
"Bisa beri penjelasan padaku, siapa laki-laki yang di kantin bersamamu?" tanya Dareen datar menatap keluar jendela kamar, menampakkan kegelapan malam.
Sunny tersentak kaget atas pertanyaan Dareen, darimana Dareen tahu tentang Revan? Apa ada mata-mata kiriman Dareen? Atau Dareen melihatnya dendiri? Tapi dimana, aku sama sekali tidak melihar Dareen di sekolah.
Hanya saat pergi dan pulang sekolah saja Dareen menjemput, itu pun menghentikan mobilnya tidak di depan gerbang sekolah, tetapi di halte bus yang berjarak kira-kira sepuluh meter dari gerbang sekolah. Memang sengaja seperti itu, sudah kesepakatan bersama, supaya tidak heboh karena pasti banyak gosip yang beredar.
Walaupun dikemudian hari rahasia ini terbongkar, ya mau tidak mau harus mengakuinya juga. Semoga bisa berjalan mulus selama enam bulan kedepan.
Sebenarnya tidak masalah apabila pernikahanku di ketahui publik, tapi pasti siswa siswi akan heboh dan banyak yang mendekati hanya untuk sok kenal sok dekat, karena Keluarga Dimitri sangat berpengaruh di kota tempat tinggalku ini.
Aku tidak ingin seperti itu, aku ingin tetap menjadi Sunny yang apa adanya seperti sekarang.
"Kau tidak mau menjawabnya?" Dareen memandang ke arah Sunny yang masih berdiam diri menundukkan kepalanya.
Lamunan Sunny buyar, "Da-Darimana kau tau?" tanya Sunny yang masih menundukkan kepalanya, duduk di tepi ranjang.
Sunny takut memandang ke arah Dareen yang kedua bola matanya sudah berubah warna menjadi merah.
"Aku melihatnya sendiri,"
"Ta-Tapi aku, tidak melihatmu di sana,"
"Aku bisa berada dimanapun sesuai keinginanku! Jadi kau jangan macam-macam! Aku selalu mengawasimu! Mengerti!!" seru Dareen yang spontan membuat Sunny terlonjak kaget dan sedikit ketakutan.
Dareen menghampiri Sunny, mencengkram lehernya dengan kuku-kuku panjangnya, "Kau hanya milikku! Jadi cepat katakan, siapa laki-laki itu!" Dareen sudah tidak sabar lagi.
Ada rasa marah dan cemburu di dalam hati Dareen. Dareen tidak mau Sunny pergi dari hidupnya, Dareen menginginkan Sunny selalu berada di sisinya. Dareen pun tidak tau kapan rasa ini tumbuh. Dareen hanya menginginkan Sunny.
Sunny bergidik ngeri melihat kedua bola mata merah dan gigi taring yang nampak saat Dareen berbicara, jarak mereka sangat dekat, tidak ada pemisah diantaranya. Sunny hanya bisa pasrah bila Dareen menerkamnya saat ini.
"Le-Lepaskan dulu, nanti aku jelaskan," ucap Sunny takut-takut dan sedikit gemetaran.
Dareen melepaskan cengkraman tangannya dari leher Sunny dan langsung duduk bersila di atas ranjang king sizenya.
__ADS_1
Sunny dapat bernafas dengan lega, membalikkan tubuhnya menghadap Dareen.
Sunny kemudian bercerita tentang Revan, yang awalnya terkena lemparan bola basket, pingsan, dan Revan yang tiba-tiba selalu muncul di hadapan Sunny.
Dareen mendengarkannya dengan tenang, tidak ada kemarahan lagi di dalam dirinya, dan menarik kesimpulan bahwa Revan yang mengejar-ngejar istrinya. Sepertinya laki-laki yang bernama Revan itu harus di beri pelajaran. Dareen menyeringai, sepertinya sudah menemukan cara untuk memberi pelajaran pada Revan, supaya tidak mengganggu istrinya lagi.
Sunny yang melihat Dareen menyeringai, bergidik ngeri, spontan memengangi lehernya, waspada dengan cengkraman Dareen lagi. Sangat menakutkan bila marah. Benar-benar selalu berubah-ubah sikapnya, dirinya belum bisa memahami Dareen.
"Ayo ikut!" seru Dareen bersemangat dan langsung menggendong tubuh Sunny ala bridal style.
Sunny terkejut dengan perubahan sikap Dareen yang tiba-tiba. Dan lebih terkejutnya lagi saat Dareen berdiri di atas pembatas besi balkon.
Sunny sangat takut dan tanpa sadar memeluk erat tubuh Dareen, mengintip sekilas ke bawah, sangat tinggi, apa yang akan di lakukan Dareen, apa Dareen akan melemparnya dari atas balkon kamarnya? Jantung Sunny berdegup sangat kencang, seolah belum siap bila akhirnya harus mati malam ini juga di tangan sang suami yang baru beberapa hari di nikahinya.
Sunny terus memeluk tubuh Dareen dengan sangat erat, Sunny takut.
'Ayah, Ibu, tolong Sunny,' batin Sunny di dalam dekapan Dareen.
Sunny perlahan memalingkan wajahnya menatap Dareen. Melihat rambut Dareen yang berkibar-kibar dan merasakan hembusan angin yang menusuk-nusuk dirinya, Sunny terkesiap.
'Terbang,' Sunny tak percaya akan yang di alaminya saat ini.
Benar-benar terbang melayang-layang di udara, seperti salah satu film yang pernah di tontonnya. Sunny sedikit melonggarkan pelukannya pada Dareen, mencoba menikmati suasana yang terjadi saat ini, sungguh menakjubkan, tanpa sadar Sunny tersenyum lebar dan merentangkan salah satu tangannya menikmati hembusan angin malam.
Tak berapa lama Dareen mendaratkan kedua kakinya diatas papan sebuah rumah kayu.
Dareen menurunkan Sunny dari gendongannya, "Ternyata kau berat juga ya... hehehe," kekeh Dareen dan membuat Sunny tersipu malu.
"Ini... Dimana?" Sunny mengedarkan pandangannya tanpa melihat ke arah Dareen.
Dilihatnya sebuah rumah berdiri kokoh di atas sebuah pohon besar. Bila di lihat secara seksama rumah itu cukup kokoh, menggunakan kayu di sekelilingnya yang berwarna cokelat tua mengkilat dan sangat halus saat di sentuh. Walaupun kita menghentakkan kaki di atasnya tetap kokoh, tidak ada goyangan sedikit pun.
Di depan rumah pohon ini, terdapat teras kecil, di kelilingi pembatas kayu di pinggirnya dan di bawahnya di alasi karpet bulu yang sangat tebal, ada selimut bulu hewan dan empat bantal kepala yang sangat empuk di sarungi bulu hewan juga.
__ADS_1
Dareen tidak menjawab pertanyaan Sunny, Dareen menarik tangan Sunny untuk memasuki rumah pohon itu.
Sunny terperanjat kaget, di dalamnya terlihat mewah, ya walaupun tidak begitu luas tetapi memiliki perabotan yang sangat kumplit, mulai dari lemari pendingin, lemari pakaian, tempat tidur, meja makan, dapur, meja kerja, televisi dan lain-lain.
Sunny tidak merasa kedinginan akibat hembusan angin malam, tetapi merasakan kehangatan di dalam rumah pohon ini. Dinding-dinding kayu yang mengelilinginya sangat tertutup rapat, tidak ada celah sedikit pun untuk jalan masuknya angin.
"Tempat apa ini?" tanya Sunny seraya berjalan dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah pohon, berhenti dan duduk di tepi ranjang yang hanya bisa di tiduri oleh satu orang.
"Tempat aku menikmati hasil buruanku,"
"Maksudmu... Meminum darah?" tanya Sunny penuh selidik.
"Ya dan mengambil bulu-bulu halusnya, kau lihat...." tunjuk Dareen pada ranjang, sofa, kursi, dan lain-lain yang berbulu.
Bola mata cokelat Sunny mengikuti arah yang di tunjuk Dareen, "Kau yang melakukannya sendiri?"
"Iya, untuk mengisi kebosananku yang selalu sendiri, dan kau orang yang pertama datang ke rumah pohon ini,"
Dareen berjalan menuju lemari pendingin makanan, mengambil sebuah botol yang berisi cairan berwarna merah, menuangkannya ke dalam gelas hingga penuh dan menegaknya hingga habis tak bersisa.
"Kau mau?" tawar Dareen memajukan botol yang berisi setengah cairan merah di salah satu genggaman tangannya.
Dengan cepat Sunny menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya dari Dareen. Pasti itu darah hewan, pikir Sunny.
Dareen yang melihat tingkah lucu Sunny, langsung tertawa.
*****
Dareen duduk di depan rumah pohon, di ikuti Sunny yang berada di sampingnya. Tiba-tiba Dareen mengambil salah satu bantal dan meletakkannya di atas pangkuan Sunny, kemudian menidurkan kepalanya di atas bantal tersebut.
Bola mata merah, gigi taring dan kuku-kuku tajam Dareen masih muncul. Sunny baru mengetahuinya dari Dareen, setiap malam pasti wujudnya akan seperti itu, akan kembali seperti manusia pada umumnya saat menjelang pagi hari. Untuk itu Dareen selalu menyendiri di rumah pohonnya itu. Sepertinya semenjak Dareen punya istri, Dareen akan lebih sering menghabiskan waktu di rumah pohonnya bersama sang istri, Sunny.
Mereka berdua asyik bercengkrama menceritakan diri mereka masing-masing supaya bisa saling lebih mengenal satu sama lain dan tidak ada rahasia di antara suami istri.
__ADS_1