
Seperti tanpa ada rasa benci Malik menghampiri Aliya,dia mengambil nampan yang telah berisi makanan pasien,dia mengambil sendok dan menyodorkan sendok kedepan mulut Aliya,mulut Aliya tetap tertutup rapat,dan memalingkan wajahnya dari wajah Malik
"makanlah,biar cepat sembuh!"
Aliya tetap membisu,dan tidak menghiraukan Malik yang duduk disampingnya
"kenapa kau masih disini,pergilah aku tidak butuh perhatianmu"
Malik tidak menjawab dan tetap dengan keberadaan sendoknya,kara marah Aliya mendorong sendok itu,hingga jatuh kelantai
"kamu tidak dengar ya,aku tidak butuh perhatianmu,jadi pergilah dari sini"
"Jangan pedulikan aku,tapi pikirkanlah papa,dia sangat mengkhawtirkanmu,sudah cukup kau memikirkan kesenanganmu sendiri, pikirkan juga orang orang yang menyayangimu"
Aliya menangis mendengar kata kata Malik,
Malik bangkit dan menghapus air matanya,dia menyuapi Aliya dengan tangannya,akhirnya Aliya membuka mulutnya juga
dua hari sudah Malik dan Aliya bermalam di rumah sakit,dia cukup pantas di juluki suami idaman,atau bahkan suami impian,meskipun dia sudah tahu Aliya sedang mengandung anak orang lain,dia masih saja memperhatikannya dengan baik,dia selalu siaga dengan baki yang di sediakan perawat ,jika sewaktu waktu Aliya mau muntah,bahkan dia dengan tulus mengusap
mulut Aliya setelah Aliya muntah
Tubuh Aliya sudah kembali membaik,tapi hidungnya tetap sensitif,dia sering mual jika mendengar bau tertentu,pagi itu Malik mengupas kan jeruk buat Aliya,dan meminta Aliya memakannya,biar sedikit mengurangi rasa mualnya ,tiba tiba ada orang memanggil salam dari luar
Malik menjawabnya dan mempersilahkannya masuk
__ADS_1
" eh ternyata kau"
" tuan ada berkas penting yang harus anda tanda tangani"
"baiklah,tunggulah di sofa"
abil langsung menuju sofa sesuai perintah tuannya,abil cukup baik menangani GS group,meskipun tanpa Malik
" ini makanlah,aku ke abil dulu"
menyodorkan jeruk yang sudah di kupas
Malik duduk di sebelah abil yang sedang memeriksa berkas yang dia maksud
" bagaiman nona Aliya tuan?"
"syukurlah tuan,saya sampai rindu ingin bicara dengan tuan"
" lebay!" mereka berdua tertawa kecil
abil memang satu satunya orang yang kadang bisa membuat Malik lupa semua problemnya,sesekali Aliya hanya melirik keakraban suaminya dengan skretaris barunya itu
setelah merasa puas berbincang abil kembali ke GS group,dan sore itu Malik mulai mengurus kepulangan aliya dari rumah sakit,
malik sudah tidak sabar ingin menghirup udara diluar rumah sakit,dan tanpa sengaja di tempat parkir mereka bertemu Adiba yang tengah berbusana longgar dan tak satupun lengkukan tubuhnya kelihatan,wajahnya yang terbingkai dengan jilbab hijau daun membuat kulit wajahnya kelihatan sangat bersih,dia sedang di gandeng seorang pria putih dan tinggi di sampingnya Gus hafid tepatnya,pria itu,mereka keluar dari mobil dan menghampiri malik dan aliya.Gus hafid memeluk Malik,dan Adiba hanya menyalami Aliya,dan menelungkupkan kedua tangannya memberi salam kepada Malik,hati Malik berdesir melihat senyum tipis di bibir Aliya yang kemudian tidak menghiraukannya lagi,
__ADS_1
" bagaimana kabar kalian,dan ngapain disini?"
Gus hafid mengawali perbincangannya
"apa ada yang sakit?" lanjut Gus hafid
" istriku,istriku yang sakit Gus"
Malik sedikit malu malu menyebutnya,karna penampilannya sangat jauh berbeda dengan Adiba,rambutnya yang terurai,dan dengan setelan yang serba pas.
" tapi sekarang sudah baik kan,?"
" Alhamdulillah Gus,dan jenengan sendiri ada keperluan apa kesini?"
" entahlah,belom mengerti,Ning katanya tidak enak badan,dia selalu merasa pusing dan mual,jadi umi menyuruh kami untuk periksa,muda mudahan saja tidak ada yang serius"
pada orangpun Gus hafid masih menyebut adiba dengan sebutan neng,dia benar benar menghormati Adiba sebagai istri
" muda mudahan saja Gus,"
"baiklah kalau begitu,kami kedalam dulu,dan kasian istrimu juga lama lama berdiri baru sembuh"
" silahkan Gus"
sepertinya kau sudah bahagia ya ...
__ADS_1
syukurlah kalau begitu,Gus hafid benar benar orang yang tepat untukmu,bahkan dia memanggilmu Ning,meskipun sekedar menjelaskan pada orang lain,tapi apa sebutanku dari mulut Aliya,bahkan dia enggan menyebut namaku