Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 24


__ADS_3

Sunny membuka kedua matanya perlahan, di lihatnya Dareen sedang menepuk-nepuk lembut kedua pipinya sambil memanggil-manggil namanya, setelah di rasa kesadarannya sudah kembali, Sunny berusaha bangun dari pangkuan Dareen dan Dareen membantu Sunny untuk duduk. Saat ini keduanya masih berada di dalam mobil.


"Kau, baik-baik saja?" tanya Dareen khawatir sambil menggenggam kedua tangan Sunny.


Sunny hanya diam menatap dengan tatapan penuh kerinduan pada wajah Dareen, dirinya tak kuasa menahan air matanya, Sunny pun menangis sejadi-jadinya.


"Kakak... aku sangat merindukan kakak... hiks... hiks..."


Dareen sangat terkejut mendengar ucapan Sunny hingga tanpa sadar membelalakkan kedua bola matanya dan spontan melepas genggamannya dari tangan Sunny, kemudian memundurkan tubuhnya menjauh dari Sunny.


"Apa yang terjadi denganmu, kenapa kau memanggil suamimu ini, kakak?" Dareen tidak mengerti dengan pikiran Sunny.


Dareen akhirnya meminta sopir untuk segera kembali ke mansion.


Ya tentu saja Dareen tidak mengetahui bahwa jiwa yang ada di dalam tubuh sang istri adalah jiwa milik Levia. Levia berhasil masuk ke dalam tubuh milik Sunny dan meninggalkan tubuhnya bersama Sunny di dunia liontin.


******


Sudah tiga hari Sunny berada di dunia liontin, hanya di temani tubuh tanpa jiwa milik Levia yang duduk seperti orang yang sedang bermeditasi dan di lindungi perisai ungu di sekeliling tubuhnya agar tidak rusak.


Satu hari di dunia liontin berarti sepuluh menit di dunianya. Sedangkan Levia meminta satu hari untuk bersama keluarganya, berarti 24 jam \= 1.440 menit lalu 1.440 menit ÷ 10 menit \= 144 hari di dunia liontin. Jadi Sunny akan berada di dunia liontin selama tiga bulan lebih.


Tetapi tidak terasa juga sih, karena di dunia liontin perputaran waktunya sangat cepat, buktinya tak terasa sudah tiga hari Sunny berada di sini. Sebenarnya sudah lebih dari tiga hari Sunny berada di dunia liontin, tetapi yang masuk hitungan Sunny adalah saat Levia pergi untuk memasuki tubuhnya.


Walaupun Levia sudah menyiapkan semuanya dari pakaian, makanan, dan lain-lain jadi Sunny tidak merasa kekurangan apapun, tetapi tetap saja Sunny merasa kesepian.


******


Dareen dan Sunny tiba di mansion dan di sambut oleh Tuan dan Nyonya Dimitri.


"Sayang, maafkan kami, kami telat menyambut kedatangan kalian, banyak tempat yang harus kami kunjungi," ucap Rebeca yang merasa bersalah kepada anak dan menantunya itu.

__ADS_1


Saat Rebeca akan memeluk Sunny, Sunny dengan jiwa milik Levia yang melihat Tuan dan Nyonya Dimitri langsung menangis sejadi-jadinya.


Melihat Sunny yang sedang menangis, Rebeca mengurungkan niatnya untuk memeluk Sunny.


"Ibu... aku sangat merindukan ibu... hiks... hiks..." Sunny memeluk Rebeca sangat erat. Rebeca yang terkejut dengan tindakan spontan Sunny lalu membalas pelukan Sunny.


Rebeca yang masih dalam pelukan Sunny menatap Dareen meminta penjelasan, Dareen yang di tatap hanya menggelengkan-gelengkan kepalanya.


Sunny melepas pelukan Rebeca, lalu beralih memeluk Rudolf dengan sangat erat.


"Ayah... aku sangat merindukan ayah... hiks... hiks..." Rudolf pun sama terkejutnya dengan Rebeca tetapi tidak berapa lama langsung membalas pelukan Sunny.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Sunny?" tanya Rebeca seraya menarik salah satu tangan Dareen menjauh dari Sunny dan Rudolf yang sedang berbincang layaknya seorang bapak dan anak perempuannya.


"Entahlah... tadi... bla... bla... bla..." Dareen menjelaskan semuanya kepada Rebeca.


Rebeca mendengarkan penjelasan Dareen dengan serius, "Apa ini ada hubungannya saat dia pingsan? Dia menjadi pribadi yang berbeda,"


Rebeca membelalakkan kedua matanya, "Benarkah?" Dareen hanya menganggukkan kepalanya lesu.


Rebeca memandang ke arah Sunny dan Rudolf yang sedang duduk di gazebo sambil tertawa bahagia, Rebeca terkejut saat melihat Rudolf bisa tertawa bahagia, sudah lama semenjak Dareen mendapatkan kutukan itu, Rudolf tidak pernah tertawa sebahagia itu, tapi Sunny yang berkepribadian berbeda dapat membuatnya tertawa bahagia. Rebeca tidak percaya ini, dirinya memandang Sunny dengan tatapan mata misterius dan penuh selidik.


******


Di dalam kelas, Revan tidak dapat berkonsentrasi dalam pelajaran, ucapan sang iblis masih terngiang-ngiang di pikirannya, untuk itu Revan meminta ijin kepada guru yang sedang mengajar di kelasnya untuk pergi ke toilet, bermaksud menenangkan pikirannya.


Saat jam istirahat tadi, Revan pergi ke ruang kelas Sunny bermaksud untuk menemuinya, tetapi Sunny tidak ada di kelasnya, menurut informasi yang Revan dapat dari teman-temannya Sunny ijin beberapa hari untuk pergi bersama keluarganya.


Padahal Revan ingin bercerita tentang hal ini kepada Sunny, siapa tahu saja Sunny punya solusinya.


Revan berpikir kalau bercerita kepada Bastian pasti akan syok karena Bastian baru saja sadar dari koma.

__ADS_1


Saat Revan akan melangkah masuk ke dalam toilet, terdengar suara beberapa orang siswa yang sedang berbincang di dalamnya.


"Tak lama lagi akan ada bulan purnama merah, pihak sekolah akan meliburkan para siswa dan siswinya selama tiga hari,"


"Iya benar, aku dengar-dengar para roh jahat akan keluar dan mencari tubuh yang di inginkannya untuk di rasuki,"


"Ya, aku juga dengar akan hal itu, untuk itu keluargaku mengundang seorang cenayang yang sangat hebat untuk melindungiku,"


"Aku dengar-dengar juga para roh jahat mengincar laki-laki atau perempuan seumuran kita-kita ini,"


Setelah mendengarkan perbincangan beberapa orang siswa yang ada di dalam toilet, Revan akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk kemudian berlalu pergi dengan menghela nafas yang sangat panjang.


Revan sebenarnya sangat ingin menenangkan dirinya saat ini dan memutuskan toilet lah tempat yang paling hening dan bisa di jadikan untuk menenangkan dirinya, tetapi tadi dirinya mendengar hal tentang bulan purnama merah, itu membuat Revan tidak senang, karena hanya akan mengingatkannya pada sang iblis.


******


"Istirahatlah nak, bila kau butuh sesuatu beritahu ibu atau ayahmu," ucap Chintya setelah membantu Bastian berbaring di tempat tidur, lalu mengecup lembut kening Bastian.


Bastian hanya menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum.


Setelah dokter melepas infus dari tangan Bastian, Bastian langsung minta pulang dengan alasan bosan bila berlama-lama di rumah sakit. Padahal kamar rawat inapnya berkelas VVIP dengan fasilitas yang sangat lengkap, sebenarnya tidak ada kebosanan kan.


Dokter belum memberi ijin Bastian untuk pulang karena masih ada beberapa hal lagi untuk di periksa, tetapi Bastian tetap bersikeras untuk pulang, dokter pun angkat tangan dan mengijinkan Bastian pulang ke kediamannya, tetapi Bastian harus kontrol rutin satu minggu sekali selama tiga bulan.


Setelah kedua orang tuanya keluar dari kamar, Bastian memandang sekeliling kamarnya, masih sama, pikir Bastian.


Kemudian pandangan matanya tertuju pada foto seorang gadis di atas meja belajarnya, siapa lagi gadis itu bila bukan Revina.


Bastian bangun perlahan dari tidurnya kemudian berjalan tertatih-tatih menuju meja belajarnya, lalu duduk di kursi di depan meja belajarnya, mengambil foto Revina yang sedang tertawa bahagia lalu mengusapnya lembut.


"Aku sangat merindukanmu, Revina... hiks... hiks..." Bastian tidak bisa lagi menahan kesedihannya.

__ADS_1


******


__ADS_2