Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 29


__ADS_3

Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny, Levia dan Matilda mendarat di bawah pohon apel. Rudolf, Rebeca dan Matilda sangat terkejut melihat ke arah pohon apel kebaikan yang sangat banyak buahnya hampir memenuhi pohon apel itu, ketiganya melihat ke arah Sunny dan Levia dengan pandangan mata memohon untuk mengambil buah apel yang terlihat sangat menggiurkan itu.


Karena memang buah apel yang ada di dunia liontin ukurannya dua kali lebih besar dari buah apel yang ada di dunia asli.


"Kalian bisa makan sepuasnya," ucap Levia tertawa lebar.


Mendengar ucapan Levia, Rudolf langsung mengambil enam buah apel, satu untuk dirinya sendiri dan yang lainnya di berikan kepada lima orang di hadapannya.


Rudolf menggigit buah apelnya, lalu mengunyahnya dengan cepat, seketika itu juga matanya langsung membulat sempurna, "Apel apa ini, rasanya sangat enak dan legit?" Rudolf menatap ke arah Levia.


Levia yang sedang memakan buah apelnya menatap balik Rudolf, "Itu pohon apel kebaikan, jadi rasa buahnya sangat enak," Levia tersenyum lalu memakan kembali buah apel yang ada di tangannya.


"Iya benar, ini buah apel terenak yang pernah aku makan," Rebeca menimpali sambil terus memakan buah apelnya dengan semangat.


"Tapi, apakah buah apel ini bisa di bawa ke dunia asli?" tanya Rebeca kembali dengan wajah penasaran.


Sunny memandang ke arah Levia, karena tidak ada jawaban dari Levia, Sunny mengendikkan bahunya dan berkata, "Entahlah, mah, aku belum pernah mencobanya membawa keluar dari sini,"


"Kalau begitu aku akan mencoba membawa beberapa buah apel saat kita keluar dari sini," ucap Rebeca bersemangat.


Dareen hanya mendengarkan percakapan mereka dengan wajah datarnya dan hanya menatap datar buah apel yang ada di tangannya. Bagi Dareen semua makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya semuanya terasa hambar tidak ada rasa, hanya darah hewan yang setiap hari di minumnya yang selalu memberi rasa.


Dareen mendesah kecewa, dirinya ingin kembali normal seperti dulu, merasakan rasa makanan dan minuman favoritnya, Dareen sangat menyukai makanan dan minuman yang berbau cokelat, apalagi cake blackforest dan di padukan dengan minuman cokelat hangat itu adalah favoritnya dan dirinya ingin merasakan rasa itu kembali, Dareen mendesah kembali, dirinya sudah bertahun-tahun lamanya tidak merasakan makanan dan minuman favoritnya itu.


Dareen membayangkan memakan cake blackforest yang dilapisi dengan krim putih, selai ceri hitam, parutan cokelat, dan ceri hitam yang mengkilap sebagai hiasan.


Dareen benar-benar ingin memakannya, tetapi percuma saja karena dulu saat perayaan ulang tahunnya Rebeca pernah memberikan cake blackforest favoritnya itu tetapi saat Dareen memakannya semua terasa hambar, semenjak itu dirinya tidak mau lagi memakan makanan atau minuman lainnya, jadi dirinya hanya selalu meminum darah binatang yang selalu memberi rasa pada indra pengecapnya itu.


Di tatapnya buah apel yang ada di tangannya, mau tak mau dirinya harus memakan buah apel itu hanya sekedar untuk mengganjal perutnya yang kosong, Dareen sudah sangat yakin rasa hambar itu akan mendominasi di dalam mulutnya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang lagi Dareen langsung menggigit dan mengunyah potongan buah apel yang ada di dalam mulutnya, sedetik kemudian matanya membulat sempurna lalu dengan cepat menelan buah apel yang ada di dalam mulutnya, kemudian dirinya dengan cepat menggigit dan mengunyah buah apel itu, Dareen terus memakan buah apel itu hingga habis tak bersisa.


"Aku bisa merasakan rasa buah apel ini! Mama... Papa... aku bisa merasakan buah apel ini!" seru Dareen dengan binar matanya dan langsung menghampiri kedua orang tuanya yang tengah menikmati kelezatan buah apel kebaikan itu.


"Benarkah?" tanya Rebeca sedikit tak percaya dan menatap lekat kedua mata Dareen mencari kebenaran atas ucapannya.


Karena Rebeca mengetahui bila makanan apa saja yang di makan Dareen akan terasa hambar, kecuali darah binatang yang biasa di minumnya.


Dareen menganggukkan kepalanya, berdiri lalu mengambil buah apel yang berada di atas pohon dan langsung memakannya dengan lahap, senyum bahagia tidak terlepas dari bibirnya.


Rebeca dan Rudolf yang melihat itu tersenyum bahagia, entah sudah berapa tahun lamanya Dareen tidak tersenyum seperti ini. Rebeca tak kuasa menahan air matanya dan memeluk Dareen sambil menangis dalam pelukan Dareen.


...******...


Hari sudah malam, Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny, Levia dan Matilda sedang menikmati makan malam mereka yaitu ayam panggang dan salad hasil masakan Levia. Semua orang yang ada di situ memuji masakan Levia yang sangat enak.


Dareen sangat lahap menikmati makanannya karena dirinya bener-benar dapat merasakan rasa makanan yang sedang di santapnya, dirinya sebenarnya bingung kenapa ini bisa terjadi, Dareen juga tidak merasa ingin meminum darah lagi dan saat ini dirinya juga tidak berubah menjadi makhluk yang bertaring, bermata merah dan berkuku tajam. Dareen benar-benar bingung sekaligus senang dengan apa yang telah terjadi pada dirinya itu.


Saat Dareen sedang menikmati makan malamnya, tiba-tiba dirinya berfikir tentang cake blackforest favoritnya itu, Dareen bisa merasakan buah apel dan ayam panggang maka pasti dirinya juga bisa merasakan rasa cake favoritnya itu.


Tanpa pikir panjang lagi Dareen pun mengutarakan keinginannya itu untuk memakan cake blackforest kepada sang mama, Rebeca.


"Tetapi, sayang, di sini tidak ada bahan dan alat untuk membuatnya," ucap Rebeca kepada Dareen saat mendengar keinginan putranya itu.


"Itu tidak masalah, aku bisa menyiapkan alat dan bahan untuk membuat cake itu," ucap Levia meyakinkan Rebeca.


"Benarkah? Tapi bagaimana caranya? Di sini tidak ada pusat perbelanjaan," ucap Rebeca penasaran.


"Dengan kekuatanku," ucap Levia semangat.

__ADS_1


"Dengan kekuatanmu? Benarkah kau bisa memunculkan benda apapun?" tanya Sunny setengah tak percaya dengan ucapan gadis di hadapannya itu.


Levia mengangguk sambil tersenyum menatap ke arah Sunny, "Kau juga bisa melakukannya, aku telah memberikan semua kekuatanku kepadamu, besok aku akan mengajarimu cara menggunakannya,"


"Benarkah?" tanya Sunny dengan mata yang berbinar-binar senang.


Levia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Maaf, Tuan, Nyonya, apakah kita akan bermalam di sini? Karena kita sudah lama meninggalkan hotel," ucap Matilda khawatir, karena dirinya berfikir waktu di dunia liontin sama dengan waktu di dunia asli.


"Kau benar Matilda, dan kita sudah cukup lama berada di sini," ucap Rudolf sambil menyelesaikan suapan terakhir makan malamnya.


"Papa tidak perlu khawatir, karena satu hari di dunia liontin sama dengan sepuluh menit di dunia asli," jelas Sunny sambil menyuapi ayam panggang miliknya ke dalam mulut Dareen, padahal Dareen sudah memakan satu ekor ayam panggang tetapi masih saja meminta ayam panggang bagian Sunny.


"APA?!" seru Rudolf, Rebeca dan Matilda bersamaan. Mereka sangat terkejut mendengarnya, ternyata perbedaan waktunya sangat lama.


"Ya benar begitu, jadi satu hari di dunia asli, itu sama dengan tiga bulan lebih kita tinggal di sini," jelas Sunny sambil terus menyuapi Dareen ayam panggang.


"Ti-Tiga bulan?" Rebeca sungguh tidak percaya mendengarnya.


"Iya, bila mama tidak percaya, aku bisa membuktikannya, kita keluar dari sini lalu kita kembali lagi ke mari," ucap Sunny santai.


"Ah, tidak perlu, aku percaya, sekarang yang terpenting kita menikmati hari-hari kita di sini, dan besok kita akan membuat cake favorit Dareen," ucap Rebeca cepat.


Rebeca melihat kegembiraan di mata Dareen, dirinya hanya ingin menyenangkan putra semata wayangnya itu, dan juga masih ingin bersama dan mengenal Levia lebih jauh karena Levia adalah putri kandungnya saat ratusan tahun yang lalu.


Rebeca tidak menginginkan kebahagiaan ini cepat berlalu, tetapi bulan purnama merah akan segera muncul dan itu membuatnya sangat takut, dirinya takut kehilangan semua kebahagiaan ini.


Rebeca berharap semuanya akan baik-baik saja dan kembali ke keadaan semula.

__ADS_1


...******...


__ADS_2