
"Masuk ke dalam pohon itu dengan menggunakan kunci yang tergantung di lehermu," ucap lemah Nenek Ero dan berharap Sunny mengerti ucapannya. Sunny pun menganggukkan kepalanya lalu membungkukkan badannya dan memasukkan kunci ke dalam lubang kunci yang ada di badan pohon itu. Sunny ingat ucapan Nenek Ero yang tidak boleh melepaskan kalung yang melingkar pada lehernya, untuk itu Sunny membungkukkan badannya untuk membuka pintu itu.
Sunny terkesiap saat pintu itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Dirinya menolehkan kepalanya memandang ke arah Nenek Ero. "Masuklah dan selamatkan suamimu," ucap Nenek Ero sambil tersenyum. Sunny hanya menganggukkan kepalanya mantap dan melangkahkan kakinya memasuki pohon besar yang terbuka lebar. Setelah Sunny masuk ke dalam pohon itu, tiba-tiba saja pintu yang terbuka lebar itu langsung tertutup dengan sendirinya.
Nenek Ero tersenyum melihat itu. "Semoga kau berhasil menyelamatkan suamimu, Sunny, dan aku dapat pergi dengan tenang," ucap Nenek Ero kemudian meneteskan air matanya. Saat Nenek Ero akan melihat ke arah manusia serigala kembali tiba-tiba saja manusia serigala itu meluncurkan sebuah serangan yang sangat mematikan.
Seketika itu juga Nenek Ero langsung memuntahkan banyak darah dan sudah tidak berdaya lagi. "Sebentar lagi semuanya akan berakhir," ucap Nenek Ero sambil tersenyum menatap manusia serigala yang sedang menatapnya dengan tatapan seorang pembunuh.
__ADS_1
...******...
Sunny terus berjalan menyusuri lorong yang ada di dalam pohon besar itu. Dirinya benar-benar heran, pohon yang terlihat besar dan bulat dari luar ternyata memiliki lorong yang sangat panjang. Di dalam lorong itu hanya di sinari cahaya yang temaram untuk itu Sunny harus menajamkan penglihatan, telinga dan kakinya dalam melangkah.
Salah satu tangannya di masukkan ke dalam tas selempang kecil hitamnya sambil menggenggam belati pemberian Nyonya Nixon. Takut bila nanti tiba-tiba saja ada seseorang yang menyerangnya. Sunny terus melangkahkan kedua kakinya menyusuri lorong panjang dan dengan cahaya temaram itu.
Di tempat yang sekarang di masukinya itu hanya berupa ruang kosong yang di kelilingi tembok berwarna putih yang memancarkan cahaya. "Jadi, cahaya itu berasal dari tembok putih ini?" Sunny mengernyitkan keningnya tak percaya dengan apa yang sedang di lihatnya itu. Melangkahkan kedua kakinya ke depan dengan kewaspadaan penuh.
__ADS_1
Setelah tiba di tengah ruangan tiba-tiba muncul kabut berwarna hitam pekat. "Apa yang terjadi, mengapa tiba-tiba muncul kabut hitam ini?" Sunny tersentak kaget dan sedikit merasa takut. "Jangan takut, Sunny. Teruslah melangkah dan jangan terkecoh, semua ini hanya ilusi, kau harus temukan sebuah pintu berwarna merah. Di situlah kakakku berada, kau harus cepat sebelum pintu itu menghilang."
"Levia! Benarkah itu kau?!" teriak Sunny tak percaya dengan suara yang di dengarnya itu. "Ya, ini aku Sunny, sebelum aku sepenuhnya pergi darimu aku akan membantumu. Kau hanya harus mendengarkan ucapanku. Kau mengerti Sunny?" Sunny menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. "Ya aku mengerti, Levia," ucap Sunny lalu mengusap air matanya yang mengalir di kedua pipinya itu.
"Sekarang cepat kau cari pintu berwarna merah itu sebelum menghilang!" teriak Levia pada Sunny. Sunny menganggukkan kepalanya mantap dan berjalan perlahan di antara kabut hitam yang mengelilinginya. Baru beberapa saat melangkah terdengar suara auman binatang buas.
Suara itu semakin terdengar jelas oleh Sunny. Ia benar-benar merasa sangat ketakutan saat ini. Seketika itu juga Sunny di kejutkan oleh sebuah penampakan makhluk tinggi besar dengan gigi dan kuku yang sangat tajam. Sunny membelalakkan ke dua matanya, ia benar-benar merasa sangat ketakutan dan rasanya ingin berlari sejauh mungkin untuk mencari tempat persembunyian.
__ADS_1
...******...