Kau Mengatur Takdirku Sangat Indah

Kau Mengatur Takdirku Sangat Indah
CEMBURU


__ADS_3

Sambil menggosok gosok rambutnya dengan handuk kecil Malik menghampiri Aliya yang tengah kesulitan memotong kuku di jari kakinya,karna usia kandungannya yang tinggal sebulan lagi,membuatnya semakin kesulitan beraktivitas.malik meraih pemotong kuku dan mengganti aktivitas Aliya,terkejut dengan hal itu dan segera menarik kakinya tapi kemudian Malik menariknya kembali.


"Aku bisa sendiri"


"Aku hanya ingin meringankan bebanmu,bukankah aku suamimu?"


"Suami yang keberadaannya seperti sang bintang,yang hanya bisa kulihat tak bisa ku gapai,tapi tidak apa,ini sudah sangat cukup bagiku,meski kau tak pernah memberikan hakmu,tapi perhatianmu sungguh sudah sangat memberiku kebahagiaan"(Aliya)


"Sudah selesai,kenapa memperhatikanku begitu,bukankah kau sudah setiap hari bersamaku?"


"Eh tidak" Aliya menyudahi lamunannya


" Apa kau bosan?"


"Tidak?"


"Apa kau mau menemaniku?"


"Iya"


"Langsung iya saja,emang kamu tahu aku mau kemana?"


"Tidak"


"Apa kau mau jika aku ajak melompat dari ketinggian?"


Malik menggoda sambil tersenyum kecil


"Karna aku yakin kau tidak akan mengajakku ketempat yang tidak pantas"


"Baiklah aku ganti baju dulu"


Aliya sudah siap dengan hijab dan baju panjang berwarna salem,warna itu membuat pipi Aliya yang putih makin terpancar ronanya,malikpun sudah siap dengan kaos oblong sewarna telor asin,rambutnya sudah rapi dan mengkilat.Malik menghampiri Aliya yang sudah sedari tadi siap dengan tas di depan cermin.


"Apa kau sudah siap?"


"Sudah dari tadi"


"Baiklah kita berangkat"


Pasangan itu keluar menuju mobil,tidak ada abil yang menyetir hari itu.


Tidak ada percakapan apapun,ke uali Aliya yang sesekali mencuri pandang.malik memutar mp3


Yang terlantunkan suara imam Sudais dengan bacaan surat Al Kahfi,membuat suasana dalam mobil terasa semakin tenang,karna suaranya mengajak pikiran dan hati seperti tengah berada di daerah haramain.Tak lama kemudian sampailah mobil itu di pusat perbelanjaan.Malik menghentikan mobilnya di area parkir dan segera turun,kemudian membukakan pintu untuk Aliya


"Kau mengajakku belanja?"


"Ya,khususnya untuk dia" sembari mengusap perut aliya,lagi lagi Aliya di buatnya merasa sesak,karna perhatiannya kepada bayi yang bukan darah dagingnya benar benar tulus.

__ADS_1


Aliya meraih tangan Malik,dan menciumnya.


"Terima kasih sudah berkenan memperhatikan keadaan kami"


"Bukankah aku suami dan ayah dari anakmu?baiklah sekarang kita masuk"


Pasangan itu mulai mencari cari peralatan bayi,mulai dari bedong,baju,aksesoris,dan ranjang,termasuk kereta bayi.kemudian mereka beralih ke bagian aksesoris dan fashion untuk orang dewasa,Aliya hanya terus berjalan tanpa memegang satu bendapun hingga kembali ketempat semula.


"Mana belanjaanmu,apa kau tidak ingin beli sesuatu?"


"Aku tidak tau mau beli apa,karna sekarang aku sudah merasa tidak butuh apa apa lagi"


(Kamu sudah lebih dari yang aku inginkan)


"Oh iya???bukankah Aliya hobi belanja?"


"Sebelum menjadi istrimu,tapi sekarang sudah tidak lagi,bukankah kau pernah bilang setiap seseuatu yang kita beli,itu akan dimintai pertanggung jawabannya kelak?"


"Ya Allah,subhanallah,Aliya,sejauh inikah perubahanmu?"


"Karna kau,kau yang selalu sabar membimbingku"


Malik memeluk tubuh Aliya di tempat yang tidak sedikit pengunjungnya itu,dan tiba tiba ada beberapa orang dengan mic dan kamera menghampiri mereka.aliya memegang tangan Malik bermaksud menghindari orang orang itu,tapi Malik menahannya


"Malik mereka akan mengambil keuntungan dengan hal ini"bisik Aliya ke telinga Malik


"Aliya,sudah hampir satu tahun nda tidak muncul di layar kaca,apa suami anda melarang,dan apa sekarang anda telah berhijrah?atau mungkin ini karna permintaan suami anda juga"


Orang orang itu seperti tidak tahu malu,melontarkan banyak pertanyaan,Aliya menatap wajah Malik,dan Malik tersenyum dan menganggukan kepalanya,memberi isyaroh agar Aliya menjawab pertanyaan pertanyaan itu


"Sepertinya suami anda sangat mencintai anda,di depan umumpun kalian masih sempat berpelukan?"


Pertanyaan itu membuat dada Aliya merasa sesak


"Mohon maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan kalian"


"Ayo Malik kita pergi dari sini!"


Aliya menarik tangan Malik,tapi Malik tetap tak bergeming


"Tuan apa tuan sangat mencintai nona Aliya?apa tuan yang menyuruh untuk off di dunia intertain?apa tuan juga yang memintanya untuk berhijab"


"Dia hijroh dengan keinginan hatinya sendiri,mungkin karena Allah memang telah memilihnya untuk jadi orang yang berhijrah,dan berhenti dari dunia intertain...."


"Aku sendiri yang menginginkannya"Aliya segera meneruskan kata kata Malik yang tergantung


"Karna aku lebih nyaman di rumah,menunggu suamiku pulang kerja,baiklah karna saya sudah menjawab pertanyaan kalian,ijinkan Kami berbelanja"Aliya menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.


Orang orang itupun berlalu dari hadapan Malik dan aliya.

__ADS_1


"Huft....!syukurlah "Aliya menarik napas panjang,tiba tiba kepalanya pusing dan badannya lemes dan lunglai,Malik menangkap tubuh Aliya yang hampir terjatuh.ada banyak keringat di dahinya wajahnya pucat.


"Kau tidak apa apa?"sembari mengusap keringat di dahinya dengan tangannya,karna memang tidak ada tissue di kantongnya.


"Aku tidak apa apa,hanya pengap saja"


"Ayo kita duduk dulu"Malik membopong tubuh Aliya ketempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.malik mengambil tissue yang sudah tersedia di meja dan mengelap sisa keringat aliya.meski sedikit lemah Aliya tampak sangat menikmati perhatian malik.


"Tunggu sebentar ya!"


Malik pergi tak lama kemudian kembali dengan sebotol kecil air mineral di tangan.


"Ini minumlah dulu"


Beberapa menit setelah meneguk air,Aliya merasa sedikit baikan.


"Malik kurasa aku sudah baikan"


"Baiklah aku ke kasir dulu ya, kamu tunggu di sini"


Aliya meng iyakan saja,sambil menggeser geser layar hapenya Aliya tak bergeming dari tempat duduknya,menunggu suaminya yang lumayan lama.kepalanya mulai mencari cari keberadaan Malik,yang tak kunjung muncul.dan akhirnya dengan dua kantong plastik yang ukurannya lumayan besar dia muncul dengan senyumnya yang cukup menenangkan.


"Lama sekali?"


"Sekarang kan Minggu,antri ya lumayan panjang"


"Baiklah sekarang kita pulang"


"Sayang sekali ya,padahal jarang jarang ol ita keluar,giliran keluar kamunya kurang sehat"


"Aku sehat kok,kamu mau kemana?ayo tak temeni"


"Lain waktu aza,setelah ada temen baru,pasti lebih seru"


Aliya seperti terhantam batu besar mendengar kata "teman baru" dari mulut Malik


Suasana wajahnya langsung berubah,dan Malik menyadari hal itu.mungkin itu efek hamil,karna orang hamil itu memang sensitif.malik mengangkat dagunya dan menatapnya dalam,tapi Aliya hanya menunduk tidak berani membalas tatapannya.


"Hi.. calon ibu yang cantik dan solihah!kenapa akhir akhir ini sering merajuk?"


Mendengar rayuan Malik,hati Aliya terasa melayang menembus awan hingga merasa lebih indah dari pada duduk di bulan.karna itu godaan pertama kali yang keluar dari mulut Malik.


Tapi tetap saja,menginginkan adanya teman baru,itu berarti Aliya tidak begitu di beri tempat di hatinya,menurut Aliya ya,bukan menurut author.


"Aku hanya capek,ingin pulang saja"


"Baiklah kita pulang,dan jangan lupa tersenyum itu lebih cantik dari pada cemberut"


Aliya tidak mengindahkan godaan Malik,dia tetap cemberut,hatinya di penuhi rasa cemburu dengan alasan yang kurang jelas.

__ADS_1


__ADS_2