Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 16


__ADS_3

Revan berdiri di depan mansion mewah bergaya modern dan bercat silver, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, dan langsung melesat ketika sudah menemukan tempat tujuannya.


Revan mendaratkan kedua kakinya di atas balkon sebuah kamar, membuka perlahan jendela balkon kamar yang tidak terkunci dan tertutup gorden berwarna cream.


Melangkah perlahan masuk ke dalam kamar dan menyibak gorden.


Hening...


Makin dalam memasuki kamar itu, Revan mengedarkan pandangannya melihat barang-barang di dalam kamar yang tertata rapi, lalu pandangan mata Revan berhenti di atas ranjang, seorang remaja pria tengah gemetar ketakutan di balik selimut tebalnya yang hanya memunculkan kepalanya saja dari balik selimut.


Revan melangkah maju perlahan mendekati remaja itu. Remaja itu menatap ngeri ke arah Revan yang menampilkan wajah garang setengah iblisnya.


"Ja-jangan Revina, aku mohon jangan bunuh aku, ampuni aku Revina,"


Revan terdiam sesaat dan melonggarkan kepalan tangannya. Melihat remaja itu memohon belas kasihan, senyum menyeringai muncul di wajahnya.


Revan berpikir, mungkin selama menjadi hantu, kakaknya itu selalu datang dan muncul di hadapan Alvian, hingga Alvian menjadi ketakutan seperti ini, bahkan dirinya dengan wajah seseram ini, masih di kira sebagai Revina olehnya.


Wajah tampan seorang Alvian, putra dari salah satu pebisnis sukses di kota ini, sekarang tidak lagi terlihat. Yang ada hanya wajah tirus, lingkar hitam di sekitar mata, badan yang kurus, dan rambut yang berantakan, benar-benar sangat tidak terawat sama sekali, seperti orang yang tidak waras, pikir Revan.


"Alvian! Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"


Seru Revan yang menarik pakaian belakang Alvian dan langsung membawanya melesat pergi ke dalam mobil. Sebenarnya bisa saja Revan langsung melesat pergi ke tempat tujuan, tapi pasti akan ada keributan nantinya.


Revan mengemudikan mobilnya langsung menuju ke kantor polisi, setelah sampai di dalam kantor polisi, Revan mendudukkan Alvian tepat di hadapan sang kepala polisi.


"Pak Steven, penjarakan dia, dia yang telah membunuh kakakku,"


"Persoalan cinta?" tanya Steven santai.


"Ya, begitulah," ucap Revan datar.


Revan terus menatap Alvian yang masih saja ketakutan sambil memanggil-manggil nama Revina.


"Ayah anak ini yang menghilangkan barang bukti, dia membayar orang untuk melakukannya," jelas Revan sambil memberikan satu buah amplop cokelat besar ke hadapan Steven.


"Darimana kau mendapatkannya! Kau jangan bertindak gegabah, itu bisa membuat dirimu celaka!" seru Steven khawatir, takut terjadi apa-apa pada Revan.


"Itu tidak penting, yang penting, penjarakan dia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," Revan tersenyum menyeringai.


"Kau ini," Steven menghela nafas.


"Aku pergi!" seru Revan dan langsung melangkahkan kakinya pergi dari hadapan dua orang itu.


Revan merasa tugasnya sudah selesai untuk mengungkap kasus pembunuhan kakaknya.


"Hei! Kau belum menulis laporanmu!" seru Steven sambil menjulurkan selembar kertas untuk di isi oleh Revan.


"Kau saja yang isi!" seru Revan dari kejauhan.

__ADS_1


"Dasar anak itu," gumam Steven yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Steven adalah seorang kepala polisi yang sangat jujur dan tegas kepada bawahannya, serta teman baik Ayah Revan.


Jadi Revan sudah sangat akrab dengan Steven dan menganggapnya sebagai ayah angkatnya, banyak pelajaran hidup yang Revan dapat dari Steven, Revan pun tidak sungkan meminta pendapat tentang segala hal pada Steven.


Steven sedih dan merasa terpukul atas kematian Revina yang sudah di anggap sebagai anaknya sendiri, tetapi saat menyelidiki kasus kematian Revina, benar-benar buntu, tidak ada saksi ataupun bukti, seakan-akan hilang di telan bumi. Akhirnya kasus kematian Revina di tutup, dan berkat Revan, sepertinya kasus ini akan dibuka kembali.


******


Frans, Chintya, Dareen dan Sunny, memasuki kamar rawat inap VVIP di rumah sakit terbesar di kota ini.


Sebenarnya Frans menempatkan Bastian di rumah sakit kelas ekonomi karena keterbatasan biaya, setelah Sunny menikah dengan Dareen, tanpa sepengetahuan keluarga Sunny, Rudolf memerintahkan pihak rumah sakit agar memindahkan Bastian ke rumah sakit terbesar di kota ini dan di tempatkan di ruangan VVIP.


Frans baru mengetahuinya tadi saat pihak rumah sakit meneleponnya, memberitahukan bahwa Bastian sudah sadar dan tentang kepindahan rumah sakitnya. Menurut pihak rumah sakit, Rudolf melarang memberitahukan soal kepindahan Bastian, karena Frans, sang kepala keluarga pasti akan menolaknya.



*Ilustrasi gambar ruang rawat inap vvip dari google


Chintya, Frans dan Sunny terperangah dengan kemewahan ruang rawat inap VVIP yang di tempati Bastian, sedangkan Dareen sudah terbiasa dengan kehidupan mewahnya. Terakhir kali mereka mengunjungi Bastian, Bastian masih berada di rumah sakit kelas ekonomi.


"Ini hotel atau rumah sakit ya, mewah sekali," ucap Sunny, karena Sunny terbiasa menonton drama di televisi yang menunjukkan tentang kemewahan kamar hotel, jadi Sunny berfikir kalau ini adalah kamar hotel.


"Kalau ruang rawat inapnya seperti ini, pasti sakitnya ga sembuh-sembuh, di jamin betah... hehehe..." kekeh Sunny sambil mengamati setiap sudut ruangan.


"Ngaco kamu, mendingan kita liburan, kan kamu bilang kalau kita sedang berbulan madu, gimana?" usul Dareen sambil menaik turunkan kedua alisnya, tetapi usulan Dareen malah membuat Sunny kesal.


"Kan, homeschooling," jawab Dareen santai.


"Tidak, aku tidak mau, aku ingin sekolah seperti biasa dan bertemu dengan teman-teman yang lain," rajuk Sunny.


"Bilang saja kau ingin bertemu, Revan,"


"Terserahlah," kesal Sunny dan langsung meninggalkan Dareen, melangkah menghampiri Bastian.


Dareen membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi di tahannya setelah melihat Sunny pergi menjauhinya, Dareen pun mengikuti Sunny.


Sunny melihat ayah dan ibunya menangis serta tertawa bahagia mendapati Bastian yang telah kembali sadar.


Tetapi tidak dengan Bastian, sorot matanya memancarkan kesedihan, apa yang sebenarnya terjadi dengan kakaknya, apa ada hubungannya dengan Revina.


Dr. Albert, dokter yang merawat Bastian, meminta Frans dan Chintya untuk mengikutinya ke dalam ruang kerjanya, mereka akan membicarakan mengenai kondisi Bastian. Frans dan Chintya pun mengikutinya dari belakang.


Sepeninggal kedua orang tuanya, dokter dan perawat, Sunny langsung mendekat ke arah Bastian dan menggenggam tangan Bastian, mengusapnya perlahan.


"Revina... pergi..." lirih Bastian tiba-tiba seraya meneteskan air matanya.


Sunny menghentikan gerakan tangannya pada tangan Bastian, terdiam menatap lekat kedua bola mata dark brown Bastian.

__ADS_1


Sunny tidak pernah melihat kakaknya seperti ini, dimana Bastian yang dulu selalu ceria. Sekarang yang ada di hadapannya adalah Bastian yang menampilkan kesedihan dan keterpurukan.


Sunny sedih melihat Bastian yang seperti ini, Sunny ingin Bastian yang dulu.


******


Revan melangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah rumah yang sangat sederhana, rumah itu berada jauh di tengah hutan, tempatnya lebih dalam lagi dari gua petir.


Revan memasuki sebuah ruangan yang ada di dalam rumah itu, mendekati peti kayu berwarna putih yang di dalamnya terbaring jasad seorang gadis cantik, ya gadis itu adalah Revina.


Sebenarnya Revina sudah di kuburkan oleh keluarganya di pemakaman keluarga, tetapi Revan sangat menyayangi sang kakak dan berencana untuk mengawetkan jasadnya, bila dia merindukan sang kakak, dia bisa datang berkunjung untuk menemuinya, dan berkeluh kesah padanya, walaupun Revan tahu kakaknya tidak akan menanggapi ucapannya.


Revan menggali makam Revina, lalu mengambil jasad Revina dan membiarkan peti di dalamnya kosong. Revan mengawetkan jasad Revina menggunakan kekuatan iblisnya.


Revan duduk bersila di samping peti sang kakak, memejamkan kedua matanya, kemudian merapalkan mantra pemanggilan, dan dalam sekejap, sesosok iblis yang sangat menyeramkan muncul, dengan memakai jubah dan berwajah hitam, warna merah pada kedua mata dan kedua tanduk di kepalanya, serta membawa tongkat memanjang yang berbentuk ular dan pada bagian ujung tongkat terdapat batu permata berwarna merah darah, jangan lupakan juga ekornya yang menjuntai hingga ke lantai dengan ujungnya yang lancip menyerupai anak panah.


"Ada apa kau memanggilku!" suara iblis yang menggelegar membuat orang merinding ketika mendengarnya.


Revan berdiri dari duduk bersilanya, "Apakah kau bisa hidupkan kembali kakakku?" tanya Revan tenang dan langsung pada tujuannya.


"Itu sangat mudah bagiku, tapi ada syaratnya!" serunya menyeringai.


"Apa syaratnya?" Revan penasaran.


"Berikan tiga gadis yang masih suci untukku! Apa kau sanggup!"


Revan terdiam sejenak memikirkan perkataan iblis di hadapannya ini. Jiwa kakaknya harus ditukar dengan tiga jiwa gadis yang masih suci. Revan tidak menginginkan hal ini, kenapa syaratnya harus seperti ini, gusar Revan.


"Adakah syarat selain itu?" Revan mencoba bertanya, siapa tahu ada pilihan syarat lain yang lebih mudah.


"Tidak ada! Hanya itu syaratnya! Dan kau harus membawanya ke hadapanku pada saat munculnya bulan purnama merah! Kau mengerti!" ucapan iblis menggema di dalam ruangan itu.


"Bulan purnama merah? Apa itu? Dan kapan itu terjadi?" Revan menaikan sebelah alis matanya, dirinya baru mengetahui tentang adanya bulan purnama merah, karena yang dia tahu bulan itu terlihat putih bersinar.


"Ya, bulan purnama merah selalu muncul setiap 100 tahun sekali, dan pada saat itu para roh jahat akan keluar dan masuk ke dalam tubuh seseorang yang diinginkannya. Pada saat roh-roh jahat itu masuk ke dalam tubuhku dan di tambah dengan tiga jiwa gadis yang masih suci, maka kekuatanku akan bertambah menjadi lebih kuat... HAHAHA..." tawa iblis menggelegar di dalam ruangan itu.


"Dan secara otomatis, kekuatanmu juga akan bertambah!" iblis itu menambahkan ucapannya.


Revan masih terdiam tidak menjawab ucapan iblis itu, ada kebimbangan di dalam hatinya.


Jika dia menyetujuinya, maka kakaknya dapat hidup kembali, akan tetapi secara tidak langsung dirinya akan menjadi seorang pembunuh, Revan tidak mau hal itu terjadi. Dan soal dirinya akan mendapatkan kekuatan baru, Revan tidak peduli, dia hanya ingin bersama sang kakak.


Jika dia menolaknya, maka dia tidak akan dapat bertemu dengan kakak kesayangannya itu.


Iblis yang mengetahui kebimbangan Revan, tersenyum menyeringai.


"Kau sudah bersekutu denganku, maka syarat yang aku berikan tidak akan jauh dari mengorbankan nyawa orang lain, masih ada waktu satu minggu hingga munculnya bulan purnama merah, dan kau bisa memikirkannya lagi... HAHAHA..."


Setelah mengatakannya, iblis pun melesat pergi dari dalam ruangan, meninggalkan Revan yang berdiri di samping peti sang kakak dengan masih di selimuti kebimbangan.

__ADS_1


******


__ADS_2