
Sunny mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Didapatinya saat ini dirinya sedang duduk bersandar di bawah pohon apel, dan di hadapannya terbentang luas rumput hijau yang di atasnya di tumbuhi beraneka macam jenis bunga warna warni.
Saat Sunny sedang asyik menikmati keindahan beraneka macam jenis bunga, tiba-tiba salah satu buah apel jatuh tepat di atas telapak tangannya, Sunny mengamati buah apel itu sekilas, menggenggamnya lalu bangkit berdiri dan berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang ada di hadapannya.
Sunny menghentikan langkah kakinya, merentangkan kedua tangan, memejamkan kedua mata, lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, sungguh segar dan menyejukkan.
Sunny melanjutkan menyusuri jalan setapak itu dan tanpa terasa tibalah dirinya di sebuah air terjun warna warni, Sunny terkesima melihat keindahan air terjun yang mengalir deras dari atas bukit dengan di sertai air yang berwarna warni, Sunny berjalan mendekati air terjun itu lalu membasuh wajahnya dengan satu tangannya karena tangan yang lainnya memegang satu buah apel yang cukup besar.
Sedang asyik bermain air, Sunny di kejutkan oleh seorang gadis yang muncul dari balik air terjun, gadis itu mengenakan gaun panjang ungu memiliki wajah yang sangat cantik bagaikan bidadari, dengan rambut panjangnya sebatas pinggang yang di biarkannya terurai dan melambai tertiup angin, berjalan perlahan menghampiri Sunny sambil tersenyum.
"Hai, kenalkan namaku Levia, kau Sunny kan?" ucap gadis yang bernama Levia tersenyum.
"Da-Darimana kau tahu namaku?" Sunny cukup terkejut karena Levia mengetahui namanya.
"Aku tahu semuanya tentang dirimu," Levia menatap lekat Sunny, ada kerinduan yang di rasakannya.
"Apa maksudmu?" Sunny benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Levia.
"Aku adalah gadis yang ada di dalam liontin kalungmu itu," ucap Levia.
Sunny yang mendengar ucapan Levia seketika itu juga langsung terkejut dan membelalakkan kedua bola matanya.
Sunny tak percaya, apakah ini mimpi atau kenyataan, Sunny mencubit tangannya cukup keras, terasa sakit, berarti ini bukan mimpi.
__ADS_1
"Ini nyata, ikut aku, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu," ucap Levia yang melihat tingkah Sunny, kemudian berbalik membelakangi Sunny.
Sunny mengikuti Levia dari belakang, berjalan terus ke depan hingga memasuki arus deras air terjun warna warni itu, Sunny sempat ragu untuk masuk ke dalam arus air terjun yang sangat deras itu, pasti akan sangat basah seluruh pakaiannya.
Saat melihat Levia memasuki arus air terjun yang mengalir sangat deras itu dengan santai, Sunny pun memantapkan hatinya untuk masuk ke dalamnya juga, alangkah terkejutnya Sunny saat keluar dari dalam arus air terjun itu, pakaiannya tetap kering dan tidak merasakan apapun, seperti berjalan biasa saja tanpa ada halangan.
Sunny terus mengikuti Levia hingga tiba di sebuah rumah berukuran minimalis yang bernuansa ungu, sepertinya gadis ini menyukai semua hal yang berwarna ungu, pikir Sunny. Dirinya pun melangkah memasuki rumah itu, dan sangat-sangat terkejut saat melihat isi bagian dalam rumah tersebut.
Di dalam rumah itu, dari tembok, langit-langit rumah, lantai, perabotan, sofa, dan lain-lainnya semuanya bernuansa ungu dan tertata sangat rapi dengan ruangan yang sangat luas, sungguh sangat berbeda saat di lihat dari luar.
Rumah yang terlihat minimalis di luarnya ternyata memiliki ruangan yang sangat luas dan bertingkat di dalamnya. Sunny sungguh terpesona sekaligus tak percaya melihatnya. Ini sungguh nyata dan dirinya melihatnya sendiri.
"Duduklah," Levia menepuk sofa kosong di sebelahnya dengan satu tangannya.
Sunny berjalan menghampirinya dan mendudukkan dirinya di samping kiri Levia.
"Ratusan tahun yang lalu aku dan Putri Aurora adalah seorang putri dari dua kerajaan yang berbeda, dua kerajaan itu sangat berhubungan baik bahkan aku dan Putri Aurora adalah sahabat dekat. Karena ada kerajaan lain yang sangat tidak menyukai kedekatan dua kerajaan itu, maka di buatlah kesalahpahaman pada kedua kerajaan itu hingga saling berperang dan membunuh. Saat peperangan itu terjadi di kerajaan yang di pimpin oleh ayahku, aku bersembunyi di dalam ruang rahasia milik ayahku, aku tidak tahu kalau saat itu Putri Aurora mengikutiku hingga ke dalam ruang rahasia itu, aku panik saat itu karena aku mengira seseorang yang datang adalah orang yang akan membunuhku, aku langsung mengambil pedang yang ada di dekatku dan langsung menusukkan pedang itu ke tubuh orang itu, saat aku dekati, ternyata itu adalah Putri Aurora, aku telah membunuh sahabatku sendiri,"
Levia sedih mengingat peristiwa ratusan tahun yang lalu, tanpa sadar meneteskan air matanya.
Sunny spontan mendekat ke arah Levia, memeluk dan mengusap lembut punggungnya untuk menghilangkan kesedihan yang di rasakan oleh Levia.
Setelah dapat menenangkan diri, Levia melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Setelah peristiwa itu aku hidup abadi hingga saat ini. Aku sudah mencoba berbagai macam cara untuk mati tetapi tidak bisa, tanpa sengaja aku bertemu dengan Nenek Ero, kemudian Nenek Ero memasukkanku ke dalam liontin kalung yang kau pakai saat ini, dan aku harus menunggu reinkarnasi dari Putri Aurora untuk menebus kesalahanku, dia harus membunuhku menggunakan pedang itu, dengan begitu aku dapat pergi dengan tenang dan bereinkarnasi," Levia menghentikan ceritanya dan menghela nafas.
Sunny tertegun mendengarnya. Levia, gadis yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang manusia abadi dan tidak dapat mati. Dirinya pikir itu hanya sebuah mitos ternyata fakta.
Levia melanjutkan ceritanya kembali.
"Ternyata pedang yang aku gunakan untuk membunuh Putri Aurora adalah pedang yang telah di kutuk oleh seorang penyihir jahat. Siapapun orang yang membunuh menggunakan pedang itu maka orang itu akan hidup abadi hingga reinkarnasi orang yang di bunuh membunuhnya maka orang itu dapat mati dan bereinkarnasi,"
Sunny mengernyitkan keningnya, "Lalu, apa ada hubungannya denganku?"
Levia menganggukkan kepalanya, "Karena, kau lah reinkarnasi dari Putri Aurora itu," Levia menatap lekat kedua bola mata Sunny.
Sunny terkejut dan membelalakkan kedua bola matanya, "Apa?! Jadi aku harus..." Sunny menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
"Iya, saat bulan purnama merah kau harus menusuk dengan pedang itu tepat di jantungku, setelah itu aku dapat pergi dan bereinkarnasi," ucap Levia seraya tersenyum dan menggenggam kedua tangan Sunny.
Sunny tak kuasa menahan air matanya lagi, Sunny menangis sejadi-jadinya, dirinya tak percaya ini, tidak, Sunny tidak mau menjadi seorang pembunuh.
"Tidak... Levia... aku tidak bisa," Sunny menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berurai air mata.
"Kau pasti bisa, Sunny. Aku mohon padamu, hanya kau yang bisa melakukannya, lakukan demi aku Sunny, aku kesepian hidup seperti ini, aku ingin dapat bereinkarnasi dan hidup normal seperti kau dan yang lainnya, aku ingin merasakan memiliki sebuah keluarga lagi," Levia menangis lalu memeluk Sunny erat.
Mereka berdua menangis bersama tetapi dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Bulan purnama merah akan muncul beberapa hari lagi dan sepertinya akan menghadirkan kejadian-kejadian yang tidak terduga sebelumnya. Sepertinya mereka harus bersiap akan hal itu.
******