Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 38


__ADS_3

Hanya keheningan yang menyelimuti Dareen, Sunny dan Nenek Ero dengan pikiran mereka masing-masing yang menerawang.


"Aku akan melanjutkan ceritaku," ucap Nenek Ero memecah keheningan.


"Gadis itu selamat, tetapi tiga hari kemudian gadis itu akhirnya mati karena kehilangan banyak darah, padahal aku sudah memberinya pil penambah darah, entahlah mungkin itu sudah takdir, lalu kedua orang tua gadis itu sangat marah dan memprovokasi penduduk desa agar membenciku dan membakar rumahku, dan akhirnya aku beserta pelayan-pelayanku mati di tempat karena kami terkepung api dan tidak dapat menyelamatkan diri," Nenek Ero menghela nafas panjang mengingat kematiannya.


Dareen dan Sunny mendengarkan cerita Nenek Ero dengan serius.


"Karena aku di butakan oleh harta, aku melanggar pantangan yang sudah di sepakati para leluhurku, yaitu kami tidak di perbolehkan untuk membunuh dan menggugurkan kandungan, bila terbukti melanggar pantangan itu maka kekuatan itu akan di cabut dan akan mati secara mengenaskan, terbukti benar aku melanggar pantangan itu dan aku mati mengenaskan, entah apa yang merasuki diriku saat itu hingga aku melakukan perbuatan keji itu. Karena hal itu leluhurku dan juga Raja Akhirat sangat marah dan tidak mengijinkan jiwaku untuk naik ke akhirat. Aku terus menangis dan memohon ampun pada leluhurku dan juga Raja Akhirat, tetapi mereka acuh tak acuh seakan tak peduli padaku." Nenek Ero menghentikan ucapannya dan memandang lurus ke depan.


"Akan tetapi pada akhirnya mereka pun luluh dan memberiku tugas untuk membebaskan Levia dari pedang kutukan, setelah itu jiwaku akan bisa naik ke akhirat. Mereka tidak mengatakan apa-apa padaku tentang masalah yang di hadapi Levia, jadi aku harus mencari tahu semuanya sendiri, dan semua kejadian yang kalian alami adalah karena aku hingga akhirnya kalian dapat bertemu dan berhubungan satu sama lain," Nenek Ero memandang ke arah Sunny sambil tersenyum.


"Tentang tanggal kelahiranmu yang sama dengan suamimu itu, aku juga yang mengaturnya, tetapi soal kecelakaan kakakmu, aku tidak tahu sama sekali dan itu bukan campur tanganku. Sebenarnya suamimu bisa saja tidak terlibat dalam kejadian ini, tetapi dia begitu sombong padaku, aku terlanjur marah dan akhirnya memberi kutukan itu padanya," Nenek Ero memandang Dareen dengan menampilkan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Sebenarnya waktu itu aku ingin mendekatimu dan akrab denganmu, lalu aku akan menceritakan tentang Levia padamu dan seharusnya kau yang menusukkan pedang itu bukan istrimu, tapi karena sifatmu yang sombong itu aku jadi berubah pikiran lalu memberimu kutukan itu dan akhirnya aku berpikir untuk mencari gadis yang di bunuh oleh Levia dengan pedang kutukan itu," ucap Nenek Ero sedikit kesal sambil menatap Dareen.


"Maaf," Dareen menundukkan kepalanya dan mengucapkan kata itu dengan tulus.


Nenek Ero hanya tersenyum mendengar kata 'Maaf' yang keluar dari mulut Dareen. Kemudian Nenek Ero melanjutkan lagi ceritanya.


"Setelah aku selidiki ternyata Levia memang harus di tusuk tepat di jantungnya oleh gadis yang pernah di bunuhnya itu, akhirnya aku menemukanmu, Sunny, kau adalah reinkarnasi dari Putri Aurora," Nenek Ero menggenggam tangan Sunny.


"Aku?!" Sunny masih sedikit tak percaya dengan apa yang Nenek Ero ucapakan, padahal dirinya sudah mendengar dari mulut Levia.


Sunny membalas genggaman tangan Nenek Ero dan menganggukkan kepalanya dengan mantap. Lalu memeluk Nenek Ero dan sekilas tercium aroma daging yang terbakar dari tubuh Nenek Ero.


'Apakah ini akibat Nenek Ero mati terbakar, jadi aroma tubuhnya seperti aroma daging yang di bakar,' batin Sunny.

__ADS_1


"Hemmm... Nenek, kenapa wajah dan tubuh Nenek tidak terlihat awet muda seperti Nyonya Nixon?" tanya Sunny penasaran setelah melepas pelukannya.


Karena setau Sunny setiap keturunan yang mendapatkan kekuatan dari leluhurnya pasti akan terlihat awet muda seperti Nyonya Nixon yang di lihatnya itu.


"Itu karena aku melanggar pantangan itu, maka antara wajah dan usia sebenarnya di samakan. Sebelum aku melanggar pantangan itu aku terlihat lebih muda tiga puluh tahun," Nenek Ero terlihat sedih.


Sunny mengusap punggung Nenek Ero perlahan dan berharap Nenek Ero tidak bersedih lagi.


"Baiklah, karena semua sudah aku jelaskan, maka aku akan pergi, dan besok aku menunggu kalian di hutan lumut merah,"


Setelah mengucapkan itu Nenek Ero berubah menjadi cahaya putih kembali dan melesat pergi dari hadapan sepasang suami istri itu.


Dareen dan Sunny pun akhirnya memutuskan untuk kembali tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dan besok sesuatu yang mendebarkan akan terjadi.

__ADS_1


...******...


__ADS_2