
Tampaknya Malik sangat betah dengan keterbungkamannya di ruangan aliya,sepertinya dia tidak ingin bertanya tentang keadaan Aliya,merawat dan membantu kebutuhan Aliya dengan tanpa bersuara,itu yang dia lakukan selama berjam jam di rumah sakit,dia lebih sering berinteraksi dengan Kalam Allah dan sesekali memeriksa hapenya,dari pada bicara dengan aliya.
"waduh sepertinya Malik merangsang calon anaknya dengan kalimat Allah"
Malik yang tengah membaca Al Qur'an segera mengakhirinya karna tiba tiba saja Irawan dan Hesti muncul tanpa memberi salam
"ini mama bawain kamu makanan,takut bosan makan makanan kantin rumah sakit"
Hesti meletakkan rantang di meja depan Malik
" kenapa mama repot repot"
"mama gak repot kok,ayo buruan di makan takut ke buru dingin"
Hesti menjawab dengan senyumnya kemudian melangkah menuju Aliya mengekor di belakang Irawan
" gimana keadaan kamu sekarang"
"Aliya sudah baikan kok pa,cuman mual sedikit"
" gak pa pa,dulu ibumu waktu hamil juga sering mual dan muntah,yang penting kamu harus kuat demi cucu papa"
Irawan melihat ke arah Hesti yang di sambut dengan senyum olehnya
" kamu beruntung dalam waktu singkat Allah telah memberimu kepercayaan,tidak seperti saya,yang sampai saat ini belom di percayai,jadi kamu harus benar benar menjaga amanahnya"
Malik yang sedang menikmati makan siangnya,sesekali melihat kearah mereka yang tengah berbincang,tiba tiba seorang dokter dan perawat yang membawa sebuah berkas datang dan menghampiri Aliya
"permisi ya nona"
dokter itu memeriksa bagian dada dan perut Aliya,
" apa masih muntah nona?"
" tidak dokter"
__ADS_1
" pusing?"
" sedikit dok"
" baguslah,kalau tidak ada keluhan lain,saya permisi"
" tunggu dokter"
Irawan menghentikan langkah dokter yang hendak keluar ruangan
" iya tuan"
" kira kira sudah berapa usia kandungan putri saya"
" 6 Minggu pa"
Malik mendahului dokter yang sudah menggerakkan bibirnya ingin menjawab pertanyaan Irawan
" Lo hasil USG kemaren menunjukkan"
Kenapa bapak ini,usgnya kan baru kemaren,entah dia lupa atau bagaimana
usia kandunganny kan sudah 10 Minggu
Irawan merasa aneh dengan Malik,tidak biasa ya kalau lagi ngunyah makanan dia bicara,
" ya sudahlah,bapaknya sudah menjawab kalau begitu saya permisi ya tuan"
" baiklah,terima kasih dokter "
Alhamdulillah, (Malik)
" hi,,,kamu kenapa keringetan gitu"
Hesti mengelap keringat Aliya yang mengembun di dahinya
__ADS_1
" ti tidak apa apa"
Aliya mengalihkan pandangannya ke Malik yang juga tengah mengawasinya,kemudian Malik kembali membuang mukanya
"pa Aliya mau pulang,Aliya bosan di sini"
" tunggu perintah dari dokter dulu,kenapa bosan kan ada suamimu yang selalu menunggumu dengan bacaan ayat suci"
kenapa harus tidak bosan,dia tidak pernah mengajakku bicara
setelah selesai berbincang dengan Aliya,Irawan dan Hesti duduk sofa
Malik menggeser duduknya hingga sangat ke tepi,
" Malik,papa sangat berterima kasih sekali kepadamu,kamu sudah sangat menyayangi Aliya,membimbing Aliya,dan sekarang kalian sudah memberi papa hadiah yang begitu besar"
" bukan kami pa,tapi Allah,Allah yang telah memberikan kita kepercayaan, mungkin Allah percaya bahwa kita bisa menjaga apa yang Allah anugerah kan kepada kita"
Setelah Irawan pamit untuk pulang,ruangan itu kembali sepi,Aliya semakin bosan,hapepun tidak ada di dekatnya, acara TV pun semakin menambah rasa bosan,karna yang di tayangkan cuma berita berita tidak jelas tentang kehidupan selebriti
sampai kapan kau akan mendiami ku
Aliya mencoba bangun dari tidurnya,karna dia merasa ingin BAK,ketika dia mulai menurunkan kakinya,Malik menghampirinya
dan memapahnya serta mendorong tiang infus tanpa bersuara,Aliya menatap sebentar orang yang tengah menempel dengan tubuhnya,tapi Malik seketika membuang pandangannya
" aku bisa sendiri kok"
tanpa menjawab Malik tetap saja melingkarkan tangannya hingga tepat di bawah bagian ketiak Aliya,karn tidak ada jawaban,Aliya pun berjalan dengan perlahan
" tunggu disini saja"
Aliya memasuki kamar mandi,dan meminta Malik tetap di luar kamar mandi,setelah selesai ternyata Malik masih tetap di luar pintu,Aliya berjalan agak cepat dengan mendorong sendiri tiang infusnya,agar Malik
tidak lagi membantunya,malikpun kembali ke tempat duduknya
__ADS_1