
Sunny sedang menikmati sarapannya bersama Rudolf, Rebeca dan juga Dareen, tetapi Sunny sangat heran dengan tatapan ketiga orang di dekatnya ini, Sunny jadi merasakan tidak nyaman saat sarapan karena di tatap sangat serius, belum lagi keterkejutan dirinya saat terbangun berada dalam pelukan Rebeca, sang mama mertua.
Sunny penasaran dengan apa yang telah Levia lakukan saat memakai tubuhnya ini, tetapi Sunny yakin bahwa Levia tidak akan berbuat macam-macam pada tubuhnya ini.
Sunny sudah menanyakan perihal pohon apel kebaikan yang berbuah sangat banyak dan hampir memenuhi pohon, ternyata itu ada hubungannya dengan Levia, selama ini Levia di liputi kesedihan, rasa bersalah dan tidak ada kebahagiaan, tetapi semenjak Levia merasakan kebahagiaan dengan berkumpul bersama keluarganya walaupun hanya sesaat itu sudah membuat Levia sangat bahagia.
Dan ternyata kebahagiaan Levia itu membawa dampak pada pertumbuhan pohon apel kebaikan. Buah apel itu selalu berbuah setiap hari, bahkan setelah di petik, keesokan harinya akan langsung berbuah lagi, Levia dan Sunny sangat senang akan hal itu.
Saat Sunny akan masuk ke dalam liontin, Levia juga memberitahukan caranya, hanya dengan memejamkan kedua mata sambil menggenggam liontin dan merapalkan sebuah mantra yang di berikan oleh Levia maka tubuh Sunny sudah langsung dapat masuk ke dalamnya kapan saja sesuai yang Sunny inginkan.
Tentang kekuatan Sunny, dirinya dapat menggunakan kekuatan itu saat berada di dunianya, jadi Sunny dapat melindungi dirinya sendiri dari orang-orang yang akan berbuat jahat padanya. Sunny sangat berterima kasih kepada Levia.
"Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Sunny penasaran saat melihat suami dan kedua mertuanya menatapnya dengan sangat serius dan tanpa berkedip.
"Tidak apa-apa, dan sepertinya kamu sudah kembali normal," ucap Rebeca cepat karena takut Sunny merasa tidak nyaman.
"Memangnya ada apa? Apakah sebelumnya aku tidak normal?" tanya Sunny setelah menyelesaikan sarapannya. Sunny berpikir mungkin Levia membuat sedikit kehebohan saat memasuki tubuhnya, tetapi itu tidak masalah selama itu tidak merugikan dirinya.
"Tidak apa-apa sayang, ayo kita bersiap, kita akan pergi sekarang," Rebeca mengusap lembut punggung Sunny.
"Kita akan pergi kemana?" Sunny bingung karena tidak ada yang memberitahu dirinya perihal ini.
"Kita akan pergi ke suatu tempat, nanti kau akan mengetahuinya sendiri," ucap Rudolf dengan suara tegasnya. Sunny hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kamar di ikuti Dareen, sang suami.
Di dalam kamar, Dareen terus mengintrogasi Sunny perihal perubahan dirinya kemarin, Dareen bercerita kepada Sunny tentang dirinya yang memanggil kakak kepada Dareen, serta memanggil ayah dan ibu kepada kedua mertuanya.
__ADS_1
Sunny cukup terkejut mendengarnya, tetapi Sunny tahu bahwa keluarga suaminya itu memang keluarga dari Levia, bila saja tidak ada kejadian yang menimpa Levia saat itu, mungkin dirinya ada di tengah-tengah keluarga ini dan menjadi adik iparnya.
Sunny berharap semuanya akan berjalan lancar dan sesuai rencana saat bulan purnama merah tiba.
******
Revan berdiri di pinggir balkon kamarnya, saat ini dirinya memakai kaos berwarna hitam dan berlengan pendek, rambutnya yang sedikit gondrong di biarkannya melambai-lambai di tiup angin malam, dengan tatapan matanya yang kosong, dirinya menatap ke atas langit malam.
Mendesah cukup panjang dengan kedua tangannya menggenggam erat pagar pembatas balkon kamarnya.
"Kak, aku sudah ada solusi atas masalah ini, aku sudah memikirkannya, aku tidak mau mengorbankan orang lain, lebih baik diriku saja yang menjadi korban,"
Revan terdiam cukup lama setelah mengucapkan kata-kata itu, menundukkan kepalanya dan kedua matanya berkaca-kaca sambil terus mengeratkan genggaman tangannya pada pagar pembatas balkon kamar.
Revan tidak tahu lagi harus bagaimana, kemunculan bulan purnama merah tinggal menghitung hari, dan keputusan dirinya sudah mantap, daripada dirinya mengorbankan orang lain lebih baik mengorbankan dirinya sendiri demi sang kakak.
Walaupun sang kakak, Revina hidup tanpa dirinya di sisinya itu tidak masalah, karena ada Bastian yang mencintai kakak tersayangnya. Revan yakin bahwa Bastian akan dapat di andalkan selepas kepergiannya.
Saat itu tiba, Revan akan mengajak Bastian untuk menemui Revina.
******
"Bastian, sudah saatnya kau memikirkan masa depanmu, kau bisa ikut ujian kelulusan sekolah, lalu kau bisa memilih tempat kuliah yang kau inginkan," ucap sang ayah, Frans saat berkumpul di ruang keluarga.
"Tapi, ayah, aku belum memikirkan hal itu," ucap Bastian tidak bersemangat.
__ADS_1
"Ayah mengerti keadaanmu, tetapi kau tidak bisa berlarut-larut dalam kesedihan, relakan kekasihmu itu, kau harus menjalani kehidupanmu yang sekarang. Lagipula ayah sudah semakin tua dan kau nantinya yang akan memegang kendali bisnis keluarga,"
Frans berdiri dari duduknya dan menepuk lembut pundak putra satu-satunya itu.
"Pikirkan kembali ucapan ayah," ucap Frans sekali lagi dan berlalu pergi meninggalkan Bastian dan juga istrinya.
Chintya menghampiri Bastian dan duduk di hadapannya, "Ucapan ayahmu benar, Nak, kau tidak bisa terus menerus larut dalam kesedihan, ibu perhatikan kau tidak memiliki semangat hidup, ibu tidak ingin kau menyia-nyiakan kehidupan dan kesempatan kedua yang telah Tuhan berikan padamu, kau harus menjadi Bastian yang dulu, yang selalu ceria dan selalu bisa di andalkan di keluarga ini,"
Chintya menangkupkan kedua tangannya pada wajah putranya itu, "Ibu yakin kau bisa melalui ini semua dengan baik,"
Chintya mengecup sekilas kening sang putra dan mengusap lembut wajahnya, kemudian berdiri dan meninggalkan Bastian seorang diri.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Bastian terdiam cukup lama dan merenungi kata-kata kedua orang tuanya itu. Bastian berpikir ada benarnya juga bahwa dirinya harus bangkit dan menjalani kehidupan ini dengan baik kedepannya.
Yang sudah meninggal tidak mungkin dapat hidup kembali dan yang masih hidup harus tetap hidup dan menjalani kehidupannya dengan baik.
Bastian juga yakin bahwa Revina sudah tenang di sana dan Bastian harus mulai melupakan Revina dan menjalani kehidupan yang baru, Bastian tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya dan juga dirinya harus bisa mempergunakan waktu yang di berikan Tuhan padanya dengan sebaik-baiknya.
Tetapi untuk saat ini Bastian hanya ingin sendiri dan ingin pergi ke banyak tempat yang pernah dirinya kunjungi dulu, seandainya ada sang adik, Sunny di sampingnya saat ini pasti Bastian akan dengan mudah ceria kembali, tetapi sang adik sudah mempunyai kehidupannya sendiri bersama suaminya.
Mungkin ada baiknya juga bila dirinya menghubungi teman-teman lamanya saat sekolah dulu, ya walaupun hanya sekedar bernostalgia tetapi juga sekaligus meminta referensi tentang tempat kuliah yang recommended.
Bastian bertekad untuk mengubah dirinya sendiri demi kedua orang tuanya dan juga masa depannya, untuk urusan menikah itu urusan nanti dan masih jauh. Untuk saat ini Bastian hanya ingin mengubah dirinya dan juga membanggakan kedua orang tuanya dengan memajukan bisnis keluarga, ya walaupun dirinya harus mengejar ketinggalan selama dua tahun karena koma, tetapi Bastian yakin dirinya bisa melalui itu semua dengan baik dan lancar.
******
__ADS_1