
Di sepanjang perjalanan air terus mengalir deras dari kelopak matanya,dia merasa dadanya terhimpit beban berat,di sepanjang kehidupannya dia tak pernah menjumpai ibunya semarah hari ini,dia semakin merasa bersalah
"apa aku harus menyudahi penantianku yang tak pasti ujungnya ini,apa aku hanya berkhayal
,khayalan tingkat tinggi yang sewaktu waktu bisa saja menjatuhkanku dan membuat hancur semua harapan dan perasaanku,hingga sulit untuk di pulihkan kembali?" tuan Ali kenapa kau tidak memberiku sedikit tanda hingga aku semakin yakin dengan pendirian ku,kenapa kau tidak memberiku sedikit celah agar aku tidak merasa ragu lagi untuk menuang semua rasaku ini padamu,biar aku bisa memberi tahu dunia dengan begitu yakin bahwa kau akan datang padaku,tapi ini,,,
mungkinkah aku hanya terlalu serakah mengharapkan seseorang yang tak pernah mengharapkan ku?"
Adiba menuju ruangannya dengan langkah tak begitu bersemangat,matanya sembab dan masih tersisa beberapa buku matanya yang basah yang sudah berusaha dia keringkan sedari tadi ,tampak beberapa staf di bawahnya memberi salam dan menundukkan kepalanya
Adiba berusaha sekuat tenaga membalasnya dengan senyum tanpa makna
Dalam keadaan jiwa dan perasaan yang kalut dia tetap berusaha menjadi pekerja yang baik ,dia berusaha fokus pada pekerjaan yang menumpuk di hadapannya,
telpon duduk di sisi kanan meja kerjanya berdering dan bergerak gerak
,dia dengan sigap meletakkan di atas bahu dan di bawah telinganya
"ada yang bisa saya bantu"
"tuan menyuruh Anda keruangannya"
itu suara abil yang memanggil susuai perintah tuannya
"baiklah!"
taklama kemudian Adiba memberi salam,
dia masuk setelah di persilahkan,dia berdiri
di depan meja kerja Malik,
menunduk menyembunyikan matanya yang sembab
"tuan memanggil saya?"
"kenapa suaramu,apa kau sakit?"(Malik masih fokus pada pekerjaannya)
__ADS_1
"tidak tuan"sambil menarik kembali air hidung yang mau keluar,Malik mengangkat kepalanya
karna mendengar adiba,dia memperhatikan wajah Adiba yang tidak seperti biasanya ,
"apa kau menangis?"
"tidak tuan saya hanya kurang tidur"
Abil mulai terharu melihat pemandangan di hadapannya,
" apa saya anak kecil yang tidak bisa membedakan orang menangis dan kurang tidur,bulu matamu saja masih ada yang basah"
idiih,,,sdetail itukah tuan Malik memperhatikannya,sudah lupa muhrim kali ya???
Malik merogoh saku celananya dan memberikan sapu tangan yang sudah lapuk,peninggalan ibunya,sapu tangan itu memang selalu dia bawa kemana mana
sapu tangan itu juga sudah setia menemani Malik 8 tahun di Kairo,ada bekas rajutan juga meskipun sudah tinggal bekas benang benang yang sudah tidak jelas karna saking lamanya,ini pertama kalinya sapu tangan itu di sentuh orang lain
"ini ,muda mudahan berguna,tapi sudah lapuk"
ya Allah pak bos apa tidak kelihatan ya ada tissue wajah teronggok di depan bapak,,kenapa dengan spontan pak bos merogoh celana pak bos?
"apa kau baik baik saja?"Malik panik melihat Adiba semakin menjadi jadi
"apa aku membuat kesalahan,apa kata kataku menyakitimu?,karna kau semakin menjadi jadi saat melihatku
"abil panggilkan ana!" ana adalah staf wanita di bawah adiba
tanpa pake lama abil mengambil telpon duduk yang ad di meja tempatnya menunggu
"saya tidak apa apa tuan"(Adiba)
"permisi"(ana)
"masuklah"
Ana melangkah panik,karna dia tidak pernah di panggil oleh presdirnya itu,apa saya melakukan kesalahan?"(ana)
__ADS_1
dia berdiri tepat di samping Adiba,tanpa menghiraukannya,karna rasa kwatir dan ketakutannya
"tuan memanggil saya ,"
"tenangkan dia dan bawalah dia duduk"
ana memegang kedua bahu Adiba dan mau membopongnya ke sofa dekat jendela yang sedari tadi hanya abil berada di situ
"mari nona !"
"tidak ana, aku baik baik saja,aku hanya salah paham dengan ibuku tadi ,jadi aku terbawa suasana"
Adiba mencoba meyakinkan semua yang ada di ruangan itu,
"baiklah ana kau boleh kembali,maaf telah mengganggumu"Malik,
"baik tuan"
sebelum pergi ana mencoba menjuruskan pandangannya ke abil,selagi tuannya sibuk dengan pekerjaanny,dia mengernyitkan keningnya
karna penasaran dengan apa yang terjadi
abil hanya mengangkat bahunya
"oh iya tuan ,,,anda tadi memanggil saya kesini,apa ada pekerjaan atau ,,,".
" atur pertemuanku dengan CEO ***** nanti jam satu,kalau kau merasa baik baik saja"
" baiklah tuan,kalau tidak ada lagi saya permisi"
"silahkan"
Adiba keluar membawa saputangan
Malik sambil di usap usapkannya ke sisa air di pipinya ,Malik memandanginya sampai dia menghilang di balik pintu
di depannya pintu dia masih berdiri seperti enggan meninggalkan ruangan yang di dalamnya ada sosok yang dia kagumi
__ADS_1
dia msih berdiri dan mengusap usap air matanya.