Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 7


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Acara sudah selesai, akan tetapi masih ada beberapa tamu undangan yang sebagian besar adalah tamu dari Tuan Rudolf sendiri, sedangkan tamu dari keluarga Sunny hanya para karyawan dan keluarga yang bekerja di pabrik pakaian milik ayah Sunny saja. Karena acaranya sangat mendadak jadi tidak sempat untuk mengundang saudara-saudara yang tinggal berjauhan.


Dengan di temani cahaya bulan dan suara hingar bingar musik dari kejauhan, Sunny duduk termenung di balkon kamar sang suami. Karena permintaan dari Dareen yang menginginkan Sunny tidur satu kamar dengannya. Dareen berpikir tidak ada rahasia lagi sebagai suami istri, biarlah Sunny mengetahui keadaan Dareen yang sebenarnya.


Sunny memikirkan perkataan papa mertuanya, saat mengajaknya berbincang di ruang kerjanya.


*2 jam yang lalu*


"Dareen, bukan manusia seutuhnya seperti kau dan papa saat ini. Dalam dirinya ada monster penghisap darah,"


Sunny membelalakkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini. Sunny hanya terdiam tak sanggup berkata apa-apa.


"Dareen tumbuh sebagai pribadi yang sombong dan angkuh, segala kemauannya harus di turuti, bila tidak, orang itu akan di pukulnya. Itu semua salah papa dan mama yang terlalu memanjakannya, karena Dareen anak semata wayang kami," Tuan Rudolf berhenti sejenak memandang ke arah Sunny yang masih terlihat syok atas ceritanya.


"Saat itu di hari ulang tahun Dareen, datang seorang nenek pengemis meminta makan kepada Dareen, tetapi Dareen mengusirnya dengan kasar dan mengatainya dengan sumpah serapah yang tidak pantas di dengar,"


Sunny masih mendengarkan penjelasan Tuan Rudolf, walaupun masih ada kata-kata yang belum bisa di cerna dengan baik oleh indera pendengarannya akibat syok tadi.


"Nenek itu sangat marah dan mengeluarkan kutukan untuk Dareen. Dareen menjadi manusia setengah monster dan setiap harinya hanya bisa meminum darah. Tetapi bukan darah manusia, melainkan darah hewan. Dan sekali saja Dareen meminum darah manusia, dia tidak akan pernah menjadi manusia seutuhnya untuk selamanya," Tuan Rudolf mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu.


Sunny masih mendengarkan cerita Tuan Rudolf, sekarang pikirannya sudah kembali normal dan dapat mencerna perkataan Tuan Rudolf dengan baik.


"Sebelum nenek pengemis itu menghilang dari hadapan kami, nenek itu berkata, kutukan Dareen bisa hilang jika ada seorang gadis yang tulus mencintainya serta memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama,"


Tuan Rudolf berjalan mendekati Sunny. "Tanggal dan bulan lahirmu sama seperti suamimu... papa harap kau bisa mencintai suamimu dengan tulus, sehingga kutukan itu menghilang dari Dareen," menepuk bahu Sunny lembut seraya melangkah pergi meninggalkan Sunny yang masih terdiam.


*****

__ADS_1


Nyonya Rebeca berjalan mendekati Tuan Rudolf. "Bagaimana honey? Kau sudah bicara pada anak gadis kita?" menatapnya menunggu jawaban. Sunny sudah di anggap sebagai anak sendiri oleh Tuan dan Nyonya Dimitri.


"Ya, aku sudah memberitahukan semua kepadanya, kita tinggal menunggu kabar baiknya saja," Tuan Rudolf Dimitri menatap datar ke depan, berharap keajaiban akan datang dan membawa kembali putra kesayangannya.


Nyonya Rebeca tersenyum kecil seraya mengusap lembut bahu suaminya.


"Kau beristirahat lah, besok kita akan melakukan perjalanan, aku akan menemani para tamu undangan," ucap Tuan Rudolf tersenyum kepada sang istri dan berlalu pergi menemui beberapa orang tamu undangan yang masih berada di tempat acara. Mereka terlalu asyik berpesta.


*****


Sunny masih termenung seorang diri duduk di kursi rotan yang ada di balkon kamar sang suami.


Sunny tidak menyangka bahwa kehidupan yang di jalaninya akan seperti ini. Dan tidak menyangka juga bahwa dirinya menikahi seorang monster. Sunny tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya nanti.


"Kenapa kehidupanku harus seperti ini? Di sekolah, di rumah ayah dan ibu dan sekarang di rumah ini, aku tak sanggup lagi, haruskah aku mati saja, biar terlepas dari ini semua...." Sunny bergumam pada dirinya sendiri, bingung harus bagaimana.


Di rumah, kedua orang tuanya selalu bersedih karena kakak satu-satunya yang bernama Bastian masih koma dan terbaring di rumah sakit, entah sampai kapan.


Sedangkan di rumah yang di tempati Sunny saat ini, mansion kediaman keluarga Dimitri, Sunny harus menerima kenyataan bahwa sang suami adalah setengah monster.


Sunny berdiri di tepi balkon, menaikkan satu kakinya dan hendak terjun bebas dari atas balkon. Sunny berfikir, mengakhiri hidupnya adalah jalan yang terbaik.


Saat setengah tubuh Sunny berada di pinggir besi pembatas balkon, tiba-tiba sebuah tangan kekar menariknya, mencengkeram leher Sunny.


"Jika kau ingin mati, jangan di tempatku," ucap Dareen tepat di hadapan Sunny.


Sunny terkejut melihat kedua iris mata Dareen berwarna merah dan darah yang menempel pada bibir Dareen, dan juga Sunny merasakan kuku-kuku panjang menyentuh leher putihnya.

__ADS_1


Dareen melepas cengkraman tangannya dari leher Sunny, berbalik membelakangi Sunny.


"Sebaiknya kau masuk dan beristirahat." ucap Dareen seraya meninggalkan Sunny masuk ke dalam kamar.


Sunny jatuh terduduk dengan tubuh yang gemetar sambil memegangi lehernya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, karena tadi hampir saja Dareen mencekiknya.


Sunny berusaha berdiri dan mendudukkan dirinya di atas kursi rotan, masih berusaha menenangkan diri dan mencerna apa yang baru saja terjadi.


"Apa itu kau, Dareen? Mata itu...." Sunny bertanya pada dirinya sendiri, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat seorang pria berjubah hitam datang ke balkon kamarnya saat Sunny masih berada di kediaman kedua orang tuanya.


Sunny menaikkan kedua kakinya ke atas kursi rotan yang di dudukinya, menutupinya dengan gaun tidur tipisnya, tetapi tetap saja merasakan angin malam yang dingin menerpa tubuhnya, walaupun saat ini Sunny mengenakan gaun tidur yang berlengan panjang dan menutup hingga mata kaki.


Sunny takut untuk masuk ke dalam kamar, entah apa yang akan di lakukan Dareen nantinya, cari aman saja, lebih baik Sunny tidur kedinginan di balkon daripada terjadi sesuatu pada dirinya nanti. Tak berapa lama Sunny pun tertidur.


*****


Dareen keluar dari dalam kamar mandi mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih dan celana hitam selututnya sambil mengeringkan rambut basahnya. Didapati ranjangnya kosong, tidak ada sang istri yang menempatinya.


Dareen meletakkan handuknya dan berjalan menuju balkon kamarnya.


"Hei bangun! Tidur di dalam!" seru Dareen menendang kursi rotan saat melihat sang istri tertidur.


Lama tak ada jawaban, Dareen menggendong Sunny ala bridal style. "Menyusahkan saja," ucapnya lirih seraya menidurkannya di atas ranjang.


Dareen pun menidurkan dirinya di samping Sunny, menyelimutinya dan mengecup lembut kening Sunny kemudian memeluknya erat. "Maafkan aku," lirih Dareen.


*****

__ADS_1


__ADS_2