Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 48


__ADS_3

Sunny masih dengan kebingungannya, dirinya tak sanggup melakukan semua ini. Sunny baru saja menemukan teman baik yaitu Levia, dirinya tak mau berpisah dengan Levia. Sunny meneteskan air matanya saat menatap bola mata Levia yang juga mengeluarkan air mata. Levia menganggukkan kepala dan berkata, "Tusukkan pedang itu,"


"Maafkan aku, Levia," lirih Sunny lalu menempelkan ujung pedang yang lancip tepat di depan dada kiri Levia. Sunny memejamkan kedua matanya lalu dengan perlahan memajukan pedang hingga menembus ke dalam jantung Levia. Levia merasakan sakit yang teramat sangat saat merasakan pedang itu masuk ke dalam tubuhnya. "Terima kasih, Sunny," lirih Levia sambil terus mengeluarkan air matanya. Pedang naga itu telah menembus jantung Levia.


Sunny perlahan membuka kedua matanya, terlihat Levia yang sudah terkulai lemas tidak bernyawa tertancap pada batang pohon besar dihadapannya dengan pedang naga yang tertancap tepat pada dada kirinya. Sunny spontan melepas genggaman kedua tangannya pada gagang pedang lalu menutup mulutnya. "Aku telah membunuhnya." Sunny tak percaya dengan apa yang dilihatnya, darah segar terus keluar dari mulut dan dada Levia. Sunny memundurkan langkahnya sambil terus menggelengkan kepalanya. "Aku seorang pembunuh." Sunny menangis dan terus mengucapkan kata 'Aku seorang pembunuh'.

__ADS_1


Nenek Ero yang kewalahan menghadapi monster serigala menatap Sunny dengan raut wajah kesal. "Sunny! Apa yang kau lakukan! Cepat kau telan mutiara itu!" teriak Nenek Ero sambil terusmelawan monster serigala. Lama tidak ada respon dari Sunny yang sedang meringkuk duduk di bawah pohon dengan tatapan kosong. Nenek Ero sebenarnya ingin menghampiri Sunny dan menyadarkannya tetapi monster serigala itu terus menyerangnya. "Sunny! Cepatlah sebelum bulan purnama merah menghilang atau kau akan kehilangan suamimu untuk selamanya!" Nenek Ero kembali berteriak berharap teriakannya kali ini dapat menyadarkan Sunny.


Saat mendengar kata suami disebut, Sunny langsung tersadar dari lamunannya. "Ya, aku harus menyelamatkan suamiku, sebelum itu aku harus menelan sebutir mutiara. Namun, dimana mutiara itu?" gumam Sunny lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dilihatnya Nenek Ero yang sedang bertarung melawan monster serigala yang terlihat sudah sangat kewalahan. Lalu melihat pedang naga yang tertancap pada batang pohon besar dan ada mutiara ungu yang bersinar terang diatasnya.


Sunny langsung melangkahkan kedua kakinya menuju pohon itu dan setibanya disana Sunny langsung menjulurkan salah satu tangannya ke arah sebutir mutiara yang melayang itu, kemudian mengambilnya. Sesaat Sunny menatap ke arah Nenek Ero yang sudah terkulai lemas di atas rumput merah dan keluar darah segar dari dalam mulutnya. Sunny ingin menghampiri Nenek Ero tetapi Nenek Ero langsung mengangkat tangannya sebagai tanda penolakan.

__ADS_1


Tubuh Sunny memancarkan cahaya keunguan ditambah terkena sinar cahaya bulan purnama merah dan itu makin menambah rasa sakit yang dirasakannya. Sunny terus berteriak sambil mengeluarkan air mata, dirinya sudah tak tahan lagi. Sebenarnya proses apa yang sedang dialami tubuhnya ini, mengapa lama sekali prosesnya.


Tak lama Sunny merasa rasa sakit yang dialaminya pada seluruh tubuhnya perlahan mulai berkurang. Cahaya yang memancar dari dalam tubuhnya juga telah menghilang. Sunny tidak merasakan lemas sama sekali tetapi sebaliknya Sunny menjadi lebih bertenaga dan segar. Sunny tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya ini. Membolak balik kedua tangannya dan merasakan seperti ada kekuatan yang memasuki tubuhnya.


"Apakah kekuatan ini berasal dari Levia?" tanya Sunny pada dirinya sendiri. Sunny melihat ke arah batang pohon yang tadi tertancap pedang naga. Namun, kosong pedang naga itu menghilang. Sunny sangat terkejut melihat itu.

__ADS_1


...******...


__ADS_2