
"Besok adalah saat-saat yang sangat menentukan, aku berharap semuanya akan baik-baik saja," ucap Rebeca sambil duduk di depan meja rias dan menatap Rudolf dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.
Saat ini Rudolf, Rebeca, Dareen, Sunny dan Matilda sudah tiba di hotel tempat mereka menginap. Mereka muncul di gang sempit dekat hotel lalu masuk ke dalam hotel untuk melapor kepada resepsionis perihal kedatangan mereka.
Sebenarnya mereka bisa saja langsung muncul dan berada di dalam kamar hotel tetapi pasti para petugas hotel akan merasa terkejut karena tiba-tiba muncul begitu saja tanpa pemberitahuan, karena Rudolf mengatakan kepada supir dari pihak hotel bahwa mereka akan menginap di kediaman Nyonya Nixon saat itu dan tidak ikut kembali ke hotel, dan pasti sopir itu sudah memberitahukan perihal itu kepada resepsionis.
"Ya, aku berharap begitu dan Dareen putra kita akan kembali normal." ucap Rudolf penuh harap.
Perihal Dareen tidak berubah menjadi makhluk penghisap darah di dalam dunia lionton karena ada pedang kutukan berada di sana jadi setengah jiwa Dareen yang di kutuk itu tersegel di dalam tubuh Dareen, tidak kuat dengan aura yang terpancar dari pedang itu dan yang muncul adalah setengah jiwa asli milik Dareen.
Saat Dareen dan Sunny tiba di dalam kamar hotel tiba-tiba saja tubuh Dareen sangat lemas dan gemetar serta merasakan haus yang teramat sangat, Dareen seketika itu juga ambruk terjatuh di atas lantai dan tubuhnya tidak dapat di gerakkan.
Seluruh tubuh Dareen seketika itu juga terkelupas dan beterbangan di sekitar kamar itu.
Sunny yang melihat kondisi sang suami berniat untuk memanggil papa dan mama mertuanya, tetapi Dareen menahannya dan dengan suara lemahnya meminta Sunny untuk mengambilkan pil dan juga darah hewan yang berada di dalam kulkas kecil di pojok kamar.
Sunny pun menuruti perkataan Dareen untuk mengambil pil dan darah itu, lalu dengan cepat meminumkannya kepada sang suami. Tak berapa lama Dareen pun akhirnya tak sadarkan diri. Sunny panik dan bergegas pergi ke kamar kedua mertuanya yang berada tepat di sebelah kamarnya.
__ADS_1
Semenjak kepergian Sunny, tubuh Dareen berangsur-angsur mulai kembali normal, kulit dari tubuh Dareen yang beterbangan akibat terkelupas tiba-tiba terbakar dan menghilang seluruhnya dari dalam kamar itu menyerupai asap hitam. Wajah pucat, gigi taring dan kuku panjangnya tidak nampak lagi, sekarang Dareen benar-benar terlihat seperti manusia normal pada umumnya, tetapi kedua matanya masih terpejam.
Terlihat pintu kamar hotel yang di tempati Dareen dan Sunny terbuka, nampaklah Rudolf, Rebeca dan Sunny bergegas masuk dengan menampilkan wajah yang penuh dengan kecemasan.
Rudolf yang melihat sang putra terbaring di atas lantai dengan mata terpejam langsung memapah Dareen ke atas ranjang yang di bantu Rebeca dan Sunny.
Rebeca bertanya kepada Sunny apa yang terjadi dengan Dareen kemudian Sunny menceritakan semuanya kepada kedua mertuanya itu.
Sudah dua jam berlalu, Rebeca masih di liputi kecemasan melihat Dareen yang belum juga tersadar dan membuka kedua matanya.
"Aku akan memanggil Levia, siapa tahu dia dapat menyadarkan Dareen," usul Sunny dan mendapat persetujuan kedua mertuanya itu.
Levia yang sedang duduk di halaman rumahnya sambil memakan kue kering buatan Sunny sangat terkejut karena tiba-tiba saja Sunny muncul di hadapannya.
Tanpa banyak bicara Sunny langsung membawa Levia ke kamar hotel. Saat tiba di sana Levia terkejut mendapati Dareen yang tertidur di atas ranjang dan di sampingnya ada Rudolf dan Rebeca.
Levia bertanya apa yang terjadi pada Dareen kepada ketiga orang yang ada di hadapannya ini, kemudian Sunny yang mengetahui kejadiannya langsung bercerita kepada Levia.
__ADS_1
Levia hanya tersenyum mendengar penjelasan Sunny lalu berjalan mendekati Dareen dan menyentuh keningnya dengan jari telunjuknya, tak berapa lama muncullah sinar yang berwarna kehijauan dari kening Dareen.
Levia memundurkan kakinya dan tak berapa lama Dareen pun tersadar dari pingsannya itu.
Ternyata tindakan Sunny dengan membawa Levia kemari adalah tindakan yang tepat menurut Rebeca karena buktinya Dareen langsung tersadar.
"Ada apa sebenarnya kenapa hal ini bisa terjadi pada Dareen?" tanya Rebeca penasaran pada Levia.
"Itu karena makhluk penghisap darah yang ada di dalam tubuh Kakak sedang membuka segelnya, selama ini dia tersegel dan kehausan karena Kakak tidak meminum darah tetapi makan-makanan manusia biasa, maka setelah makhluk itu meminum darah dia mulai memperbaiki jiwanya yang lemah dengan cara tidur panjang, sehingga tubuh Kakak nantinya akan kembali normal, tapi karena aku membangunkannya secara paksa maka tubuh Kakak masih terlihat lemah," jelas Levia, dan di angguki oleh Rudolf, Rebeca dan Sunny.
"Tidur panjang?" tanya Sunny.
"Iya, tidur panjang untuk memperbaiki makhluk itu yang lama tidak minum darah dan terkena aura dari pedang kutukan itu, tidur panjangnya bisa selama satu minggu bahkan lebih agar tubuh yang di tempatinya bisa normal kembali," jelas Levia kembali.
"Sayang, bertahanlah, tinggal satu hari lagi dan besok rencana kita akan di mulai, Mama mohon bertahanlah," ucap Rebeca sambil memeluk tubuh lemah Dareen dan berurai air mata.
Rudolf pun tak kuasa menahan air matanya lagi, tak tahan melihat keadaan putra semata wayangnya itu dalam keadaan kesakitan dan lemah. Dirinya berharap besok akan ada keajaiban pada Dareen.
__ADS_1
...******...