Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 39


__ADS_3

Revan menggeliatkan tubuhnya saat merasakan cahaya matahari yang masuk dari celah atap rumah kayu itu menerpa sebagian wajahnya.


Mengerjap-ngerjapkan kedua matanya mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk dan mengumpulkan nyawanya agar sepenuhnya sadar.


Lalu dirinya pun beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya untuk membersihkan diri, setelah itu Revan membuat sarapan dengan bahan-bahan yang semalam sudah di bawa dari mansionnya dan di masukkan ke dalam kulkas yang ada di rumah kayu itu.


Revan asyik bersenandung sambil memanggang roti tawar, membuat dua butir telur ceplok, mengupas satu buah alpukat lalu memotongnya serta membuat segelas susu cokelat hangat favoritnya.


Selesai menyiapkan makanan dan minuman untuk sarapan, dirinya langsung melahapnya dengan perlahan sambil memperhatikan ke sekeliling ruang makan yang menjadi satu dengan dapur.


Dulu saat Revina masih hidup, Revina lah yang selalu membuatkan sarapan untuknya saat akan berangkat ke sekolah, tetapi saat ini selalu pelayan yang menyiapkannya, tetapi saat Revan rindu masakan sang kakak maka Revan akan memasaknya sendiri karena Revina sudah mengajarkan cara memasaknya, walaupun rasanya berbeda, tetapi Revan tetap senang dan seolah-olah Revina yang memasaknya.


Seperti saat ini, Revan sangat merindukan sang kakak jadi dirinya membuat sarapan yang biasa di buat oleh sang kakak.


Selesai menghabiskan sarapannya, Revan berpamitan pada jasad tanpa jiwa milik Revina, dan tentu saja tidak ada balasan dari Revina.


Setelah berpamitan, Revan dengan pakaian dan jubah hitamnya langsung berjalan keluar rumah hanya sekedar untuk melihat-lihat sekeliling rumah.

__ADS_1


Tak terasa Revan tiba di air terjun yang dulu dirinya hampir mencelakai Sunny. Revan tersenyum tetapi dengan raut wajah penuh kesedihan.


Tiba-tiba langit yang tadinya bersinar terang menjadi sedikit redup, Revan mendongakkan kepalanya memandang ke atas langit.


Dan di lihatnya bulan purnama yang awalnya berwarna putih itu, mulai ditutupi oleh warna merah darah yang perlahan mulai muncul dari sisi bagian bawah bulan, dan sedikit demi sedikit akan mulai menutupi bulan dengan sempurna.


"Bulan purnama merah akan segera muncul, aku harus cepat membawa Bastian kesini," ucap Revan dan langsung bergegas melesat menuju kediaman keluarga Gregorius.


...******...


Bulan purnama yang awalnya berwarna putih itu, mulai ditutupi oleh warna merah darah yang perlahan mulai muncul dari sisi bagian bawah bulan.


"Sepertinya sedikit demi sedikit akan mulai menutup dengan sempurna. Aku harus bergegas." ucap Dareen dan langsung kembali masuk ke dalam kamar.


Saat masuk ke dalam kamar, di lihatnya Rudolf, Rebeca dan Matilda sudah berada di dalam kamarnya.


"Sayang, apa kau sudah melihat bulan di luar?" tanya Rebeca pada Sunny. Sunny hanya menggelengkan kepalanya karena dirinya baru saja selesai mandi.

__ADS_1


Rebeca langsung menghampiri Sunny saat masuk ke dalam kamar yang di tempati anak dan menantunya itu, dan dengan wajah yang sedikit panik langsung menanyakan hal itu kepada Sunny yang di lihatnya saat pertama masuk ke dalam kamar.


"Kita harus bergegas pergi ke hutan lumut merah sesuai yang di perintahkan oleh Nyonya Nixon," ucap Dareen saat berdiri di hadapan Rebeca dan Sunny.


"Oke! Ayo!" seru Rebeca semangat.


Saat semuanya akan bergegas keluar, tiba-tiba Sunny berseru.


"Tunggu! Kita tidak bisa pergi dengan sopir hotel itu lagi,"


"Kenapa?" tanya Rebeca penasaran.


"Jika sopir hotel itu mengantar kita ke hutan lumut merah, lalu saat kembali lagi ke hotel ini, dia pasti akan bercerita pada orang-orang yang ada di sini, jadi sebaiknya kita pergi bersama Levia," jelas Sunny yang tak mau bila orang lain mengetahui tentang masalah keluarga mereka.


Rudolf, Rebeca, Dareen dan Matilda menganggukkan kepalanya masing-masing tanda setuju dengan pendapat Sunny dan mereka pun akhirnya pergi masuk ke dunia liontin untuk menemui Levia dan akan pergi bersamanya ke hutan lumut merah.


...******...

__ADS_1


__ADS_2