Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Bab. 65


__ADS_3

Tanpa ada kejadian atau apa lah itu sesuai dengan perkataan dari atasannya dan juga dari mulut Selia sendiri. Pak Johan tersenyum ke arahnya Sleia yang nampak kebingungan dengan pintu tersebut.


Sedangkan Galang selaku pemilik perusahaan tidak bereaksi atau pun berkomentar sedikit pun, malahan tidak terusik dengan keributan dan keramaian yang terjadi di depan pintu ruangannya. Selia hanya tersenyum cengengesan karena ternyata dugaannya salah.


"Kalau gitu makasih banyak yah Pak atas bantuannya!" ucapnya Selia dengan tetap menampilkan senyuman ramahnya.


"Sama-sama Mbak Selia ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami jadi Mbak tidak perlu sungkan," timpal Pak John.


Selia hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Pak Johan. Pak Johan dan rombongannya sudah berlalu dari hadapannya. Dia pun berjalan ke arah dalam ruangan Galang dengan hati yang tidak tenang dan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


Hal demikian itu pun dirasakan oleh Galang pria yang sedari dulu mencintainya dengan setulus hatinya. Galang tetapi berhasil menutupi semua kegelisahan, rasa gugupnya dan rasa dag dig dug der jantungnya dengan baik dan berhasil menetralkan perasaannya secepat mungkin.


Galang hanya melirik sekilas dan sesaat sajake arah Selia dan menyunggingkan senyuman tipisnya yang sulit orang lain untuk lihat senyuman itu yang Sangat mahal. Sehingga Galang sering dijuluki si wajah datar dan kaku oleh orang-orang yang tidak mengenal dekat Galang sedangkan pegawainya tidak ada yang berani.


"Ya Allah ada apa dengan jantungku ini, Aku tidak boleh bersikap seperti ini, Dia suami orang dan aku tidak ingin menjadi orang ketiga dan perusak rumah tangga orang lain," batinnya Galang dengan memegang bagian dadanya yang kebingungan dengan apa yang terjadi padanya.


"Semakin hari wajahnya semakin cantik saja, tapi sayangnya dia istri orang, Aku akan sangat berdosa jika harus hadir di tengah-tengah hidup dan rumah tangga mereka, tapi Aku tidak bisa hidup tanpa hembusan nafasnya, aku tidak bisa dalam sehari saja menjalani hariku tanpa melihat wajahnya," Galang membatin dengan raut wajahnya yang sendu.


Selia duduk di kursi yang ada dihadapan Galang atasannya itu tanpa dipersilahkan terlebih dahulu. Karena sudah berdiri sedari tadi cukup lama. Sedangkan Galang sedikit pun tidak menoleh ke arah Selia yang mematung di tempatnya.


Karena merasa sudah cukup lama di dalam ruangan tersebut tanpa ada yang dia lakukan, hanya memandangi wajah pemilik dan penguasa hatinya itu.


"Maaf pak kata Pak Marcel Bapak menginginkan berkas ini saya bawa langsung ke hadapan bapak dan ini berkasnya Pak," tuturnya Selia yang menyodorkan beberapa berkas tersebut di hadapan Galang.

__ADS_1


Galang hanya diam membisu tanpa sepatah kata pun hanya mengambil berkas tersebut dan langsung memeriksanya dengan seksama dan teliti. Rian pun membubuhi tanda tangan di atas berkas tersebut dan setelah itu langsung menyerahkan kembali ke hadapan Selia.


"Ya elah ini orang apa sih maksudnya, tidak berbicara sedikit pun dan membuatku harus menunggu lama dan duduk diam saja, apa dua tidak tahu kalau pantatku sudah kram duduk sedari tadi bahkan sudah dua jam lebih hanya menatapnya sedang bekerja," umpatnya Selia.


Selia memutuskan untuk pergi dari ruangan itu karena hanya serasa jadi patung saja. Ia baru ingin beranjak dari tempatnya, Galang langsung berucap sepatah kata.


Galang langsung membuka mulutnya untuk bersuara, "Tunggu dan Kamu tidak boleh keluar dari tempat ini sebelum aku perintahkan," ucap Galang yang tidak ingin dibantah sedikit pun.


"Tadi aku disini hanya dicuekin eehh pas mau pergi baru mau angkat bicara," kesalnya Selia yang mengumpat bosnya itu.


Sedangkan Seliaa sudah mulai memperlihatkan wajah kesalnya dan jengkelnya dengan sikapnya Galang yang membuatnya tersenyum sangat tipis.


"Aku menyukai wajahmu yang cantik itu kalau sedang marah-marah dan ngomel-ngomel gak jelas," Galang membatin.


Hingga berjam-jam lamanya Selia masih setia duduk manis di dalam ruangan itu walaupun hati dan perasaannya dongkol dan kesal dengan sikapnya Galang pria yang hingga detik itu masih dicintanya.


"Mungkin mereka sedang berdebat tentang keputusan rapat tersebut apa lagi Selia orangnya sudah terkenal kritis dan tidak mudah terpengaruh untuk merubah hasil kerjanya jika Menurutnya sudah baik," gumam Shasa.


Keheningan terjadi di dalam ruangan itu, hanya jam di dinding yang mampu meramaikan suasana yang tercipta dari mereka. Hanya suara detak jantung yang terdengar hingga ke telinga masing-masing.


Jangan Lupa untuk mampir juga ke novel Aku yg lainnya dengan judul di bawah ini yang ceritanya juga bagus dibanding dengan Kau Hanya Milikku dijamin seru juga loh..


...****************...

__ADS_1



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetiaan Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Pesona Perawan



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..


Tetap Setia Dukung Kau Hanya Milikku dengan cara: like setiap babnya, komentar, gift seikhlasnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan juga yah..


__ADS_2