di inapkan malah bertambah enak rasanya.
Keduanya pun langsung memandang ke arah sang menantu sambil tersenyum dan dengan tatapan penuh maksud tersembunyi. Sunny yang di tatap seperti itu oleh kedua mertuanya itu hanya menatap dengan tatapan bingung dan penuh tanda tanya besar.
'Ada apa dengan papa dan mama, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Sunny dalam hati.
Sunny yang mendengar ucapan Rebeca menjadi bertambah bingung dan berfikir bahwa dirinya tentu saja akan sibuk karena memang kan masih sekolah pasti akan sibuk dengan tugas sekolah dan ujian-ujian.
Sedangkan Dareen saat ini berada di taman dekat teras rumah, menghirup dalam-dalam nafasnya dan membuangnya secara perlahan. Tubuhnya menjadi segar dan sehat kembali setelah masuk ke dalam dunia liontin, Dareen sangat senang sekali dan menggerakkan tubuhnya seperti sedang berolah raga.
Sementara itu Matilda hanya duduk terdiam pada kursi goyang yang ada di teras rumah kayu bernuansa ungu itu. Pikirannya menerawang sambil melihat rerumputan hijau yang terbentang luas di hadapannya.
__ADS_1
Seandainya anak dan cucunya berada di sini pasti mereka akan sangat senang, dapat bermain lari-larian sepuasnya tanpa takut di tegur atau memecahkan barang-barang lagi di rumah.
Karena di desa tidak ada lapangan bermain, hampir semua tanah kosong sudah di bangun rumah dan pabrik-pabrik untuk mengolah hasil pertanian dan kerajinan lainnya, yang nantinya hasilnya akan di jual ke kota, sehingga cucu-cucunya hanya bisa bermain di dalam atau pun di belakang rumah yang tidak seberapa lebar.
Pikiran Matilda kembali lalu memandang ke arah Nyonya Mudanya itu.
'Apakah, jika aku mengutarakan maksudku ini pada Nyonya Muda Sunny, maka Nyonya Muda akan mengijinkan anak dan juga cucuku masuk ke dalam dunia liontin ini?' batin Matilda sedikit ragu.
Tetapi dirinya berpikir lagi, sepertinya saat ini kurang tepat untuk mengutarakan maksud hatinya itu, jadi lebih baik menunggu hingga semuanya selesai.
Tak lama kemudian Levia muncul di hadapan semuanya, dirinya membawa sebuah kain panjang berwarna putih susu di punggungnya.
"Aku siap, ayo kita menuju hutan lumut merah," semangat Levia sambil tertawa senang karena dirinya sudah tidak sabar lagi untuk mengakhiri penderitaannya ini, dan ingin cepat bereinkarnasi serta memiliki keluarga seutuhnya.
...******...
__ADS_1