Kau Mengatur Takdirku Sangat Indah

Kau Mengatur Takdirku Sangat Indah
transfer


__ADS_3

Semalaman Aliya tidak bisa nyenyak tidur karna di ganggu oleh mantan pacarnya, yang selalu mengingat ingatkan perihal uang yang harus di transfernya. Setelah melihat keadaan sepi, dengan perutnya yang besar, Aliya mengemudi sendiri mobilnya menuju Bank. Aliya segera menransfer uang sejumlah yang mantan pacarnya minta.


Setelah itu dia kembali kerumah, alangkah terkejutnya dia, karna hampir menabrak pak Irawan di ruang tamu, karna jalannya dengan pikiran kemana mana.


"Aliya, dari mana kamu?"


"Eh, a - aku dari belanja pa."


"Kok gak minta antar sopir?, Dan mana belanjaanmu mana?,"


"Oh,i- itu, ketinggalan di mobil." Seraya menunjuk ke luar


"Kamu kenapa sih, kok gugup gitu?, Apa kamu sedang sakit?,"


"Enggak kok pa."


"Kalau Malik tahu, kamu kluyuran sendiri, pasti dia marah."


"Tolong jangan bilang dia ya pa!" Sambil menelungkupkan ke dua tangannya di depan dada.


Tanpa menjawab, pak Irawan berlalu dari hadapan Aliya. Aliya mengelus dadanya, dan kembali kekamarnya. Dia melempar tas yang di bawanya ke tempat tidur, dan merobohkan badannya.


"Untuk saat ini mungkin aku aman, tapi bagaimana jika dia minta lagi?, Aku harus mencari cara untuk menghentikan niat bejatnya. Tapi bagaimana caranya?"


Sebuah nada yang berasal dari dalam tas, membuyarkan lamunannya. Aliya segera membuka tasnya, dan mengambil telpon gemggam yang mengeluarkan nada tersebut.


Tampak gambar telpon tengah melompat lompat di layar telpon genggamnya. Dia segera menggeser ke atas gambar telpon yang berwarna hijau.


"Halo sayang....kenapa lama sekali ngangkatnya?,"


"Aku sudah transfer ya, jadi sekarang jauhi aku dan keluargaku!" Jawab Aliya dengan nada tinggi

__ADS_1


"Iya, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kok, katn kamu sudah baik banget."


Aliya segera menutup telponnya, dan melempar pelan telpon genggamnya.


"Ya Allah...! Bebaskanlah aku dari masalah ini"


Serunya pelan.


*****


Di tempat duduknya, Malik tampak tercengang melihat notifikasi dari hapenya, yang memberi tahukan bahwa hari ini ada pengeluaran sebesar *********.


"Ya Allah , di buat apa uang sebanyak ini?"


Tapi Malik segera, merubah raut wajahnya, ketika ada seseorang mengetuk pintu. Setelah staf yang mengetuk pintu, selesai urusannya. Malik kembali melihat hapenya. Kemudian dia mencoba menghubungi Aliya. Aliya yang hampir saja tertidur, terkejut mendengar hapenya berbunyi lagi, dia segera mengangkatnya karna tahu panggilan itu dari Malik.


[Assalamualaikum] Aliya mengawali pembicaraannya.


[Waalaikumussalam]


[Aku di rumah, kenapa emangnya?] Aliya pura pura menjawab dengan tenang, padahal rasa paniknya mulai datang,


"Kenapa Malik tiba tiba bertanya keberadaanmu, apa di sedang menyuruh seseorang membuntutiku?" Ucap Aliya dalam hati.


[Aliya, apa kau masih di sana?]


[Iya , iya]


[Apa kau sedang berbohong?]


[Malik, kamu ngomong apa sih, bohong apa sih, aku hampir saja tidur, tapi tiba tiba kau menelpon]

__ADS_1


"Kenapa di matikan?" Grutu malik.


"muda mudahan kau tidak menggunakannya untuk hal hal yang tidak penting. Selama ini aku sudah sangat hati hati mengatur keuangan papa," lanjutnya dalam hati


"tuan!!!"


suara abil membuyarkan lamunannya


"kau????"


"maaf tuan pintunya terbuka, jadi saya masuk saja"


"ya tidak apa apa." sahut Malik, sembari mengurut kedua alisnya ke samping, dengan kedua tangannya.


"sepertinya tuan ada masalah, apa tuan butuh bantuan saya?,"


"ada notifikasi dari bank, uang sejumlah ********** di tarik hari ini."


Malik tanpa ragu memberitahukan masalahnya pada abil, karna memang abillah dari dulu teman untuk mencurahkan seluruh keluh kesahnya.


"apa???"mata abil melotot karna tidka percaya.


"bukankah yang tau semua pin card anda hanya istri tuan?" lanjut abil.


"ya."


"kenapa tuan tidak tanya langsung pada nona?,"


"sudah, tapi dia tidak berterus terang."


"jadi apa yang mesti saya lakukan tuan"

__ADS_1


"aku serahkan hal ini padamu ya, aku tidak mau tahu, dengan cara apa kamu menyelesaikannya."


"baik tuan."


__ADS_2