
"Kau jangan pura-pura tidak tahu!" geram Revan pada Bastian dan mencengkram kerah bagian atas kemejanya.
Revan benar-benar tidak tahan akan sikap ketidaktahuan Bastian. Bastian memandang Revan dengan raut wajah bingung.
Sunny membelalakkan kedua matanya, "Ba-Bagaimana kau bisa menyentuh kakakku?"
"Aku sudah memberitahumu bahwa aku bersekutu dengan iblis, jadi aku bisa menyentuhnya," jelas Revan yang tangannya masih mencengkram kemeja yang di kenakan Bastian, seraya memandang tajam ke arah Sunny.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana kakakmu meninggal,"
Revan kembali memandang ke arah Bastian tajam.
Sunny memegang tangan Revan, memohon agar Revan melepaskan cengkraman tangannya dari Bastian, dan mendengarkan penjelasan dari Bastian.
******
2 tahun yang lalu, saat sebelum terjadi kecelakaan
"Tampan sekali kakakku Bastian Gregorius," puji Sunny sambil terus memandangi wajah tampan sang kakak.
Sedangkan Bastian hanya menampilkan tawa lima jarinya seraya menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
"Ya ampun kak, wangi banget, ga biasanya kakak begini, pasti ada sesuatu nih ya?" curiga Sunny.
Memang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah, Bastian memakai parfum, tapi kali ini berbeda, penampilannya sungguh berbeda dan wangi tentunya.
"Kakak mau menyatakan cinta... hehehe..."
"Sama Kak Revina, kah?"
"Tentu saja, memangnya siapa lagi gadis yang kakak sukai selain dia,"
Mantapnya sambil memeriksa kembali penampilannya di depan cermin, setelah semuanya di rasa oke, Bastian pun berlalu pergi meninggalkan sang adik di dalam kamarnya.
"Semoga berhasil kakakku, sayang!!" seru Sunny gembira.
Taman Bermain
Sesampainya Bastian di tempat yang sudah di janjikan bersama Revina, yaitu jembatan gantung yang berada di pojok taman bermain.
Memang sengaja memilih tempat di situ karena suasananya yang tidak terlalu ramai. Dibawah jembatan terdapat sungai kecil yang tidak terlalu lebar, tetapi cukup dalam dan aliran airnya cukup deras. Jarak dari atas jembatan ke sungai cukup tinggi, pengaman pada jembatan hanya di beri masing-masing dua tambang di kanan kirinya.
Bastian tidak mendapati Revina, melainkan ada Alvian seorang diri di atas jembatan itu.
"Hai, Al, sendirian aja," sapa Bastian ramah.
__ADS_1
"Bukan urusanmu!" seru Alvian kesal dan berlalu pergi meninggalkan Bastian yang penuh tanda tanya besar.
"Kenapa tuh anak, keselek kodok sungai kali ya," gumam Bastian seraya tertawa kecil.
Lama Bastian menunggu, sudah hampir tiga jam lamanya tetapi sang pujaan hati, Revina tidak kunjung datang.
Bastian menghubungi ponsel Revina tetapi tidak ada jawaban. Dengan langkah gontai akhirnya Bastian berjalan meninggalkan area taman bermain.
Bastian terus berjalan sambil tertunduk lesu. Saat mengangkat kepalanya, Bastian melihat Sunny di sebrang jalan, berlari cepat kemudian berseru bermaksud menahan Sunny agar tetap berada di sana. Bastian berencana akan mentraktir sang adik makan mie di tempat langganan.
Saat lampu penyebrangan jalan menunjukkan gambar orang melangkah berwarna merah, Bastian pun menyebrang jalan, namun naas, saat menyebrang jalan, tiba-tiba ada mobil melaju kencang dari arah berlawanan, dan tabrakan pun tidak dapat di hindari.
Hanya itu yang Bastian ingat.
******
Revan mendengarkan cerita Bastian dengan serius. Cengkraman tangannya sudah di lepas.
"Kau tidak berbohong?" tanya Revan penuh selidik.
Bastian hanya menggelengkan kepalanya lemas mengingat peristiwa itu.
"Aku pun tak tahu, kenapa kakakmu tidak datang waktu itu," ucap Bastian tak bertenaga.
"Jadi kakakmu datang? Tapi kenapa tidak menemuiku?" terkejut Bastian, "Apakah kakakmu di bunuh atau bunuh diri?" Bastian tidak menyangka akan hal itu, kalau memang Revina bunuh diri, apa alasannya, lalu bila Revina di bunuh, siapa pembunuhnya, dan apa motif pembunuhannya. Bastian bingung memikirkannya.
Revan memikirkan perkataan Bastian, sebenarnya kakaknya di bunuh atau bunuh diri.
Arrggghh...!!
Bastian gusar dan ingin cepat mengungkap kebenarannya.
Bila Revina sudah meninggal, berarti Bastian bisa bertemu kan, Bastian mengedarkan pandangannya ke penjuru goa, tapi tidak menemukan Revina.
"Apa kakakmu ada di sini?"
Lamunan Revan buyar mendengar pertanyaan Bastian. Sedetik itu juga pikirannya terbuka dan langsung mengucapkan mantra sambil bergumam dan memejamkan kedua matanya.
Revan sangat di butakan oleh dendamnya akibat kematian sang kakak, sehingga tidak berfikir jernih, kenapa tidak dari dulu saja Revan memanggil jiwa sang kakak hingga bisa menanyakan langsung perihal kematiannya, benar-benar bodoh kau Revan.
Tak berapa lama muncul sinar yang sangat terang hingga menyilaukan mata, perlahan sinar itu pun menghilang dan nampaklah seorang gadis cantik memakai dress putih sedikit longgar selutut di padukan dengan cardigan hitam pendek yang diikat bentuk pita di depannya, rambut hitamnya terurai indah, tersenyum di hadapan mereka bertiga.
"Revina!!" seru Revan dan Bastian bersamaan. Keduanya langsung berlari menghampiri Revina. Tapi naas, kepala keduanya saling bertabrakan.
"Kau minggir, aku yang lebih dulu memeluknya, karena aku adiknya!" seru Revan sambil mengusap kepalanya yang terasa cenat cenut akibat tabrakan antar kepala.
__ADS_1
"Tidak bisa! Aku adalah kekasih kakakmu, jadi aku yang lebih dulu memeluknya!" seru Bastian tak mau kalah.
"Memangnya kau sudah menyatakan cinta pada kakakku?!" protes Revan sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang dengan kedua mata melotot tajam pada Bastian.
"Aku..."
"DIAMMM...!!
Suara Revina menggelegar di dalam goa. Dan keempat orang yang mendengarnya otomatis menutup telinganya rapat-rapat.
Dareen yang semenjak tadi mendengarkan percakapan semuanya di balik dinding pembatas goa, akhirnya muncul dan langsung memeluk Sunny erat, membawanya pergi menjauh dari ketiga orang di hadapannya.
"Kau tidak apa-apa?" bisik Dareen di telinga Sunny.
Sunny terkejut sekaligus senang mendapati Dareen memeluknya erat, Sunny pun balas memeluk Dareen erat sambil menganggukkan kepalanya pada dada bidang Dareen.
Lelah berteriak, Revina terdiam dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk meredakan emosinya.
"Kalian berdua ini sungguh kekanak-kanakan!" kesal Revina dengan sikap kedua orang di hadapannya ini.
"Gara-gara kau, kau yang mulai duluan tadi, seharusnya kau yang mengalah padaku, aku kan lebih tua darimu," protes Bastian.
"Enak saja, kenapa aku harus mengalah padamu---,"
"Kalian berdua bisa diam tidak!" geram Revina, mengepalkan kedua tangannya seraya menghentakkan satu kakinya ke dasar goa.
Memandang tajam kepada kedua orang di hadapannya.
Sedangkan Revan dan Bastian yang dipandang oleh Revina hanya tersenyum canggung sembari menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal.
Sementara itu Dareen dan Sunny menyaksikan aksi ketiga orang di depannya sambil duduk diatas batu seraya memakan buah apel yang entah di dapatnya darimana. Seperti nonton bioskop tetapi ini di saksikan secara langsung, pikir keduanya.
Revina melipat tangannya di depan dada, "Sekarang katakan, siapa di antara kalian berdua yang memanggilku kesini?!" memandang Revan dan Bastian secara bergantian.
Spontan Bastian menunjuk ke arah Revan, dan Revan tunjuk tangan mengakuinya.
Revina memicingkan matanya memandang Revan, "Apa tujuanmu memanggilku?" Revina tersenyum, "Adikku tersayang," Revina menepuk-nepuk salah satu bahu Revan.
Revan menghela nafas sebentar, tatapan matanya dalam menatap Revina, "Aku ingin tau, bagaimana kakak mati?"
"Aku di bunuh," jawab Revina sedih mengingat kejadian itu.
"APA! SIAP YANG MEMBUNUHMU?!" seru Revan dan Bastian bersamaan.
Sedangkan sepasang suami istri yang duduk di atas batu, hanya menghentikan sejenak aksi suap-suapan buah anggurnya yang entah darimana di dapatkannya, memandang sejenak kearah ketiga orang di depannya kemudian melanjutkan lagi aksi saling suap-suapan buah anggur.
__ADS_1