Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 19


__ADS_3

Sudah tiga jam yang lalu Dareen dan Sunny tiba di mansion Keluarga Dimitri di Negara L.


Mansion Keluarga Dimitri yang berada di Negara L ini sama besarnya seperti mansion yang berada di dekat sekolah Sunny, hanya saja di mansion ini banyak sekali para penjaga dan di kelilingi tembok pembatas yang kira-kira setinggi tiga meter, di atas tembok pembatas itu di penuhi mata tombak yang sangat runcing dan kawat berduri yang melingkari setiap mata tombaknya.


Di tengah-tengah mansion di bangun sebuah menara yang sangat tinggi dan megah, di bagian atas menara penuh dengan para penjaga dan lampu sorot yang selalu bekerja secara otomatis menyorot dengan teliti ke setiap penjuru yang ada di dalam maupun di luar tembok pembatas.


Sungguh penjagaan yang sangat ketat, apakah harta kekayaan Keluarga Dimitri takut di rampok sehingga harus memiliki penjagaan yang sangat ketat seperti ini, atau ada hal lainnya, pikir Sunny.


Saat ini Sunny duduk seorang diri di atas sebuah gazebo yang berada di tengah-tengah sebuah kolam ikan, ikan-ikan yang berada di dalam kolam memiliki warna, corak dan bentuk yang berbeda-beda, sepertinya dari beberapa macam jenis ikan.


Sunny merasakan ketenangan dan kesepian saat matanya tertuju pada ikan-ikan yang sedang berenang kesana kemari.


Ketenangan yang di rasakan Sunny karena di sekitarnya benar-benar terasa sepi, hanya suara air terjun mini di pojok kolam yang terdengar dan juga suara hewan-hewan malam, para penjaga di sekitar Sunny hanya diam dan berdiri seperti patung. Sedangkan kesepian yang di rasakan Sunny karena di mansion yang sebesar ini tidak ada keramaian dalam keluarga.


Sunny sangat merindukan keluarganya, walaupun hanya tinggal berempat, tetapi selalu ramai dengan ocehan-ocehan dari Bastian dan juga dirinya.


Sunny duduk di tepian gazebo sambil menggantungkan kakinya, karena jaraknya cukup tinggi jadi kaki Sunny tidak sampai menyentuh permukaan air kolam. air kolamnya pun sangat jernih hingga Sunny bisa melihat hingga ke dasar kolam, walaupun saat ini malam hari, tetapi karena cahaya lampu di sekitar kolam ikan lumayan terang juga di tambah lampu sorot dari atas menara yang sesekali menyorot ke arah dirinya yang sedang duduk.


Sunny hanya duduk diam termenung, memikirkan kejadian demi kejadian yang telah Sunny lalui sampai saat ini, tak pernah terbayangkan oleh Sunny sebelumnya, bahwa dirinya akan menikah muda bahkan saat ini dirinya belum lulus sekolah menengah atas.


Sunny mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok sang suami yang sedang pergi berburu, ya mungkin saja sang suami sudah pulang dari berburu, karena Sunny merasa kesepian duduk sendiri tidak ada teman ngobrol.


Sunny tertunduk lesu karena tidak mendapati sang suami.

__ADS_1


******


Dareen berhasil melumpuhkan tiga ekor serigala sekaligus. Dareen tak menyangka di hutan ini banyak sekali serigala hingga dirinya tidak perlu repot-repot untuk memantaunya atau mencarinya ke sana ke mari, karena di hadapannya banyak berkumpul serigala.


Dareen hanya membutuhkan darahnya saja, sedangkan tubuh serigala itu dibiarkannya begitu saja, jika saat ini Dareen berada di rumah pohon, tentu saja kulit dari hewan buas itu sangat berguna untuk di jadikan beraneka ragam kerajinan, tetapi karena saat ini berada di negara lain, Dareen tidak peduli dan membiarkan saja tubuh serigala itu tergeletak di tanah, nanti juga akan di makan oleh hewan karnivora lainnya, pikir Dareen.


"Sepertinya cukup untuk tiga sampai empat hari ke depan," gumam Dareen puas sambil menutup botol kaca ke enamnya yang berisi darah.


Sebelum Dareen pergi berburu untuk mengenyangkan perutnya, dirinya berselancar dulu di dunia maya, mencari informasi mengenai keberadaan hutan yang terdekat dengan mansion keluarganya. Ternyata 'Hutan Kota' yang lumayan dekat, hanya berjarak beberapa puluh meter dari mansion keluarganya.


Sebenarnya ini pertama kalinya Dareen pergi ke negara lain semenjak menerima kutukan itu, setiap di ajak oleh kedua orang tuanya, Dareen selalu menolak dengan alasan tidak nyaman. Saat ini Dareen bersedia mengikuti keinginan kedua orang tuanya pergi ke negara lain, mungkin saja ini ada hubungannya dengan bulan purnama merah, pikir Dareen.


Setelah perutnya merasa kenyang dan memasukkan ke enam botol kaca yang berisi darah serigala ke dalam tas punggungnya, Dareen bergegas melesat pergi menuju mansion keluarganya untuk menemui sang istri.


******


Sunny terperanjat kaget seraya membulatkan kedua bola matanya saat melihat pantulan dirinya di atas permukaan kolam ikan, tepat di sebelahnya ada pantulan wajah sang nenek pengemis yang dulu pernah menemuinya saat berada di taman. Sunny masih ingat betul wajah sang nenek.


Perlahan Sunny mengangkat wajahnya dan menolehkan kepalanya ke samping kanannya, benar saja sang nenek duduk di sebelahnya dan memandang ke arah Sunny sambil tersenyum.


Sunny terdiam memandangi sang nenek yang berada di hadapannya tanpa berkedip sedetikpun, karena takut sang nenek akan menghilang dari hadapannya.


"Kau tidak perlu memandangiku seperti itu, aku tidak akan pergi," ucap sang nenek pengemis seolah mengetahui isi hati dan tatapan mata Sunny.

__ADS_1


"Ja-Jadi benar ini nenek?" tanya Sunny sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya berkali-kali, kemudian menyentuh pundak sang nenek perlahan.


Sunny hanya ingin memastikan bahwa seorang nenek yang ada di hadapannya ini nyata dan bukan ilusi.


Nenek itu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Panggil saja aku, Nenek Ero," Sunny pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Kau masih memakai kalung yang ku berikan?" tanya Ero sambil menatap Sunny penasaran.


"Masih, nek," Sunny mengeluarkan kalung bandul kuncinya dari balik kaos lengan pendeknya dan menunjukkannya ke hadapan Ero.


"Bagus, pakai terus, jangan pernah kau lepaskan dari lehermu, itu bisa menjadi pelindungmu," Ero menatap Sunny lekat, "Di dalamnya ada jiwa murni, bila kau selalu berbuat kebaikan, maka jiwa itu akan semakin bertambah kekuatannya dan kau juga akan merasakan kekuatan murni itu," jelas Ero serius.


Sunny sedikit tak percaya akan penjelasan Ero, tetapi saat awal-awal Sunny memakainya memang Sunny merasakan sesuatu pada tubuhnya.


Sunny menggenggam kalung yang melingkar di lehernya, tiba-tiba saja seberkas cahaya berwarna ungu terpancar dari dalam genggaman tangannya. Spontan Sunny menatap ke arah Ero yang tersenyum senang.


"Kekuatan jiwa murni itu mulai meningkat, teruslah berbuat kebaikan," Ero menepuk lembut pundak Sunny.


"Semakin terang cahaya yang bersinar, maka semakin banyak kebaikan yang sudah kau perbuat dan itu cukup untuk membuka pintu dunia lain," senyum Ero semakin berkembang.


"Apa maksud nenek dengan pintu dunia lain?" Sunny mengerutkan keningnya tak mengerti maksud perkataan Ero.

__ADS_1


******


__ADS_2