
"Sunny! Pejamkan kedua matamu! Bayangkan bahwa makhluk mengerikan itu tidak ada di hadapanmu! Makhluk itu hanya ilusi, Sunny! Kau harus bisa mengalahkan ilusi itu atau kau akan terperangkap di dalam ruangan ini untuk selamanya!" Levia berteriak untuk menyadarkan Sunny. Namun, Sunny sedikit ragu dengan ucapan Levia. Ia tidak yakin bila makhluk di hadapannya ini hanya sebuah ilusi.
Karena benar-benar terlihat nyata dan Sunny merasa sangat takut akan hal itu. "Pejamkan matamu, Sunny! Cepatlah!" teriak Levia kembali saat Sunny belum juga memejamkan kedua matanya. Sunny ragu sejenak akan hal itu, ia takut saat memejamkan matanya makhluk buas itu malah akan menerkamnya.
Namun, tidak ada pilihan lain, ia mau tidak mau harus menuruti ucapan Levia. Sunny pun akhirnya memejamkan kedua matanya dan membayangkan sebuah ruang kosong dengan pintu berwarna merah di dalam ruangan kosong itu. "Bagus, Sunny, sekarang buka matamu," ucap Levia dengan nada biasa.
Saat Sunny membuka matanya, ia benar-benar sangat terkejut. Apa yang di bayangkannya benar-benar terjadi. Di hadapannya saat ini, Sunny benar-benar berada di dalam ruang kosong yang berwarna putih. Pada pojok kanan ruangan ada pintu yang berwarna merah.
__ADS_1
"Cepat masuk kedalam pintu itu, dan selamatkan kakakku, sebelum bulan purnama merah menghilang," pinta Levia. Sunny langsung berlari menuju ke arah pintu yang berwarna merah itu. Karena memang hanya ada satu pintu di dalam ruangan itu sesuai bayangan Sunny.
Sesampainya di depan pintu berwarna merah yang ternyata terbuat dari batu. Sunny sedikit ragu untuk membukanya. Menempelkan salah satu tangannya pada gagang pintu lalu memutarnya perlahan.
Sunny mendorong pintu itu dengan kesusahan dan sekuat tenaganya. Benar-benar berat karena pintu itu seluruhnya terbuat dari batu. Akhirnya ia berhasil juga membuka pintu merah itu. Namun, tidak terbuka lebar hanya selebar dirinya saja. Beruntungnya Sunny memiliki tubuh langsing hingga ia dapat masuk ke dalam walaupun pintu itu tidak terbuka lebar.
Di dalam pintu merah itu ternyata adalah goa yang sangat sempit. Hanya selebar tubuh satu orang dewasa saja. Sunny berjalan perlahan menyusuri goa yang memiliki penerangan dari obor yang menempel di sepanjang dinding goa.
__ADS_1
Terus berjalan menyusuri goa itu, Sunny hampir putus asa. Lorong goa itu sangat panjang, seperti tidak berujung. Sunny berhenti sejenak untuk melepas lelah.
Ia membungkukkan tubuhnya, sedikit terkejut dengan apa yang di lihatnya. Sunny baru menyadarinya bahwa lantai goa yang di pijaknya itu ternyata terbuat dari kaca tebal. 'Mengapa Aku tidak mengetahuinya, tadi,' batin Sunny sedikit bingung.
Dirinya benar-benar bingung, saat ia baru memasuki goa. Di lihatnya bagian lantai goa terlihat gelap, sama sekali tidak terlihat seperti kaca bening tebal. Sunny merinding seketika, di tengoknya bagian depan dan belakangnya sangat gelap sekali. Cahaya obor hanya menyinari langkahnya saja. Bila ia sudah melangkah melewati obor yang menyala, maka api yang ada pada obor itupun akan otomatis mati. Ia pun bingung kenapa bisa seperti itu.
Sunny kini berjongkok, mengamati bagian bawah goa dari lantai kaca itu. Terlihat ada salju di bagian bawah goa. Pada bagian bawah gia yang ia pijak saat ini, juga terdapat goa. Tetapi, goa itu bersalju. Sunny sungguh tidak percaya.
__ADS_1
"Sebenarnya, tempat apa ini?" lirih Sunny. Sesaat kemudian ia memanggil-manggil nama Levia. Namun, tidak kunjung ada jawaban. Sunny kesal, di saat ia sangat membutuhkan Levia, Levia malah menghilang. Sunny bingung harus terus melangkah atau berbalik saja untuk pulang.
***