Kau Mengatur Takdirku Sangat Indah

Kau Mengatur Takdirku Sangat Indah
CIUMAN TERPAKSA


__ADS_3

Adiba memeriksa semua isi kamarnya,ternyata tetap ,tidak ada yang berubah satupun,g us hafid hanya memandanginya sesekali di sela sela nonton tv nya di tempat tidur,sepertinya adiba melupakan keberadaan gus hafid yang tengah berada di kamarnya,


“uhuk uhuk uhuk” gus hafid sedikit berakting ingin mencari perhatian adiba,seketika adiba meraih air di meja dan memberikannya pada gus hafid,sejenak pandangan mereka bertemu dan tangan gus hafid


tidak sengaja menyentuh tangan adiba yang memegang gelas berisi air,setelah sadar adiba pun menurunkan pandangannya


“hati hati gus,kenapa sampai tersendat”


“ panggillah aku layaknya suamimu,dan bahasamu rubahlah ke bahasa yang lebih formal,”


Menyodorkan gelas yang sudah di minumnya


“ kenapa gus,?


“ya ingin saja,kamu ka n istriku”


“saya tidak….” Menaruh gelas di meja tiba tiba gus hafid merankulnya dari belakang,lagi lagi adiba terkejut,dan seluruh tubuhnya panas dingin karna pelukan gus hafid,adiba menggerak geraksakkkan badannya karna ingin melepa pelukan gus hafid,tapi sayang tangan gus hafid terlalu kuat,


“sayang ……kamarmu ini nyaman …..banget,,,membuat aku jadi ingin…..”


Adiba gemetar dan sekuat tenaga melepas tangan gus hAFID


“gus jenengan ja…”berbalik badanya dan tanpa dia sadari ibunya sedang sembunyi merapatkan badannya kedinding di luar pintu badannya kini tepat berada di depan gus hafid,wajahnya hamper menyentuh wajah gus hafid


,ternyata ada ibu ya?(adiba)


“jangan sekarang ya,,,entar lagi ibu akan panggil kita untuk makan siang”


“baiklah berikan aku seseatu dulu”


“apaan sih gus?”mau mencoba mundur tapi gus hafid merekatkan badan adiba ke badannya


Awas saja ya jika jenengan sampai ngambil kesempatan dalam hal ini,saya akan marah besar(Adiba dalam hati)


“lepaskan gus”


“tidak”


Gus hafid menggerakkan kepalanya ,sebagai isyarah tentang keberadaan ibu,adiba tidak akan menolak

__ADS_1


Karna ibunya sekarang sering sakit sakitan ,dokter bilang adiba harus lebih menjaga perasaan ibu,karna sewaktu waktu ibu bisa saja drop jika terlalu banyak pikiran


“ayolah sayang disini,”menunjuk pipinya,gus hafid benar benar tidak melewatkan kesempatan itu


Adiba melotot tubuhnya tetap saja gus hafid tahan,dengan terpaksa sambil memejamkan mata,adiba mendaratkan bibirnya dipipi gus hafid,


“terima kasih sayang”berbisik di telinga adiba


“sekarang lepaskan” dengan nada yang sudah sedikit tidak sopan adiba juga membisikkak kata kata di telinga Gus hafid


setelah adegan ciuman terpaksa itu,mereka langsung kembali ke shofa,pura pura tidak tahu bahwa ibu sedang berada diluar pintu,barulah setelah itu ibu memanggil mereka untuk makan siang,


setelah agak sore Adiba berpamitan kepada ibunya untuk kembali ke pesantren,karna dia tidak mau Gus hafid makin menjadi jadi mengambil kesempatan ini


“bu sebentar lagi kami pamit ya,,,soalnya ini sudah sore,gak enak sama abah lama lama ninggalin pesantren”


“saya suudah pamit kok sama aba”


(Jenengan memang benar benar ya gus)


“tu kan adiba ,suamimu saja ingin nginap disini,nginaplah barang semalam,ibu masih kangen”


“baiklah bu kami akan nginap,besok sebelum subuh kami pulang”


“iibu senang sekali mendengarnya,kamu ajaklah gus hafid melihat ihat pekarangan rumah,takut dia bosan,sekalian kamu panenin tuh buah kelengkeng di belakang ,sudah banyak yang rontok”


“tapi bu….”


“ayo kalau mau ambil kelengkengnya”


Kamu kenapa sih gus jadi sok bawel seperti ini,biasanya juga pendiam(Adiba)


Tanpa prot es adiba langsung mengambil kresek dan parang kecil ,dengan sedikit cemberut dia menuju pekarangan belakang rumah,dengan di buntuti gus hafid,gus hafid tampak sangat menikmati langka demi langkahnya menuju pohon kelengkeng,matanya tidak melewatkan satupun pepohonan yang tumbuh di pekarangan itu,sampailah mereka di pohon kellengkeng,gus hafid masih tetap tidak bicara apa apa


(Kenapa lagi nih orang dari sering ngomong,sekarang kok kembali ke pengaturan awal?tapi lebih baik begini)


“mana parangnya neng biar saya yang menurunkan “ sambil menatap wajah gus hafid yang tengah memperhatikan buah kelengkeng ,adiba memberikan parangnya,gus hafid meraihnya tanpa membalas tatapan adiba


“ gus….”

__ADS_1


“ya” tetap focus dengan pekerjaannya


Tadi minta di cium,sekaranng saya di cuekin,kenapa aku merasa sakit hati gini di cuekin dia,padahal


Dia bukan siapa siapaku,dia hanya pilihan ibu untuk menutupi malunya ke tetangga


“kenapa jenengan berbohong di depan ibu,padahal njenengan bisa saja kan membongkar semuanya pada ibu”


“ berbohong apa?”


“ saya tadi sempat mendengar pembicaraan njenangan dengan ibu dan bapak,tapi setelah kalian mau bubar ,saya langsung ke kamar pura pura memeriksa semua barang barang saya”


“saya tidak berbohong ,saya bicara apa adanya,kamu memang istri baik, saya tidak perlu mengingatkan mu untuk shalat,untuk menutup aurat,jadi apa yang perlu di katakan tidak baik”


Gus hafid tetap focus dengan pekerjaannya,


“gus….”


“hemmmm”


“kita pulang ya,besok sayakan masuk kerja”


“ besok kita pulang sebelum subuh,saya tau kamu pasti tidak akan bisa absen dari pekerjaanmu,saya hanya coba memberi hadiah kecil buat ibu,kamu jangan kwatir,saya akan tetap menghormati keputusanmu,saya tidak akan menyentuhmu selagi kamu belum siap”


Kamu seperti tukang sulap saja gus,sudah bisa baca pikiran orang


“ baklah ini sudah selesai,sekarang kita kemabali kerumah”


Gus hafid menenteng hasil panennya,dengan di ikuti adiba, sambil berjalan,adiba mengupas dan memakan beberapa kelengkeng yang ada di tangannya,


“emmmm ini sangat lezat,,kelengkeng ini benar benar manis ,apa gus hafid mau”


“ sebaiknya makannya di rumah saja,tidak baik makan sambil berjalan”


Sampailah mereka di rumah,ibu sudah menunggu di kursi taman samping rumah


“wah wah banyak juga ya ternyata,padahal ibu sudah kasih ke tengga sebagian,kalau begitu,masukkanlah ke mobilmu,buat oleh oleh takut ketinggalan”


adiba duduk di samping ibunya,sementara malik meletakkan kelengkeng ke bagasi mobil,dan langsung menuju kamar adiba.

__ADS_1



__ADS_2