
Di tengah-tengah tangisannya, Sunny merasakan ada sesuatu yang menyentuh kedua lengannya. Ia mendongakkan kepalanya secara perlahan, penasaran siapa yang telah menyentuhnya itu.
Terlihat Darren berada di hadapannya saat ini. Mengenakan pakaian kemeja lengkap tetapi robek di sana sini. Wajah putih pucat dengan mata merah, gigi taring yang menonjol keluar serta kuku-kuku panjang yang sangat mengerikan.
Sunny melirik sekilas tangan sang suami yang memegang lengan tangannya. Kemudian bergidik ngeri sambil menelan salivanya. Ia membayangkan jika kuku-kuku panjang itu menusuk hingga menembus kulit mulusnya maka sudah dapat di pastikan ia akan langsung pergi untuk selamanya.
"Kau bawa belati itu?" pertanyaan sang suami hanya di jawab dengan anggukan kepalanya.
"Cepat keluarkan! Dan tusukkan ke jantungku sebelum Aku berubah kembali!" Darren setengah berteriak mengatakan hal itu.
Sunny terkejut seketika, ia membayangkan bila menusuk jantung sang suami, maka suaminya akan pergi untuk selamanya. Sunny spontan menggelengkan kepalanya sambil menangis.
"Cepatlah sebelum bulan purnama merah menghilang!" teriak Darren untuk menyadarkan sang istri.
__ADS_1
Sunny pun menurut dan mengeluarkan belati dari dalam tasnya.
"Tusukkan ke jantungku,"
Sunny ragu, dengan cepat Darren mengarahkan belati yang di pegang sang istri ke jantungnya. Lalu menekannya hingga darah segar keluar dari dalam tubuh Darren.
Darah itu mengenai Sunny, ia spontan menutup matanya sambil menangis. Tak berapa lama Darren pun terkulai lemas dan tidak bergerak lagi.
Sunny membuka kedua matanya, lalu menarik kedua tangannya dari belati yang sekarang tertancap di bagian jantung sang suami.
Semakin lama cahaya itu semakin menyilaukan matanya. Hingga ia pun akhirnya memejamkan kedua matanya. Tak berapa lama, Sunny merasakan keheningan di sekitarnya. Perlahan ia membuka kedua matanya, di lihatnya banyak pepohonan. Ia sangat mengenali tempat ini.
"Hutan rumput merah." Sunny langsung mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Sangat gelap, hanya lampu penerangan dari hutan saja yang menyinari sekelilingnya. Mendongakkan kepalanya ke atas. Di lihatnya sudah tidak ada bulan purnama merah lagi.
__ADS_1
Mengedarkan kembali pandangannya ke sekelilingnya, "Dimana dia," lirihnya. Sunny mendengus kesal, ia merasa sangat sia-sia menyelamatkan sang suami. Kini Darren sama sekali tidak ada di sisinya.
Sunny kembali menangis kala mengingat ia telah menusuk jantung suaminya itu. "Seharusnya Aku lari saja saat dia memintaku menusuk jantungnya," gerutu Sunny sambil terus menangis.
Tanpa sadar ia telah berjalan hampir mendekati gerbang hutan. Ia menghentikan langkahnya. "Apa yang harus ku katakan pada Papa dan Mama mengenai Darren?"
Sunny terus menangis dan tubuhnya tiba-tiba seperti tak bertenaga, sangat lemah dan lemas. Kedua kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia pun jatuh di atas rumput merah.
"Darren," lirihnya memanggil nama sang suami. Namun, tidak ada jawaban.
Sunny benar-benar tak sanggup berdiri. Tubuhnya benar-benar lemas. Ia pun tak tahu kenapa menjadi seperti ini. Yang ia inginkan saat ini adalah adanya suatu keajaiban pada suaminya itu.
Darren, sang suami selamat dan dapat berkumpul kembali dengannya dan keluarganya. "Apakah itu mungkin? Darren sudah mati, Aku sendiri yang membunuhnya," lirih Sunny sebelum akhirnya memejamkan kedua matanya dan akhirnya tak sadarkan diri. Sunny benar-benar tak sanggup menahan dirinya lagi.
__ADS_1
***