Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 12


__ADS_3

Dareen mendaratkan kedua kakinya di atas tanah yang tepat berada di depan mulut goa petir, berhenti sejenak untuk meyakinkan tempat tersebut apakah benar goa petir atau bukan, karena Dareen sudah lama sekali tidak memasuki goa petir ini.


Menatap waspada kesekelilingnya karena tidak menutup kemungkinan akan adanya jebakan yang tidak terduga. Dareen tidak tau seberapa cerdik atau liciknya pria bertopeng itu.


Dareen mengambil batu berukuran sedang sebanyak empat buah, kemudian melemparkannya pada bagian kanan, kiri, atas dan bawah mulut goa secara bergantian.


Setelah di rasa cukup aman, Dareen perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam goa yang pencahayaannya temaram, hanya di sinari cahaya dari obor yang di tempatkan pada bagian kanan dan kiri dinding goa.


Dareen tetap dengan kewaspadaannya, terus berjalan masuk menyusuri kedalaman goa, dari kejauhan samar-samar Dareen mendengar percakapan antara pria dan wanita, Dareen hafal betul suara si wanita itu milik Sunny.


Dareen terus melangkah mendekati asal suara itu, mendengarkan percakapan diantara keduanya di balik dinding bebatuan.


******


"K-Kak Re-Revan, ke-kenapa kakak?" Sunny masih tidak percaya bahwa pria bertopeng itu adalah Revan -kakak kelasnya-.


Revan memajukan tubuhnya dan mencengkram leher Sunny hingga Sunny mendongakkan kepalanya menatap kedua bola mata Revan yang penuh dengan kebencian.


"Kau bilang kenapa? Gara-gara kakakmu menolak cinta kakakku, dan akhirnya kakakku mati bunuh diri," Revan mengepalkan tangan satunya hendak melayangkan tinjunya pada wajah mulus Sunny, tetapi di tahannya dan melepas paksa cengkraman tangannya lalu berbalik memunggungi Sunny.


Sunny memenggangi lehernya yang terasa sakit akibat cengkraman tangan Revan, dan menghirup udara sebanyak-banyaknya karena sepertinya jalan udara tertutup akibat cengkraman tadi.


'Kenapa sih kedua lelaki ini pada suka sekali mencengkram leherku,' gerutu Sunny dalam hati yang merasakan kesakitan di bagian lehernya.


Sunny menundukkan kepalanya mengingat kembali obrolan dirinya dengan sang kakak, Bastian dua tahun yang lalu. Bastian pernah bercerita bahwa dia sangat menyukai seorang gadis bernama Revina. Apakah Revina itu kakak dari Revan.


Sunny mendongakkan kepalanya, "Apakah kakakmu bernama Revina?" tanya Sunny pada Revan yang masih memunggunginya dengan kedua tangannya terkepal erat.


"Kakakmu yang cerita?" Revan memalingkan wajahnya ke samping, melirik Sunny.

__ADS_1


"Ya..."


Revan berbalik, kedua tangannya di sedekapkan di depan dada bidangnya, "Lalu?" Revan meminta kejelasan kepada Sunny.


"Ya... Kak Bastian cerita kalau dia sangat menyukai seseorang yang bernama Revina. Hari dimana Kak Bastian mengalami kecelakaan, sebenarnya Kak Bastian akan mengungkapkan perasaannya pada Kak Revina. Tetapi aku tidak tau Kak Bastian sudah mengungkapkan perasaannya pada Kak Revina atau belum, sampai saat ini Kak Bastian masih mengalami koma, hanya itu yang ku tahu," Sunny yang di pandang Revan hanya menjelaskan seadanya dan yang dia dengar dari Bastian.


"Kakakmu menolak kakakku, maka dari itu kakakku mati bunuh diri, terjun dari atas jembatan gantung di taman bermain," jelas Revan.


Kedua mata Sunny berkaca-kaca, "Ti-Tidak mungkin kakakku menolak kakakmu, kakakku sangat menyukai kakakmu!" Sunny bersikeras dengan jawabannya sendiri.


"Kalau memang kakakmu menyukai kakakku, tidak mungkin kakakku mati bunuh diri, pasti saat ini kakakku masih hidup!" seru Revan tak mau kalah.


"Tidak! Pasti ada kesalahpahaman disini, kita harus bangunkan kakakku dulu untuk mengetahui hal yang sebenarnya," Sunny bergegas mendekati peti kaca, mencari tombol pembuka peti kaca.


Revan menjulurkan salah satu tangannya ke bagian bawah peti kaca. Peti kaca itu beralaskan kayu yang sangat tebal, di bawah kayu itu ada tuas untuk membuka dan menutup peti kaca.


Revan yang melihatnya hanya berkata, "Itu hanya jiwa kakakmu, kau tidak bisa menyentuhnya, aku yang mengurung jiwa kakakmu selama dua tahun di sini," senyum sinis terpancar di wajah tampan Revan.


"Apa? Bagaimana bisa? Kenapa kau lakukan ini pada kakakku?" Sunny meminta penjelasan.


"Aku bersekutu dengan iblis, untuk bisa mengambil dan mengurung jiwa siapapun... HAHAHA..."


Sunny membelalakkan kedua matanya dan menutup mulutnya tak percaya mendengarkan perkataan Revan.


"Aku selama ini mencoba mendekatimu, untuk menjadikanmu kekasihku, lalu aku akan mencampakkanmu, seperti kakakmu mencampakkan kakakku," Revan mengatakannya tepat di depan telinga Sunny.


"Setelah aku mengetahui kau sudah menikah dengan anak dari keluarga Dimitri, maka aku tidak bisa bermain halus lagi, karena kau pasti akan di lindungi oleh suami monstermu itu... HAHAHA... Maka dari itu aku bermain kasar sekarang... HAHAHA..." tawa Revan menggema di dalam goa.


"Tidak! Suamiku bukan monster seperti yang kau katakan!" seru Sunny penuh emosi.

__ADS_1


Seketika itu juga kalung yang melingkar di leher Sunny tiba-tiba bersinar terang, memunculkan warna ungu yang menyinari jiwa Bastian. Sunny dan Revan seketika itu juga terkejut dan mengangkat salah satu tangannya untuk menghalau sinar yang begitu terangnya.


Tak berapa lama sinar itupun menghilang dan menampakkan Bastian yang mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka kedua matanya.


Bastian mengerjap-ngerjapkan kedua matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Memandang sekeliling dan akhirnya pandangannya tertuju pada dua orang yang berdiri di sebelah peti kaca.


"Sunny," lirih Bastian berusaha bangkit dari tidurnya. Tatapan matanya penuh cinta dan kerinduan, ya Bastian sangat mencintai dan merindukan sang adik.


Bastian akan menyentuh Sunny tetapi tidak bisa, tangannya menembus tubuh sang adik.


Sunny hanya diam memandangi Bastian sambil berurai air mata, Sunny ingin sekali memeluk sang kakak untuk melepas kerinduan, tetapi tidak bisa. Tak ada kata yang terucap dari bibir Sunny, seakan-akan ada seseorang yang menahan mulutnya agar tak berbicara.


Terdiam cukup lama dan hanya saling pandang saja antara Bastian dan Sunny, akhirnya Revan buka suara.


"Kau Bastian?"


Revan sengaja bertanya namanya, takutnya bila jiwa di hadapannya ini mungkin saja lupa akan namanya sendiri.


"Ya, benar, kau siapa?" pandangannya tertuju pada Revan penasaran.


"Aku Revan... Adik dari Revina... Apa kau mengingatnya?" tanyanya dengan senyum sinisnya pada jiwa di hadapannya ini.


"Revina? Benarkah? Apakah Revina ada di sini?" tanya Bastian bertubi-tubi, sebenarnya Bastian sangat merindukan Revina.


"Kau jangan berpura-pura tidak tahu! Kau yang menyebabkan kakakku Revina mati bunuh diri!" geram Revan pada Bastian yang berpura-pura tak tau apa yang sebenarnya terjadi.


Revan ingin sekali melayangkan tinjunya pada wajah Bastian yang saat ini menampilkan wajah tanpa dosanya itu, tetapi di urungkannya, Revan ingin meminta jawaban pasti dari Bastian.


"Re-Vina, bu-nuh diri? Apa maksudmu?" tanya Bastian tak percaya tentang gadis yang sangat di sukainya itu.

__ADS_1


__ADS_2