
Jarum jam sudah berada di angka 9, Irawan dan Hesti masih setia menunggui Aliya di sofa ruangan itu,Hestipun sudah ketiduran di samping Irawan ,Malik muncul dari balik pintu dengan sebuah kresek putih di tangan
" pa...sebaiknya papa pulanglah,kasian mama sepertinya dia sangat letih"
" tapi aliya?"
" Aliya sudah baik baik saja, dia hanya tertidur,biar saya yang menjaganya"
"baiklah,biar saya nyuruh pak Mus kesini untuk menemani kamu"
"tidak ,tidak usah,saya sudah cukup,lagian banyak perawat yang akan membantu"
" baiklah"
setelah membangunkan istrinya Irawan menghampiri Aliya,mengusap keningnya dan menciumnya,sepertinya dia sudah lupa kapan
adegan seperti itu terakhir kali di lakukannya pada Aliya,semenjak dewasa Aliya jadi berubah,hubungan mereka tidak lagi harmonis,apalagi untuk berpelukakan,bertegur sapa saja jarang,Irawan dan Hesti melangkah menuju ke pintu,sampai di pintu kembali Irawan melihat anaknya yang masih terbujur tak sadarkan diri di ranjang
ruangan Aliya tampak sepi,hanya sesekali perawat yang memeriksa keadaan Aliya,lalu kembali pergi,Malik merebahkan dirinya di sofa,Malik mencoba melihat hapenya yang getarannya sangat sering di rasakannnya sedari tadi,
semua pesan yang masuk hanya seputar GS tidak ada yang lain.
TV tidak di matikan ya meskipun dia sama sekali tidak melihat acara apa yang tengah berlangsung hanya sekedar teman sunyi.
" uhuk uhuk uwek"
suara itu mengagetkan Malik ,dia segera bangkit,dan "puyeng"
tiba tiba kepalanya terasa sangat nyeri,karna ternyata dia baru tertidur,telah di bangunkan oleh suara batuk Aliya
Malik segera menghampiri Aliya,dan mengambil baki yang sudah tersedia di bawah ranjang,tapi ternyata itu hanya mual tidak sampai muntah
tanpa suara Malik mendekatkan baki itu ke dekat mulut Aliya,setelah Aliya berhenti dari mualnya,Malik menyodorkan air yang sudah tersedia dengan sedotannya,Aliya tidak berani melihatnya lama lama karna sepertinya
__ADS_1
keterbungkamannya adalah pertanda dia marah besar,setelah selesai menyedot air,malikpun menaruh kembali air itu tanpa bicara apa apa,dan kembali merebahkan tubuhnya di sofa
kau makin tampan kalau diam begini
kenapa kau mengabaikan ku seperti ini,padahal perutku sakit banget.....
Malik kembali memejamkan matanya,tanpa bertanya kondisi Aliya,karna merasa sangat lapar Aliya mencoba meraih roti yang ada
di dekat botol air mineral tadi,tapi tanpa sengaja tangannya menjatuhkan botol itu,
melihat hal itu Malik menghampirinya kembali,mengbil botol dan roti yang ingin di ambil Aliya,Malik menyobeknya sedikit demi sedikit dan memasukkannya ke mulut Aliya,Aliya hanya berani memandanginya sebentar sebentar saja.
apa sih maksudnya,diam tapi masih peduli padaku ,
"terima kasih"
tanpa menjawab Malik kembali ke tempatnya
usai salat subuh di musolla,Malik kembali ke ruangan Aliya, dia memandangi tubuh Aliya yang masih terlelap,kelopak dan di bawah matanya terlihat menghitam mungkin karna terlalu sering menangis semenjak kehamilannya di ketahui.Malik membuka Alquran di hapenya,dan membacanya dengan tanpa bersuara,karna itulah yang memang sering dia lakukan jika lagi sendiri dan merasa bosan
"assalamualaikum"
"waalaikumu salam,masuklah!"
matahari belum terbit,sekretari sekaligus sahabatnya itu sudah nongol di depan matanya
" pagi pagi benar sudah kesini?"
" iya tuan,sebenarnya sudah tadi malam mau kesini,mau nemeni tuan,tapi karna kecapean mungkin saya ketiduran"
" lagian kenapa repot repot sih"
" saya hanya kepikiran tuan saja"
__ADS_1
" tunggu sebentar ya!"
Malik bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju keluar pintu,tak begitu lama kemudian dia kembali dengan dua cangkir kopi yang masih dengan asap mengembun
"minumlah"
" kenapa jadi tuan yang repot,kenapa gak minta saya untuk membelinya tadi"
" ah sudahlah,jangan main tuan tuanan disini
nikmati saja kopimu"
kedua pria itu menyeruput kopi mereka masing masing,sepertinya sepi Malik terobati dengan kedatangan abil
" oh ya ,selamat ya tuan "
" selamat untuk apa?"
" ah tuan main rahasia rahasian ya sekarang"
" maksudnya?"
" selamat karna tuan akan jadi Abah"
abil tertawa kecil seakan mau ikut menikmati anugerah yang akan di berikan kepada Malik,tapi dada Malik seperti terhantam benda berat dan kerongkongan yang baru saja di lewati kopi hangat dan nikmat berubah menjadi perih dan getir
" terima kasih " Malik mencoba mengikuti alur cerita yang di mulai abil,dia sok bahagia karna akan segera menjadi ayah dari anak orang lain.
biarkan aku Aliya dan Allah yang tahu tentang anak ini,toh anak ini tidak berdosa
dia hanya korban dari orang tua yang tidak bisa membedakan mana nafsu dan cinta
mungkin Allah sangat mpercayaiku sehingga dia menitipkan dua amanah yang berat bagiku
__ADS_1