
Setelah bertanya pada resepsionis Adiba menuju ruangan ibunya ,didepan ruangan di tangkapnya dua sosok gadis berjilbab kira kira berumur 15 \- 17 tahunan,dari penampilannya dengan sarung rayon dan atasannya yang sampai lutut mereka terlihat seperti seorang santri,mereka menunduk ingin mencium tangan Adiba namun seketika Adiba menarik tangannya
"ini ruangan ibu kan?"
" Enji bak"
'terus kalian?"
"kami menemani bunyai"
jangan sampai bunyai benar benar ada didalam,dengan pakaianku yang seperti ini,
tertutup semua sih,tapi ini kan serba pas,
" Bu nyai menemani kiayi cek up di spesialis
dalam" lanjut kedua santri tersebut
syukurlah
" saya masuk dulu ya"
"silahkan bak"
sesampainya di dalam Adiba terkejut ,ternyata bunyai ada di dalam berkali kali dia menarik atasannya ke bawah pantatnya,
"assalamualaikum"(mencium tangan Bu nyai)
" waalaikumussalam' kamu sudah pulang?"
" Enji Bu nyai"
kemudian Adiba menciumi tangan ibunya
" ibu kenapa sih Bu?"
"ibu tidak apa apa, temani Bu nyai sana"
" tidak apa apa di sana saja"(Bu nyai)
" apa kiayi baik baik saja?"
" kami kesini cuma cek up,kebetulan tadi pas ketemu bapakmu di resepsionis"
"assalamualaikum"
__ADS_1
suara salam dari luar
mendengar suara itu Adiba semakin degdegan, pakaiannya yang membuat dia tidak nyaman
"waalaikumussalam", jawab mereka serentak
tetnyata itu Gus hafid dan kiayi ,tampak sebuah keranjang buah di tangan Gus hafid
dan dia meletakkannya di laci samping Adiba
"bagaimana kabarnya Ning?"
" Alhamdulillah Gus"
kau begitu gagah Gus tapi kenapa kau masih menunggu orang yang jauh dari sempurna ini,wanita karir seperti aku tidak pantas menjadi seorang Bu nyai
" mi mari kembali,ini sudah sore"(kiayi)
" mari"
Gus hafid diam diam mencuri pandang gadis yang ada di hadapannya,
" baiklah kalau begitu kami pamit ya !
muda mudahan Allah cepat memulihkan kembali"(kiayi)
Adiba berdiri dan mengantar mereka sampai tempat parkir, kedua santri itu berjalan beriringan dengan Diba di belakang
Gus hafid bunyai dan kiyai
"terima kasih atas kunjungannya"
" sama "(hafid)
sebelum masuk ke dalam mobil pandangan mereka sempat bertemu,Gus hafid hanya tersenyum kemudian duduk di belakang kemudi,Adiba kembali ke ruangan ibunya
disana sudah ada bapak yang tengah menyuapi ibunya,seketika Adiba mengambil
bubur yang di pegang bapaknya.
" sini pak biar Adiba yang nyuapin"
ibu tidak bicara apapun selama
Adiba menyuapina, selesai menyuapi
__ADS_1
Adiba dan bapak menyuruh ibu beristirahat
mereka berdua meninggalkan ibu sendiri di ruangan,
" sakit ap ibu pak?"
" ibu hanya banyak pikiran kata dokter,"
" pasti itu jawabannya,apa sih yang di pikirkan ibu"
" nduk ,,,ibumu memikirkan dirimu
umurmu sudah 31 tahun depan dan seusia kamu sekarang sudah pada punya anak
ibumu juga ingin bermain sama cucunya"
" baiklah pak kalau itu mau kalian
nikahkan lah saya dengan pilihan kalian,
tentukan tanggal sesusai keinginan kalian,Adiba ngikut saja,Adiba permisi mau shalat dulu"
melihat putrinya seperti mengucapkan kalimat dengan memendam amarah,pak lurah merasa bersalah,dia melihat punggung putrinya hingga menjadi sebuah titik yang tidak kelihatan lagi
Adiba memakai mukenah yang sudah tersedia di mushalla rumah sakit,dia penuhi panggilan Tuhannya yang tadi berkumandang melalui speaker masjid
ya Allah angkatlah penyakit ibu,pulihkan lah dia kembali seperti semula,dan berilah hamba kekuatan untuk melupakan dia yang kini sudah menjadi milik orang lain,
dan berikanlah hamba keikhlasan untuk menerima jodoh pilihan orang tua hamba
*****
selesai melaksanakan salat Adiba kembali keruangan ibu,dia tidak langsung masuk
karna mendengar bapak seperti membicarakannya dengan ibu
" Bu cepatlah sembuh,jangan selalu berlarut larut dengan pikiran dan omongan orang,kasian Adiba Bu,biarkan dia hidup dengan pilihannya sendiri"
kenapa ibu hanya diam saja apa ibu marah dengan penjelasan bapak? (Adiba)
"baiklah Bu bapak salt dulu,sebentar lagi pasti Adiba kembali"
lanjut bapak setelah lama terdiam,sebelum bapak keluar Adiba masuk
" tuh dia sudah datang,(bapak) jaga ibumu
__ADS_1
bapak salat dulu"