
Makan malam pun selesai,sebelum beranjak dari tempat duduknya berulang ulang pak lurah memandangi putrinya yang menunjukkan sikap
Aneh sejak sepulang dari masjid
"Nduk,,,,"
Sapah Bu Naning yang tak lain adalah ibunya Adiba,suara Bu Naning membubarkan lamunan Adiba yang masih terpatung di meja makan
"Iya Bu"
"Apa kamu ada masalah di kantor?"
"Tidak Bu"
"Trus ada dengan mu kok tiba tiba sering melamun"
"Malik" UPS kecoplosan dia sembari menutup mulutnya
Perbincangan itu hanya berdua saja karna bapak sudah menghilang karna mendengar hpnya tadi berdering,yang sekali kali pak Mus datang membereskan meja makan
"Siapa?"
"Oh tidak Bu,saya hanya teringat bocah kecil tadi berada di depan masjid dengan menawarkan jualannya berupa gorengan Bu"mengarang cerita meyakinkan ibunya
"Owh,,,,tak kira Malik siapa?,karna sampa
Membuatmu melamun"
Adiba hanya tersenyum tipis
"Jaman sekarang jangan gampang percaya sama orang lain Ndu,karna kadang meskipun
Orang tua mampu,masih memperalat anaknya agar di kasihani orang"sambung Naning memperingati
"Iya Bu" sembari bangun
__ADS_1
"Nduk,,," Bu Naning dengan otomatis menghentikan langkah Adiba
"Iya Bu"
"Guz hafid tadi kesini lagi"
"Deg " dada Adiba seperti terhantam sesuatu
Teringat kembali kejadian 2 tahun silam yang mana Gus hafid datang beserta kiayi dan Bu nyai ke kediamannya.
Adiba dengan santunnya mencium Penggung tangan sang guru yang kedatangannya menimbulkan berjuta tanda tanya di hati Adiba
"Duduklah duk!" Titah beliau
"Enji Bu nyai" serta mendaratkan pantatnya di shofa yang masih kosong di sebelah ibunya
Basa basi kedua keluarg berlangsung tidak begitu lama ,Adiba hanya terdiam dan menunduk mendengarkan percakapan mereka,dan tampak sesekali Gus hafid mendaratkan pandangannya ke Adiba
Dan akhirnya tiba pada intinya
Keringat dingin mulai terasa di punggung Adiba, Adiba sudah mengerti maksud sang kiayi,karna kabar itu sempat viral dulu di pesantren,tapi Adiba menganggapnya hoax saja,karna sampai dia keluar dari pesantren kabar itu tidak benar benar terjadi,tapi sekarang mereka bertiga benar benar ada dihadapannya
Adiba sama sekali tidak menginginkan keinginan kiayi itu terwujud,sepertinya sudah ada sosok lain yang sudah menghuni hat
inya,
"Bagaimana nduk?apa kau sudah siap,kami tidak ingin memaksa" ucap pak lurah bersahaja
Kemudian Adiba memberanikan diri menegakkan kepalanya,sebanyak mungkin dia mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara semampunya,karna dia anggap pernikahan bukanlah mainan,yang bisa rusak dan di ganti kapan saja
"Mohon maaf,untuk saat ini saya masih belom siap,saya masih ingin mewujudkan cita cita saya" ucapnya dengan bibir sedikit gemetar dan peluh bercucuran
Kiayi dan Bu nyai hanya tersenyu,
Sementara ada garis kecewa di raut wajah guz hafid,gadis yang selama ini di impikan masih memberi alasan untuk menolaknya
__ADS_1
"Baiklah nduk,jangan di bawa tegang ,kami disini tidak ingin merampok,jadi kami tidak akan memaksa,jodoh kematian dan rejeki itu Allah yang ngatur,jika takdirmu bersama hafid,sampai kapanpun kamu akan tetap bersama hafid" kiayi menjawab setengah bernasihat,
"Ya Allah bersahajanya engkau guruku,mungkin begitulah kalau orang berilmu,tidak akan gmpang marah" tutur hati Adiba lega
"Nduk,,,"
Seketika buyar lamunan Adiba
"Ibu sengaja tidak memberi tahumu,karna ibu tahu kamu pasti akan tetap dengan jawabanmu,ibu tidk mengerti,apa dan siapa engkau tunggu,kalau boleh kasih saran ,terimalah beliau nduk,,bukankah umurmu sekarang sudah lebih dari cukup,dan Gus hafid
Kurang apa di?,dia pasti akan membawa kedamaian bagimu dan kelurga ini,"lanjut ibu
"Saya masih kurang menikmati karir saya Bu"
"Itu hanya alasanmu saja kan?"
"Saya permisi Bu,masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan" meninggalkan ibu menuju ruang kerjanya
Sekretaris cantik dan berhijab,sungguh beruntung siapapun laki laki yang mendapatkan wanita yang sama sekali keindahan tubuhnya masih belum di sapa laki laki manapun.
Adiba membuka laptopnya dan mulai menggeser geser mos yang ada di tangannya,kembali fikirannya tertuju padsGus hafid,
Lagi lagi lamaran itu mengusik pikirannya,membuatnya tidak fokus dengan pekerjaannya,"kenapa harus aku?"
"Bukankah masih banyak ning Ning dan ustadzah di luar sana yang jauh lebih pantas mendampinginya,sebenarnya aku ingin mempunyai imam seperti beliau,tapi hati ini melarangku dengan keras,karna sudah setia dengan penghuninya"
"Malik,,,,,k" kenapa kau begitu indah,kenapa aku harus tetap setia denganmu,yang bahkan kau tak pernah mengucapkan apa apa padaku,tak pernah sedikitpun memberi tanda padaku,bahwa kau mempunyai rasa yang sama padaku"suara hati Adiba
Dia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dari mulutnya,itu di lakukan nya berkali kali,itulah jurus yang selalu dia pakai jika ingin mengusir pikiran pikiran negatif yang menghantuinya
"Astagfirullah Al adzim,bekerja,bekerja,!apa yang kau pikirkan adiba"grutunya. Sendiri
Kemudian dia kembali fokus pada laptopnya
#bersambung
__ADS_1
Para pembaca setia jangan lupa share ya,lebih lebih pendengar dan pembaca setiaku dulu yang masih di MIFUL,biar para pembaca setiaku dulu yang masih belom menjangkau tulisanku ini,bisa juga menjangkauny🙏🙏🙏🙏