
Disebuah taman yang indah dan terdapat aneka macam bunga, serta dibagian pojok taman terdapat air terjun. Diantara bunga-bunga yang sedang bermekaran. Duduklah seorang gadis cantik, gadis itu memiliki tubuh yang sangat langsing dan berkulit putih susu.
Gadis itu bernama Revina, yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Terdengar suara langkah kaki dari kejauhan menuju kearahnya. Namun, ia sudah dapat menebak siapa pemilik langkah kaki tersebut. Ia langsung tersenyum sambil pandangan matanya tetap tertuju pada beraneka ragam bunga dihadapannya itu.
Seorang pria tiba-tiba merangkulnya dari belakang. Revina memejamkan kedua matanya lalu menarik napas perlahan menghirup aroma tubuh sang pria yang sangat dirindukannya itu.
"Apa kau tidak merasa kedinginan? Kau sudah sangat lama berada diluar," ucap pria yang bernama Bastian.
Revina hanya menggelengkan kepalanya perlahan sambil membuka kedua matanya. Bastian melepas rangkulannya kemudian berjongkok dihadapan Revina yang duduk diatas kursi roda. Membelai lembut pipi sang kekasih yang berwarna putih pucat itu.
Revina menyentuh punggung tangan Bastian sambil tersenyum. Bastian merasakan sentuhan dingin dari tangan Revina. Kemudian tangannya beralih menggenggam tangan Revina yang terasa dingin itu.
"Apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Bastian penasaran. Ia sangat takut kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu. Ia pun tidak menyangka akan dapat bersama kembali bersama sang pujaan hatinya. Bastian tidak rela kehilangan Revina untuk yang kedua kalinya, bagaimanapun caranya ia harus menjaga pujaan hatinya itu.
__ADS_1
"Kebahagiaan," ucap Revina seraya tersenyum.
"Sungguh kau merasakan hal itu?" tanya Bastian lalu membalas senyum lemah sang kekasih.
Revina hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Apa yang ia katakan saat ini adalah hal yang sejujurnya dari hati yang paling dalam. Ia benar-benar merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Ia tidak menyangka dirinya akan dapat hidup kembali dan berkumpul bersama orang-orang yang sangat ia cintai.
Terutama Bastian, ia sangat mendambakan bertemu Bastian, sang kekasih. Walaupun ia tahu hubungannya dengan Bastian belum resmi. Namun, ia sangat yakin bahwa Bastian telah menganggapnya sebagai kekasih.
Revina juga tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya. Ia merasa dirinya tertidur sudah sangat lama dan sebagian ingatan masa lalunya ada yang hilang. Semakin ia mencoba untuk mengingatnya itu akan membuat keoalanya sakit. Apakah dirinya mengalami kecelakaan dan kemudian amnesia? pikir Revina.
"Sebaiknya kau masuk, tanganmu sangat dingin sekali," ucap Bastian lalu berdiri hendak mendorong kursi roda yang dinaiki sang kekasih masuk kedalam mansion mewah milik Revina pribadi.
Revina secepat kilat menahan tangan Bastian. Bastian kemudian berjongkok kembali dihadapan kekasihnya itu. "Apa ada yang kau inginkan?"
__ADS_1
Revina menganggukkan kepalanya sambil tersipu malu. Ia sungguh sangat malu berhadapan dengan Bastian dan ditatap dengan tatapan penuh cinta seperti saat ini. "Kau jangan menatapku seperti itu,"
"Oh... Jadi kau tidak suka bila Aku menatapmu?" Bastian berpura-pura marah dan memalingkan wajahnya dari Revina.
"Tidak... Bukan itu maksudku. Aku hanya merasa malu saat kau menatapku seperti itu," ucap Revina lalu menundukkan kepalanya.
Bastian kembali menatap Revina lalu mengangkat wajah kekasihnya itu untuk kembali saling menatap. Tersenyum sejenak lalu mengecup lembut bibir putih pucat sang kekasih.
"Apakah kau masih merasa malu?"
Hening, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Revina. Anggukan atau gelengan kepala dari Revina pun tidak ada. Kemudian Bastian mengecup bibir sang kekasih berkali-kali. Hingga membuat Revina tersenyum dan itu dijadikan kesempatan oleh Bastian untuk mencium dan menikmati bibir milik kekasihnya itu.
Sore hari itupun dilalui sepasang kekasih untuk saling melepas rindu setelah sekian lama terpisah. Baik Bastian maupun Revina benar-benar merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Mereka berdua berharap kebahagiaan ini tidak akan menghilang begitu saja.
__ADS_1
...***...