
kedua mempelai sudah memasuki kamar,
tempat tidur sudah penuh dengan taburan bunga melati dan mawar, hafid mempersilahkan Adiba ,Adiba berjalan menuju meja rias dan duduk di depan cermin
sementara hafid langsung kekamar mandi dan berwudlu,dia melaksanakan shalat Isyak dan shalat sunah dua rakaat,cukup lama dia brdikir seperti dia sudah melupakan keberadaan Adiba di kamar itu ,
setelah selesai dia menghampiri Adiba yang sangat betah duduk di depan cermin sedari tadi Gus hafid menyentuh pundak Adiba
Adiba tersentak sangat terkejut
" astaghfirullah,!'"
" maaf neng jika saya membuat neng terkejut"
" tidak,tidak apa,ada apa Gus?"
" apa neng sedang halangan ,?"
apa apain ini,kenapa dia langsung nanya saya
halangan apa tidak
" saya ,saya,saya su suci" Adiba sangat gugup dan ketakutan menjawabnya
" kenapa segugup itu neng ,saya hanya mau nyuruh neng shalat isya"
syukurlah aku kira,,,,
" kalau sudah selesai capeknya,salatlah
biar hatimu tenang,dan cepat bisa istirahat"
Adiba segera memenuhi perintah suaminya,dia bergegas menuju kamar mandi dan berwudlu
setelah keluar dari kamar mandi dia hanya berdiri mematung di depan pintu kamar
tak kusangka ini benar benar nyata,aku benar benar sekamar dengan dia sekarang
Adiba langkahkan kakinya menuju sajadah yang sudah di gelar hafid
dia berdiri celingukan
" mukenah ya cari di lemari neng"
tegur Gus hafid sepertinya dia tau yang di cari
Adiba
Adiba membuka lemari ,dan ternyata disana
tersedia lengkap dengan beberapa pakaian
beberapa handuk,beberapa piyama,dan beberapa mukena sepertinya sudah di sediakan untuknya
__ADS_1
dia mengambil satu mukena dan satu stel piyama,setelah shalat dia berdiri dengan memeluk piyamanya,Gus hafid yang sedari tadi sudah tiduran di ranjangnya mengamati Adiba sambil tersenyum
" kenapa hanya di pegang?gak di pakai"
kemudian Adiba menuju kamar mandi.
" mau kemana neng ? ganti di sini saja ,sayao kan sudah suamimu,semua yang ada dirimu halal untukku".
Adiba tetap saja meneruskan langkahnya
apa apaan dia ,nyuruh aku telanjang di depannya
selesai ganti baju adiba duduk di shofa
tanpa menyalakan TV, dan tanpa memegang hp, beberapa kali dia menutup mulutnya karna menguap ,Gus hafid sudah memperhatikannya sedari tadi
" sampai kapan kau akan duduk di situ? kemarila!"
" saya ti tidur di sini saja Gus".
" apa ,sebegitu hinakah saya ,hingga istri sendiri enggan berada di dekat saya"
mendengar Gus hafid berkata demikian Adiba
beranjak dari tempat duduknya menuju tempat tidur, tubuhnya gemetar ketakutan keringat dingin bercucuran di tubuhnya
dia berbaring di dekat Gus hafid dan menatap lekat langit langit kamar,bau harum yang berasal dari taburan bunga mawar dan melati sama sekali tidak dia nikmati,petlaha lahan tangan Gus hafid melingkar di perut Adiba,dan wajahnya mendekati leher Adiba
dia menciumi bahu Adiba terus kelehernya dan ketika Gus hafid mau meneruskannya
" mohon maaf Gus saya belom siap"
dan Adiba menggeser sedikit demi sedikit tangan Gus hafid
" baiklah, beristirahatlah,mungkin kau kecapean,"
" terima kasih gu$"
maafkan saya Gus,saya telah berdosa kepadamu,tapi saya belom bisa Gus,saya tersiksa dengan keadaan saya
Adiba menangis dalam kegelapan,Gus hafid menyelimutinya hingga dagunya,tanpa sengaja dia menyentuh pipi Adiba yang basah
" kau menangis?"
" saya hanya teringat ibu dan bapak Gus".
" tidak usah menangis besok kita kesana"
malam pertama berlangsung tidak melakukan apa apa ,mereka berdua hanya larut dalam mimpi masing masing.
*****
Di kamarnya Malik melamun di balik guling
__ADS_1
yang selalu setia menemani kesedihannya
apa yang tengah kau lakukan saat ini,apa kau
sudah bahagia ,Gus hafid orang yang bijaksana,kenapa aku harus memikirkan kebahagiaanmu,sudah pasti kau bahagia bersamanya,dia tidak akan membiarkanmu
bersedih,kini tinggal aku yang tidak bisa melupakanmu,melupakan kesempurnaanmu
biarlah aku hidup dengan bayang bayang kesempurnaanmu,dan semuga saja takdir cepat memperbaiki semua ini,!
"assalamualaikum"
Aliya membangunkannya dari alam bawa sadarnya Malik bangun dan membukakan pintu
" waalaikumussalam,ada angin apa tiba tiba bilang salam"
" sebenarnya apa sih maksudmu tuan Ali,giliran bilang salam heran,gak salam di tegur"
" baiklah ada apa kau kesini?".
" hi,,,tuan Ali apa kau menangis?"
Malik menyentuh pipinya yang benar benar basah kemudian menghapusnya
" tidak aku hanya menguap dan keluar air mata"
" kirain menangis?"
" apa keperluanmu ke sini"
" tidak apa apa , aku hanya mau ngembaliin
ini" membawa handuk yang sudah beberapa hari di kamarnya
" aku sudah tidak tertarik,handuk itu sudah menyentuh badanmu".
"enak saja ,handukmu sudah di cuci oleh
bik Mila tadi,nih ambillah,!" Malin mengambilnya dan menutup pintu kamarnya
tapi Aliya menahannya
" e e e tunggu dulu
pelit amat sih".
" apa lagi".
", terima kasih ya!"
" sama sama,kalau sudah tidak ada lagi aku mau tidur,besok harus kerja"
" baiklah ,good nigh!"
__ADS_1
Malik kembali menutup pintunya dan menjatuhkan badannya di tempat tidur
dia sekuat tenaga membuang bayangan orang yang di cintainya